Jakarta, Gizmologi – Pemerintah Norwegia resmi menuding kelompok peretas Salt Typhoon yang didukung negara Tiongkok sebagai pelaku pembobolan terhadap sejumlah organisasi di negaranya. Tuduhan ini disampaikan lewat laporan terbaru dari Norwegian Police Security Service (PST), yang menyebut serangan tersebut terkait aktivitas spionase siber.
Meski tidak merinci korban atau sektor yang terdampak, laporan itu menegaskan bahwa para peretas mengeksploitasi perangkat jaringan yang memiliki celah keamanan. Metode ini dinilai konsisten dengan pola serangan Salt Typhoon di berbagai negara lain dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan temuan ini, Norwegia menjadi negara terbaru yang secara terbuka mengonfirmasi intrusi yang dikaitkan dengan Salt Typhoon. Sebelumnya, kelompok ini sudah lebih dulu dituding menyerang infrastruktur penting di Amerika Serikat dan Kanada, terutama sektor telekomunikasi.
Baca Juga: Kaspersky: Serangan Rantai Pasokan Notepad++ Ternyata Lebih Panjang dan Kompleks
Pola Serangan Lama, Target Infrastruktur Vital
Salt Typhoon bukan nama baru di radar keamanan siber global. Pejabat keamanan nasional AS bahkan pernah menyebutnya sebagai “ancaman yang mendefinisikan sebuah era”, merujuk pada skala dan dampak jangka panjang dari operasinya. Kelompok ini dikenal bergerak senyap, menanam akses dalam waktu lama, dan fokus pada pengumpulan intelijen strategis.
Di Amerika Utara, Salt Typhoon dituding berhasil menyusup ke jaringan perusahaan telekomunikasi dan mencegat komunikasi pejabat tinggi, termasuk politisi. Serangkaian insiden tersebut memicu tekanan besar terhadap operator telekomunikasi untuk memperketat sistem keamanan mereka, terutama di level jaringan inti.
Kasus Norwegia menunjukkan bahwa pola serangan serupa masih berlanjut. Menurut PST, eksploitasi perangkat jaringan yang rentan menjadi pintu masuk utama, sebuah teknik yang relatif “murah” tetapi efektif jika target tidak melakukan pembaruan keamanan secara disiplin.
Tuduhan Serius, Walau Bukti Publik Masih Terbatas
Di sisi lain, laporan pemerintah Norwegia terbilang minim detail teknis. Tidak ada informasi soal organisasi yang diserang, durasi intrusi, maupun data apa yang kemungkinan diakses. Hingga kini, juru bicara Kedutaan Besar Norwegia di AS juga belum memberikan komentar tambahan.
Dari perspektif diplomatik, situasi ini juga sensitif. Pemerintah China secara konsisten membantah tuduhan spionase siber yang dialamatkan kepadanya, dan biasanya menilai laporan semacam ini sebagai tuduhan tanpa dasar atau bermotif politik. Tanpa bukti teknis yang dipublikasikan, klaim Norwegia berpotensi memicu perdebatan lanjutan di level internasional.
Namun, bagi komunitas keamanan siber, pesan utamanya cukup jelas. Ancaman terhadap infrastruktur digital tidak mengenal batas negara, dan perangkat jaringan yang luput diperbarui bisa menjadi celah serius. Terlepas dari dinamika politik di baliknya, kasus ini kembali menegaskan bahwa keamanan siber kini sudah menjadi isu strategis, bukan sekadar urusan teknis.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
