Jakarta, Gizmologi โย Google dituntut karena fitur Incognito mereka yang ternyata mengumpulkan data pengguna. Fitur incognito merupakan fitur yang dimana pengguna bisa menjelajah internet dengan secara rahasia tanpa menyimpan jejak.
Namun nampaknya rahasia ini tak sepenuhnya rahasia bagi perusahaannya sendiri. Google dituntut atas gugatan class action โjenis gugatan yang mewakili kelompok tertentu atas kesamaan permasalahanโ pada 2020 dan perusahaan harus membayar kerugian sebesar 5 miliar USD atau sekitar Rp79,6 triliun.
Gugatan tersebut menuduh Google menyesatkan pengguna Chrome tentang bagaimana penjelajahan Incognito yang sebenarnya bersifat pribadi. Permasalahan Google dituntut ini sepertinya juga akan berakhir, jika perusahaan mau mengikuti keinginan penggunanya.
Baca Juga:ย Google Maps jadi Aplikasi Navigasi Populer, Bahkan bagi Pengguna iPhone
Karena Fitur Incognito saja bisa Memberikan Dampak ke Hal Lain

Sebagai tanda damai dari Google terhadap gugatannya, mereka akan menghancurkan miliaran titik data yang dikumpulkannya secara tidak benar, memperbarui pengungkapan pengumpulan datanya, dan mempertahankan pengaturan yang memblokir cookie pihak ketiga Chrome secara default selama lima tahun ke depan.
Inisiatif Privacy Sandbox perusahaan sudah dijadwalkan untuk menonaktifkan semua cookie pihak ketiga untuk pengguna Chrome pada akhir tahun. Inisiatif ini akan menggantikannya dengan Topics API.
Topics API merupakan sebuah sistem yang menghindari cookie dengan mengkategorikan aktivitas penelusuran ke dalam topik-topik yang tersimpan secara lokal. Sistem baru ini memungkinkan pengiklan untuk menargetkan iklan kepada pengguna tanpa memiliki akses langsung ke data penjelajahan mereka.
Penghancuran data yang Google maksud juga belum diketahui seberapa efektifnya. Mengingat gugatan tersebut mencakup informasi yang merentang dari tahun 2016. Sehingga masuk akal jika ada asumsi yang mengatakan Google telah menjual sebagian besar data kepada pihak ketiga sejak lama atau memasukkannya ke dalam produk terpisah yang tidak tercakup dalam penyelesaian.
Google juga harus menulis ulang pengungkapan privasinya atas praktik pengumpulan datanya dalam mode Penyamaran. Google mengatakan mereka sudah mulai menerapkan perubahan tersebut.
Perjuangan Google Melawan Gugatan Pengguna Fitur Incognito
Melansir Engadget, pembelaan Google dalam melawan gugatan ialah informasi pengguna fitur incognito bersifat pribadi, bahkan ketika perusahaan memantau aktivitas mereka. Google membela praktiknya dengan mengklaim bahwa mereka telah memperingatkan pengguna Chrome bahwa fitur incognito bukan berarti tidak terlihat sama sekali. Situs-situs yang mereka kunjungi pun masih dapat melihat aktivitas mereka.
Penyelesaian ini pertama kali dilaporkan pada bulan Desember. Gugatan tersebut awalnya meminta ganti rugi sebesar $5.000 atau sekitar Rp79,6 juta per pengguna atas dugaan pelanggaran yang terkait dengan penyadapan federal dan undang-undang privasi California. Google mencoba dan gagal untuk membatalkan tindakan hukum tersebut, dengan Hakim Lucy Koh memutuskan pada tahun 2021 bahwa perusahaan tidak memberi tahu pengguna bahwa mereka masih mengumpulkan data saat fitur incognito aktif.
Penemuan gugatan tersebut termasuk email yang, pada akhir 2022, mengungkapkan kepada publik beberapa kekhawatiran perusahaan tentang privasi palsu incognito. Pada tahun 2019, Kepala Pemasaran Google Lorraine Twohill menyarankan kepada CEO Sundar Pichai bahwa privat adalah istilah yang salah untuk mode incognito karena berisiko memperburuk kesalahpahaman yang sudah diketahui.
โKami terbatas dalam hal seberapa kuat kami dapat memasarkan Incognito karena ini tidak benar-benar privat, sehingga membutuhkan bahasa lindung nilai yang sangat kabur yang hampir lebih merusak,โ ujar Twohill lewat email ke Engadget.
Pengadilan tidak menyetujui kelompok penggugat untuk mendapatkan ganti rugi finansial, sehingga pengguna harus menggugat Google sebagai individu untuk mendapatkan ganti rugi. Hal ini pun digunakan sebaik mungkin oleh sekelompok 50 orang telah mengajukan gugatan terpisah di pengadilan negara bagian California atas pelanggaran privasi tersebut, Kamis (28/3/2024).
Sidang gugatan tersebut awalnya dijadwalkan pada bulan Februari. Penyelesaiannya masih membutuhkan persetujuan akhir dari Hakim Yvonne Gonzalez Rogers dari Distrik Utara California sebelum resmi.
โPenyelesaian ini merupakan langkah bersejarah dalam menuntut kejujuran dan akuntabilitas dari perusahaan-perusahaan teknologi yang dominan,โ ujar Pengacara David Boies, yang mewakili para penggugat.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



