Kominfo Dorong Ekspansi Fintech Jadi Penggerak Ekonomi Digital Indonesia

Jakarta, Gizmologi – Menterian Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate, melihat sektor teknologi finansial (fintech) akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Terlebih dengan banyaknya platform yang terintegrasi dengan layanan dompet digital.

“Salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia adalah sektor financial technology atau fintech yang ekspansi jangkauannya semakin luas, semakin tersebar,” kata Menteri Kominfo, Johnny G. Plate, dalam keterangan pers, Jumat (1/10/2021).

Johnny menilai pelaku industri teknologi finansial memiliki peluang yang besar karena masih ada persen populasi yang belum memiliki akses yang optimal ke layanan perbankan modern. Mengutip studi Outlook Industri Fintech di Asia Tenggara, masih ada 50 persen populasi di enam negara ASEAN yang belum memiliki rekening bank (underbanked population).

Kondisi seperti itu akan menimbulkan tantangan yang semakin besar, apalagi pelaku tekfin di Asia Tenggara juga diprediksi akan mengalami pemulihan ekonomi berupa “K-shaped recovery”. Sehingga, industri tekfin lending bisa menunjukkan prospek yang menjanjikan dari segi jangkauan pendanaan maupun besaran pendanaan.

“Di mana perusahaan-perusahaan yang dianggap lebih sehat dan lebih berkualitas akan mampu mencapai valuasi yang lebih tinggi dalam menerima pendanaan lanjutan, sementara perusahaan-perusahaan yang dianggap berada pada spektrum yang berlawanan akan sulit menarik investasi untuk mendorong upaya pemulihan,” kata Johnny.

Menjangkau 27,2 Juta Masyarakat

Fintech OY! Indonesia

Menurut Kominfo, layanan tekfin lending telah menjangkau 27,2 juta masyarakat pada Agustus lalu atau 10 persen dari populasi. Sektor ini menyalurkan pinjaman total mencapai Rp14,95 triliun tahun lalu, menjadikan Indonesia sebagai negara yang berhasil menarik investasi tekfin terbesar kedua di antara enam negara ASEAN.

Investasi tersebut sebesar 178,48 juta dolar Amerika Serikat atau setara dengan 20 persen dari total investasi tekfin di kawasan ASEAN. Kominfo juga melihat banyak perusahaan tekfin di Indoensia yang semakin kuat dari segi pendanaan, mulai tahap pre-series, early stage hingga late stage.

Meski pun begitu, industri tekfin masih dibayangi ancaman di dunia maya seperti manipulasi korban dengan rekayasa sosial, peretasan informasi dengan metode sniffing dan modus money mule, yaitu pelaku meminta korban mengirimkan uang ke rekening orang lain.

“Geliat ekonomi digital tidak hanya bermanfaat secara makro untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, namun juga bermanfaat secara fundamental untuk menjadi enabler bagi perekonomian yang lebih inklusif dan memberdayakan. Oleh karena itu, ekonomi digital menjadi bagian integral dari agenda transformasi digital nasional kita,” jelasnya..

Tinggalkan komen