Jepang menetapkan situasi keamanan sibernya sebagai kondisi darurat setelah serangkaian serangan digital menargetkan perusahaan-perusahaan besar dalam beberapa pekan terakhir. Lebih dari 20 perusahaan dilaporkan terdampak, termasuk jaringan minimarket Lawson dan operator penyewaan mobil Times Car. Serangan tersebut memicu kekhawatiran karena menyebabkan kebocoran data pelanggan dalam jumlah besar.
Salah satu insiden yang mencuat melibatkan JR East, operator kereta api terbesar di Jepang. Sistem pemesanan perusahaan tersebut dilaporkan mengalami kebocoran sekitar 1,67 juta alamat email pelanggan. Secara keseluruhan, berbagai insiden yang terjadi disebut telah mengakibatkan hilangnya puluhan juta data pelanggan, meskipun rincian dampak dari setiap serangan berbeda-beda.
Menteri Keamanan Siber Jepang, Toshiharu Furukawa, menyebut situasi tersebut “sangat kritis” dalam pertemuan di National Cybersecurity Strategy Headquarters (NCSH). Sementara itu, Masaaki Taira, kepala NCSH, menggambarkan kondisi tersebut sebagai keadaan darurat di dunia maya. Sejumlah pakar keamanan siber menilai perkembangan teknologi AI berpotensi ikut memperbesar ancaman, meski belum ada konfirmasi bahwa seluruh serangan terbaru menggunakan AI.
Baca Juga: CEO Microsoft Satya Nadella Ingin Model AI Punya Rem Darurat, Mengapa?
AI Diduga Mempermudah Serangan Siber

Masaki Hiraoka, direktur pelaksana Blackpanda untuk kawasan Asia Timur Laut, mengatakan kepada Financial Times Bahwa AI dapat membantu pelaku kejahatan siber melakukan serangan yang sebelumnya membutuhkan penyelidikan panjang. Teknologi ini berpotensi mempercepat proses pencarian target dan persiapan serangan, termasuk terhadap perusahaan yang sebelumnya dianggap kurang menarik bagi peretas.
Menurut Hiraoka, layanan berskala lebih kecil kini berpotensi menjadi sasaran karena hambatan untuk melancarkan serangan semakin rendah. Namun, dugaan pemanfaatan AI dalam serangkaian insiden tersebut belum membuktikan bahwa teknologi itu menjadi penyebab langsung kebocoran data yang terjadi.
Nobuo Miwa, presiden perusahaan keamanan siber asal Tokyo, S&J Corp, menggambarkan pola serangan terbaru seperti “pengeboman karpet” atau serangan yang dilakukan secara luas terhadap banyak target. Dalam pernyataannya kepada Reuters, Miwa juga menilai AI dapat membantu peretas asing mengatasi hambatan bahasa saat menargetkan perusahaan Jepang.
Insiden Siber Jepang Melampaui Catatan Tahun Lalu
Data TrendAI yang dibagikan kepada Reuters menunjukkan bahwa jumlah insiden keamanan siber di Jepang selama sembilan bulan pertama 2026 telah melampaui total sepanjang 2025. Angka tersebut mengindikasikan bahwa ancaman siber terus meningkat dan tidak hanya terbatas pada satu atau dua perusahaan.
Meski AI berpotensi membuat serangan lebih mudah dilakukan, penyebab setiap insiden tetap perlu ditelusuri secara terpisah. Bagi perusahaan, situasi ini menegaskan pentingnya perlindungan data dan kesiapan menghadapi serangan, sementara kaitan langsung antara AI dan gelombang serangan terbaru masih membutuhkan bukti lebih lanjut.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

