Indonesia menghadapi peningkatan ancaman siber dalam skala yang semakin besar. Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menunjukkan jumlah serangan siber sepanjang 2025 mencapai 5,5 miliar, atau naik 714% dibandingkan rata-rata tahunan pada periode 2020–2024. Tren tersebut berlanjut pada 2026, dengan 1,52 miliar serangan tercatat hanya dalam periode 1 Januari hingga 15 April 2026.
Situasi tersebut menjadi salah satu konteks penyelenggaraan IndoSec 2026, konferensi keamanan siber yang memasuki edisi kesembilan dan akan berlangsung pada 15–16 September 2026 di The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place. Penyelenggara Tradepass menyebut lebih dari 2.000 delegasi dari lebih dari 700 organisasi publik dan swasta akan berpartisipasi, bersama lebih dari 60 penyedia solusi keamanan siber.
IndoSec 2026 didukung oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI), serta Badan Keamanan Laut (BAKAMLA) sebagai Supporting Partners.
5,5 Miliar Serangan Siber dalam Setahun

Skala ancaman menjadi alasan penting mengapa pembahasan keamanan siber tidak lagi hanya berkutat pada perlindungan perangkat atau jaringan perusahaan.
Menurut data BSSN yang disampaikan pemerintah, Indonesia menerima 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat 714% dibandingkan rata-rata tahunan 2020–2024. Pada awal 2026, jumlahnya juga masih tinggi dengan 1,52 miliar serangan tercatat hingga 15 April.
Ancaman tersebut mencakup pencurian data pribadi, penipuan daring, peretasan sistem, hingga serangan yang menyasar lembaga pemerintah, sektor ekonomi, pelayanan publik, dan keamanan nasional.
Dengan semakin banyaknya layanan publik dan aktivitas bisnis yang bergantung pada infrastruktur digital, persoalan cybersecurity juga bergeser menjadi isu ketahanan operasional. Serangan bukan hanya berpotensi menyebabkan kebocoran data, tetapi dapat mengganggu layanan dan infrastruktur yang menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
IndoSec Soroti PDP, Cloud, Ransomware hingga Agentic AI

Konteks tersebut tercermin dalam agenda IndoSec 2026. Berdasarkan materi penyelenggara, sejumlah pembahasan akan berfokus pada penerapan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (PDP), keamanan infrastruktur cloud, serta peningkatan kemampuan incident response.
Agenda juga mencakup perlindungan infrastruktur kritis dari serangan ransomware serta persoalan tata kelola teknologi Agentic AI.
Topik terakhir menjadi semakin relevan karena AI mulai berkembang dari sekadar alat untuk menghasilkan atau menganalisis informasi menjadi sistem yang dapat menjalankan rangkaian tugas dengan tingkat otonomi lebih tinggi. Bagi organisasi, perkembangan tersebut menambah permukaan risiko baru yang perlu diperhitungkan, terutama terkait akses, identitas, data, dan kontrol terhadap tindakan yang dilakukan sistem AI.
Situs resmi IndoSec juga mencantumkan sejumlah tema lain dalam agenda 2026, termasuk digital forensics dan incident response, cyber warfare, Zero Trust Architecture, cloud security, third-party risk management, serta mobile threats dan endpoint vulnerability.
Regulator dan CISO Bertemu di Satu Forum
Salah satu nilai berita IndoSec 2026 terletak pada komposisi peserta yang mempertemukan regulator dengan pengambil keputusan di sektor teknologi dan bisnis. Sejumlah pembicara yang tercantum dalam materi penyelenggara antara lain Rachmad Solik, Direktur Teknologi Informasi Kepabeanan dan Cukai Kementerian Keuangan; Muchtarul Huda dari KOMDIGI; Kolonel Adriansyah Putra Harahap dari BAKAMLA; Arif Ilham Adnan dari KADIN Jakarta; serta Rendra Perdana, Chief Information Security Officer/VP Information Security DANA Indonesia.
Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut menunjukkan bahwa keamanan siber semakin sulit dipisahkan dari persoalan regulasi, operasional bisnis, hingga keamanan infrastruktur nasional.
Bagi perusahaan digital dan organisasi yang mengelola data dalam jumlah besar, keamanan juga harus berjalan beriringan dengan kebutuhan transformasi digital. Migrasi cloud, penggunaan AI, integrasi layanan pihak ketiga, serta meningkatnya ketergantungan terhadap sistem digital menciptakan manfaat sekaligus memperluas area yang harus diamankan.
Selain konferensi, IndoSec 2026 juga akan menghadirkan area pameran yang mempertemukan organisasi pengguna dengan penyedia solusi keamanan siber. Daftar exhibitor yang tercantum dalam materi penyelenggara mencakup sejumlah perusahaan global seperti SentinelOne, Sophos, ManageEngine, Ping Identity, Google Cloud Security, CrowdStrike, Thales, Veeam, Bitdefender, Qualys, GitLab, Tenable, Securonix, Barracuda, Orca Security, serta sejumlah perusahaan dan penyedia solusi lainnya.
Format tersebut memberikan dimensi lain pada acara. IndoSec bukan hanya forum diskusi mengenai ancaman siber, tetapi juga menjadi tempat organisasi membandingkan pendekatan, teknologi, dan solusi yang dapat digunakan untuk memperkuat keamanan infrastruktur mereka. Situs resmi IndoSec menyebut acara ini dihadiri oleh CISOs, CIOs, IT Directors, serta pemimpin bidang risk, compliance, forensics, dan cyber law dari berbagai sektor.
IndoSec Awards Digelar pada Hari Kedua
Rangkaian IndoSec 2026 akan ditutup dengan IndoSec Awards 2026 pada 16 September mulai pukul 16.00 WIB. Penghargaan tersebut akan memberikan apresiasi kepada berbagai pihak di sektor cybersecurity melalui tujuh kategori. Penilaian dilakukan oleh enam anggota juri yang disebut berasal dari kalangan regulator dan pemimpin industri.
CEO dan Co-Founder Tradepass Sudhir Jena mengatakan IndoSec dibangun sebagai forum yang mempertemukan regulator, praktisi keamanan siber, dan penyedia teknologi untuk membahas tantangan keamanan digital Indonesia.
“Setiap negara yang mengejar kedaulatan digital membutuhkan platform tempat regulator, pelindung keamanan siber, dan inovator teknologi dapat bertemu dalam agenda bersama,” ujar Sudhir Jena.
Menurutnya, memasuki edisi kesembilan, IndoSec diarahkan untuk melanjutkan perannya sebagai forum yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun ketahanan dan kedaulatan digital Indonesia.
Bagi Indonesia, relevansi forum semacam ini semakin besar ketika ancaman siber terus berkembang dalam skala dan bentuk. Angka 5,5 miliar serangan pada 2025 dan 1,52 miliar serangan hingga pertengahan April 2026 menunjukkan bahwa tantangan cybersecurity bukan lagi sekadar persoalan teknis di ruang IT, melainkan bagian dari ketahanan layanan digital, bisnis, dan infrastruktur nasional.
IndoSec 2026 akan berlangsung pada 15–16 September 2026 di The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place. Informasi acara dan pendaftaran tersedia melalui situs resmi IndoSec 2026.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

