Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

Ericsson: Pelanggan 4G LTE di Indonesia Akan Mendominasi di Tahun 2022

Walaupun menawarkan akses internet yang lebih cepat dari sebelumnya, namun bukan berarti adopsi 4G LTE ikut cepat. Menurut laporan terbaru Ericsson Mobility Report 2017, pelanggan 4G LTE di Indonesia akan tumbuh secara signifikan dengan proyeksi cakupan 65% dari total jumlah pelanggan selular, nanti pada tahun 2022.

Sebagai informasi, layanan 4G LTE mulai ada di Indonesia sejak tahun 2013 oleh provider Bolt 4G LTE. Namun karena lisensi yang dimiliki provider milik Internux tersebut terbatas di Jabodetabek, pertumbuhan penggunanya pun tidak bisa cepat. Baru di tahun 2015, operator seluler secara serentak meluncurkan layanan 4G LTE walaupun dengan area yang masih terbatas. Kini, semua operator di Indonesia gencar memperluas jangkauan 4G LTE. Bahkan ada yang sudah lebih dari 200 kota.

Dari sisi pelanggan, pada tahun 2016 silam jumlah pelanggan 4G LTE di Indonesia hanya 10% . Ericsson memproyeksikan layanan tersebut akan mendominasi di tahun 2022 di mana sebanyak 65% pelanggan seluler akan telah menggunakan layanan 4G LTE. Sementara itu di kawasan  Asia Pasifik (APAC) secara lebih luas, LTE akan mewakili 55 persen dari keseluruhan pelanggan seluler pada akhir tahun 2022.

Kendati pertumbuhan pelanggan 4G LTE di Indonesia tergolong lambat, tidak demikian halnya dengan adopsi smartphone. Ericsson memprediksi pada akhir 2017, sekitar 50 persen dari keseluruhan pelanggan selular akan terkait dengan ponsel pintar, dan mencapai 80 persen pada akhir tahun 2022 di kawasan Asia Pasifik.

Indonesia tetap berada di antara 10 negara teratas di dunia dalam kategori penambahan jumlah pelanggan selular, dengan net addition atau jumlah tambahan pelanggan selular bersih lebih dari 10 juta. Serapan ponsel pintar (smartphone) akan menjadi pendorong utama untuk trafik data. Telkomsel lokasi wisata

Aplikasi Lokal Hanya 12%

Sayangnya, tingginya pengguna smartphone tidak dibarengi dengan tingginya pertumbuhan aplikasi lokal. Menurut Ronni Nurmal, Vice President, Head of Network Product Unit, Ericsson Indonesia & Timor Leste, saat ini penggunaan inovasi teknologi  yang populer di Indonesia meliputi perbankan, belanja, transportasi, dan perjalanan online.

“Pasar di Indonesia masih terus didominasi oleh aplikasi selular luar negeri. Karena hanya 12% dari total 100 aplikasi dibuat penyedia aplikasi lokal atau regional,” ujar Ronni.

Related Posts
1 daripada 298

Di sisi lain, menurut Ronni, dengan jumlah yang masih sekecil itu, dianggap menjadi peluang bisnis bagi operator seluler dengan potensi untuk berkembang lebih jauh. Sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan Indonesia yang lebih digital, seperti misalnya aplikasi terkait perangkat terhubung IoT (Internet of Things).

Walaupun sampai saat ini masih belum teradopsi secara luas di masyarakat, namun IoT digadang-gadang bakal menjadi trend digital yang baru, seiring dengan semakin meratanya konektivitas broadband di Indonesia dan negara maju lainnya.

Pada akhir 2016, perangkat segmen IoT short range atau jangkauan pendek akan menjadi tipe utama dari perangkat yang terhubung dengan IoT di Asia Tenggara dan Oseania, dan akan diikuti oleh perangkat seluler. Menurut Ericsson, pada tahun 2022, baik segmen IoT short range maupun selular diperkirakan akan bertahan pada posisinya saat ini.

Karena masyarakat yang lebih maju dan didukung konektivitas memadai, layanan Internet of Things (IoT) akan disambut dengan baik di perkotaan. Konektivitas indoor atau dalam ruangan telah menjadi kebutuhan utama dari layanan ini. Simulasi atas skenario layanan IoT berskala besar yang realistis menunjukkan bahwa hingga 99% perangkat yang berada dalam ruangan dapat dicapai dengan teknologi seluler baru untuk IoT.

Untuk itu, penyedia layanan seluler yang memanfaatkan peluang IoT untuk segmen perusahaan perlu mempertimbangkan peluang bisnis serta kebutuhan konektivitasnya agar bisa menerapkan infrastruktur yang tepat – baik untuk IoT short range maupun konektivitas 5G.

Anda bisa membaca laporan Ericsson Mobility Report dari sudut pandang Indonesia pada slide di bawah ini:

This post is also available in: enEnglish (English)