Wamenkominfo Nezar Singgung Dua Sisi Perkembangan AI di IGF Kyoto 2023

3 Min Read
ilustrasi AI (foto:123rf everythingpossible)

Jakarta, Gizmologi – Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamenkominfo) Nezar Patria mengatakan perlunya kebijakan seiring perkembangan kecerdasan buatan (AI). Hal tersebut disampaikan dalam sesi Global AI Governance and Generative AI – Contribution to Hiroshima AI Process, Internet Governance Forum (IGF) 2023 di Kyoto, Jepang.

Nezar mengakui bahwa AI telah berkembang dengan sangat pesat, tak hanya memberi kemudahan bagi penggunanya. AI juga memiliki risiko, seperti pelanggaran hak privasi dan penyalahgunaan kekayaan intelektual.

“Dalam menyikapi perkembangan AI, perlu ada kebijakan yang mendukung, semisal moderasi konten, keberimbangan dan non-diskriminasi, serta upaya penguatan literasi digital. Ini butuh ditangani secara hati-hati,” ujar Nezar dalam keterangan yang diterima, Selasa (10/10/2023).

Pemerintah, kata dia, memahami tentang pentingnya penanganan dan mitigasi risiko AI, baik dari sisi kebijakan maupun level praktis. Untuk itu Indonesia telah memulai pengembangan ekosistem pemerintahan berbasis AI sejak 2020 lewat beberapa kebijakan yang bersifat nasional.

“Di antaranya Dokumen Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial Republik Indonesia 2020-2045, Klasifikasi Standar Pengembangan Lini Bisnis Pemrograman Berbasis AI, serta UU Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) yang telah mengakomodir pemrosesan data yang kompleks,” tuturnya.

Baca Juga: Kominfo Siapkan Regulasi Buat Pengembangan Adopsi AI

Perkembangan AI dalam IGF Kyoto 2023

Wamenkominfo Nezar di Global AI Governance and Generative AI – Contribution to Hiroshima AI Process IGF 2023

Nezar juga memberikan apresiasi kepada Pemerintah Jepang yang mengangkat urgensi isu AI dalam IGF 2023. “Komitmen terhadap penanganan AI juga kami wujudkan dalam bentuk dukungan atas G20 AI Principle saat Presidensi Jepang dalam KTT G20 empat tahun lalu. Kami juga mengapresiasi upaya Jepang dalam G7 Hiroshima Summit lalu untuk melibatkan berbagai pemangku kepentingan di luar anggota G7.”

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Perdana Menteri Jepang Kishida Fumio menekankan keberimbangan antara pengembangan AI dan regulasi yang mengaturnya.  “Dalam konteks AI, harus ada keberimbangan antara melakukan promosi dan menegakkan regulasi. Hanya dengan demikian AI dapat memberikan manfaat yang luas, juga mengurangi risiko negatifnya,” ucap Fumio.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Vinton G Cerf, yang lebih dikenal sebagai Bapak Internet Dunia. Dirinya memaparkan bagaimana AI perlu dikelola sebagaimana machine learning dapat menghadirkan kualitas materi yang diolah.

“Kita baru dapat mempertimbangkan kualitas AI apabila kita tahu sumber materi yang diolahnya. Teknologi AI juga dapat menghasilkan hal yang tak benar. Jika teknologi memiliki probabilitas untuk benar, maka dia juga memiliki probablitas untuk menjadi salah,” pungkas Vinton.


Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Share This Article

Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Exit mobile version