Jakarta, Gizmologi – Demi menaikkan kontribusi sektor ekonomi kreatif khususnya dari sisi ekspor, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) bersama Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kabaparekraf) adakan pelatihan ekspor AKI. Program tersebut digelar khusus untuk para alumni Apresiasi Kreasi Indonesia (AKI).
AKI sendiri pertama kali diselenggarakan sejak 2021. Dan pada 12 Februari kemarin, AKI 2024 resmi digelar sebagai salah satu program strategis Kemenparekraf. Mengusung tema “Kreasi”, AKI diselenggarakan di 12 kota/kabupaten, sekaligus menambah subsektor ekonomi kreatif yakni “gim”. Selain tujuh subsektor ekraf lainnya yang sudah terlibat, di antaranya termasuk aplikasi hingga fesyen.
Namun seperti yang sudah disinggung sebelumnya, program atau kelas ekspor AKI diselenggarakan khusus untuk para alumni dari tahun 2021 hingga 2023, ditujukan untuk membantu mereka dalam pemahaman proses ekspor lebih jauh lagi. Kelas tersebut menggandeng Pusat Pelatihan ESM Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP) yang saat ini telah menjadi pusat pelatihan ekspor dengan lebih dari 80 topik pelatihan dari beragam level.
Baca juga: Gadgetdiva Gelar Pelatihan Digital untuk Komunitas Pelaku UMKM
Kelas Ekspor AKI Diikuti 1200 Pelaku Ekraf

Lebih lanjut, program kelas ekspor AKI 2024 sendiri bakal mencakup beragam aspek pelatihan penting dari ekspor, termasuk prosedur sampai biaya yang terlibat. Untuk peserta yang terpilih, bakal mendapatkan kelas “Manajemen Ekspor Impor Plus Simulasi” yang sudah dilaksanakan sejak 1 Maret lalu, sampai 8 Maret 2024.
Alumni AKI sendiri sudah terkumpul hingga kurang lebih 1200 pelaku ekonomi kreatif. Dan diadakannya kelas ekspor AKI merupakan bagian dari Kemenparekraf untuk membantu pengembangan usaha mereka agar siap masuk ke pasar internasional. Siap menjadi investasi mereka yang ingin memasuki pasar ekspor atau meningkatkan operasi ekspor.

Menparekraf Sandiaga Salahudin Uno mengatakan bila rata-rata alumni AKI telah alami kenaikan omset penjualan sekitar 15-30% setelah lulus dari AKI. Ke depannya, ia menargetkan kontribusi sektor ekraf khususnya dari sisi ekspor bisa mencapai USD25-28 miliar tahun ini.
“Nilai tambah ekonomi kreatif tahun 2023 telah menembus Rp1,415 triliun, di atas target Rp1,300 triliun. Tapi kita punya PR di nilai ekspor ekonomi kreatif di mana ini peluangnya lebih besar sebetulnya,” jelas Sandiaga dalam pembukaan kegiatan kelas ekspor AKI pada Jumat (1/3) lalu. Sebanyak 112 pelaku ekraf alumni AKI telah mendaftar kelas ekspor AKI, paling banyak dalam kategori kuliner.
Juga Turut Perkenalkan Aplikasi Khusus Penyandang Disabilitas

Diadakannya kelas ekspor AKI tentu tidak lain untuk membuat produk-produk dari pelaku ekraf memiliki daya saing lebih tinggi. Sandiaga juga menyebutkan bila selain mampu memberikan dampak penguatan ekonomi, juga mampu menciptakan lapangan kerja baru untuk masyarakat.
Dalam waktu yang bersamaan, Menparekraf/Kabaparekraf juga turut meresmikan peluncuran dari aplikasi Productive+, hadir sebagai media belajar digital (e-learning) khusus untuk penyandang disabilitas di Indonesia. Diharapkan mereka dapat memperoleh kemampuan baru dan mengasah talenta lebih mudah.
Tentunya media pembelajaran digital tersebut juga dapat berkontribusi terhadap peluang pekerjaan sampai membuka peluang usaha baru bagi para penyandang disabilitas, khususnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Aplikasi Productive+ disebut telah diuji coba oleh 1200 penyandang disabilitas, dan diklaim mampu menjadi sarana belajar yang tepat.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



