Jakarta, Gizmologi – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (IDX: GOTO) mencatatkan laba bersih Rp252 miliar pada kuartal II 2026, sekaligus mempertahankan tren positif setelah juga membukukan laba pada kuartal sebelumnya. Kinerja tersebut ditopang pertumbuhan pesat bisnis GoPay, kenaikan pendapatan sebesar 31% menjadi Rp5,7 triliun, serta lonjakan Core Gross Transaction Value (GTV) hingga 83% secara tahunan (YoY).
Di tengah perubahan regulasi komisi transportasi online yang mulai berlaku pada Juli 2026, GoTo justru menunjukkan transformasi bisnis yang semakin matang. Untuk pertama kalinya, lini Financial Technology (Fintech) menjadi penyumbang profitabilitas terbesar, melampaui bisnis On-demand Services yang selama ini identik dengan layanan Gojek.
Key takeaways
- Laba bersih: Rp252 miliar
- Pendapatan bersih: Rp5,7 triliun (+31% YoY)
- Core GTV: Rp164 triliun (+83% YoY)
- EBITDA disesuaikan: Rp1,0 triliun (+137% YoY)
- Annual Transacting Users (ATU): 71 juta (+19% YoY)
- EBITDA Fintech (GoPay): Rp481 miliar (+447% YoY)
Berikut lima sorotan utama dari laporan kinerja GoTo pada kuartal II 2026.
1. GoTo Cetak Laba Bersih Dua Kuartal Berturut-turut

Setelah membukukan laba bersih Rp171 miliar pada kuartal I 2026, GoTo kembali mencetak laba bersih Rp252 miliar pada kuartal kedua. Ini menjadi tonggak penting bagi perusahaan setelah beberapa tahun fokus melakukan efisiensi dan meningkatkan profitabilitas.
Tak hanya laba bersih, pendapatan bersih perusahaan juga meningkat 31% YoY menjadi Rp5,7 triliun, sedangkan EBITDA yang disesuaikan tumbuh 137% YoY hingga menembus Rp1 triliun untuk pertama kalinya. Core GTV juga meningkat signifikan menjadi Rp164 triliun, naik 83% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo, mengatakan pencapaian ini menunjukkan strategi perusahaan mulai membuahkan hasil. “Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Hans.
2. GoPay Resmi Jadi Mesin Profit Baru GoTo
Salah satu perubahan terbesar dalam laporan keuangan kali ini adalah bergesernya sumber profit utama GoTo. Untuk pertama kalinya, bisnis Fintech melalui GoPay menghasilkan profitabilitas yang lebih tinggi dibanding bisnis On-demand Services. Hal tersebut menjadi sinyal bahwa strategi diversifikasi bisnis mulai membuahkan hasil.
EBITDA yang disesuaikan pada segmen Fintech melonjak 447% YoY menjadi Rp481 miliar, sedangkan pendapatan bersih naik 53% YoY menjadi lebih dari Rp2 triliun. Di sisi pengguna, jumlah Monthly Transacting Users (MTU) mencapai 28,8 juta, meningkat 29% dibanding tahun sebelumnya.
Aktivitas transaksi pun semakin tinggi. Jumlah transaksi tumbuh 91% YoY menjadi 2,4 miliar transaksi, sementara Core GTV Fintech meningkat menjadi Rp157 triliun. Nilai buku pinjaman juga naik 58% menjadi Rp11 triliun, dengan kualitas kredit yang diklaim tetap terjaga.
Melihat tren tersebut, GoTo menaikkan target EBITDA bisnis Fintech sepanjang 2026 menjadi Rp1,7–1,8 triliun, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar Rp1,4–1,5 triliun.
3. Bisnis Gojek Hadapi Aturan Komisi Baru
Meski perhatian banyak tertuju pada GoPay, lini On-demand Services yang menaungi Gojek masih menunjukkan kinerja positif. Pendapatan bersih segmen ini mencapai Rp3,6 triliun, naik 20% YoY, sementara EBITDA yang disesuaikan meningkat 41% menjadi Rp464 miliar. Jumlah pesanan selesai juga naik 3% dibanding tahun lalu.
Namun, perusahaan mengakui fokusnya kini lebih mengarah pada peningkatan margin dibanding mengejar volume transaksi. Strategi tersebut dilakukan menjelang penerapan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026, yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026 dan menetapkan struktur komisi baru untuk layanan transportasi roda dua daring.
Menurut Hans Patuwo, dampak regulasi tersebut baru akan mulai terlihat pada laporan kuartal III 2026. “Setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil,” katanya.
Sebagai konsekuensinya, GoTo menurunkan target EBITDA bisnis On-demand Services menjadi Rp1,4–1,5 triliun, dari sebelumnya Rp1,7–1,8 triliun.
4. Jumlah Pengguna Terus Bertambah hingga 71 Juta
Ekosistem GoTo juga semakin besar dari sisi pengguna. Sepanjang kuartal II 2026, jumlah Annual Transacting Users (ATU) mencapai 71 juta, meningkat 19% dibanding tahun sebelumnya. Artinya, lebih dari sepertiga populasi dewasa Indonesia kini menggunakan layanan dalam ekosistem GoTo, baik untuk transportasi, pembayaran digital, maupun layanan lainnya.
GoTo juga mencatat pertumbuhan pelanggan dengan tingkat pengeluaran tinggi (affluent) sebesar 21% YoY, yang menjadi salah satu faktor utama peningkatan profitabilitas. Di sisi lain, perusahaan mulai mengalihkan fokus pada produk yang lebih terjangkau untuk menjangkau segmen mass market, terutama setelah aturan komisi baru diterapkan.
5. GoTo Siapkan Pembatalan 32 Miliar Saham Tresuri
Selain mengumumkan hasil keuangan, GoTo juga mengungkapkan rencana membatalkan lebih dari 32 miliar saham tresuri, setara sekitar 2,7% dari total saham beredar. Langkah tersebut masih menunggu persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
Di sisi lain, perusahaan tetap mempertahankan target EBITDA Grup yang disesuaikan sebesar Rp3,2–3,4 triliun untuk sepanjang 2026. Penyesuaian hanya dilakukan pada komposisi kontribusi masing-masing lini bisnis, yakni meningkatkan target Fintech dan menurunkan target On-demand Services sebagai respons terhadap regulasi baru.
Hans menegaskan GoTo juga akan terus berinvestasi dalam ekosistemnya, termasuk memperluas berbagai program bagi mitra pengemudi seperti BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, program beasiswa, hingga umrah gratis. Menurutnya, keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak yang berada dalam ekosistem GoTo.
Ikhtisar Kinerja Grup
| (dalam miliar Rupiah) | Periode tiga bulan yang berakhir 30 Juni | Periode enam bulan yang berakhir 30 Juni | ||||
| 2026 | 2025 | Perubahan YoY % | 2026 | 2025 | Perubahan YoY % | |
| Ikhtisar Operasional | ||||||
| GTV Inti5 | 164.331 | 89.759 | 83% | 302.016 | 172.980 | 75% |
| GTV2 | 271.423 | 152.873 | 78% | 507.739 | 297.433 | 71% |
| Ikhtisar Keuangan | ||||||
| Pendapatan bersih | 5.653 | 4.328 | 31% | 10.994 | 8.559 | 28% |
| EBITDA yang disesuaikan3 | 1.010 | 427 | 137% | 1.917 | 820 | 134% |
| Laba/(rugi) periode berjalan1 | 252 | (375) | n.a | 423 | (742) | n.a |
On-demand Services (Gojek)
| (dalam miliar Rupiah) | Periode tiga bulan yang berakhir 30 Juni | Periode enam bulan yang berakhir 30 Juni | ||||
| 2026 | 2025 | Perubahan YoY % | 2026 | 2025 | Perubahan YoY % | |
| Ikhtisar Operasional | ||||||
| GTV2 | 16.693 | 16.371 | 2% | 33.037 | 32.081 | 3% |
| Mobility2,7 | 5.854 | 6.047 | -3% | 11.567 | 11.946 | -3% |
| Delivery2,7 | 10.839 | 10.324 | 5% | 21.470 | 20.135 | 7% |
| Ikhtisar Keuangan | ||||||
| Pendapatan bersih | 3.593 | 2.987 | 20% | 6.953 | 5.994 | 16% |
| Mobility7 | 873 | 727 | 20% | 1.688 | 1.479 | 14% |
| Delivery7 | 2.720 | 2.260 | 20% | 5.265 | 4.515 | 17% |
| EBITDA yang disesuaikan3,4 | 464 | 328 | 41% | 903 | 642 | 41% |
| Mobility3,4,7 | 290 | 183 | 58% | 570 | 405 | 41% |
| Delivery3,4,7 | 223 | 186 | 20% | 426 | 319 | 34% |
| Biaya korporasi Grup yang dialokasikan | (49) | (41) | -20% | (93) | (82) | -13% |
Fintech (GoPay)
| (dalam miliar Rupiah, kecuali dinyatakan lain) | Periode tiga bulan yang berakhir 30 Juni | Periode enam bulan yang berakhir 30 Juni | ||||
| 2026 | 2025 | Perubahan YoY % | 2026 | 2025 | Perubahan YoY % | |
| Ikhtisar Operasional | ||||||
| GTV Inti5 | 157.326 | 82.224 | 91% | 287.962 | 158.372 | 82% |
| GTV2 | 265.361 | 146.284 | 81% | 495.573 | 284.688 | 74% |
| Nilai Buku Pinjaman6 | 11,026 | 6,985 | 58% | 11,026 | 6,985 | 58% |
| MTUs (dalam jutaan)8 | 28,8 | 22,4 | 29% | 28,2 | 21,5 | 31% |
| Ikhtisar Keuangan | ||||||
| Pendapatan bersih | 2.070 | 1.356 | 53% | 3.979 | 2.562 | 55% |
| EBITDA yang disesuaikan3,4 | 481 | 88 | 447% | 845 | 135 | 526% |
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

