Jakarta, Gizmologi – Trump sebagai Presiden AS beri izin kepada Nvidia untuk jual chip Nvidia H200 ke Tiongkok. Aturan ini juga datang dengan tarif ekspor 25 persen, yang membuat harga chip tersebut otomatis melonjak. Kebijakan ini jelas menunjukkan bahwa Washington masih ingin memegang kendali, sembari tetap mengizinkan sebagian arus perdagangan berjalan.
Melansir dari Reuters, model kedua tercepat dalam lini AI Nvidia saat ini. Sebelumnya, pasar Tiongkok hanya bisa secara legal mendapatkan chip H20, versi yang dibuat khusus agar lolos aturan ekspor AS. Dengan akses ke H200, kemampuan perusahaan AI China bakal meningkat cukup jauh. Tetapi akses ini tetap dibatasi, terutama karena chip tercepat Nvidia, Blackwell B200, masih tidak boleh masuk China lewat jalur resmi.
Baca Juga: IDC Prediksi iPhone Fold & Dampaknya ke Pasar Foldable Global
Chip Lebih Cepat, Regulasi Tetap Ketat untuk Nvidia H200
Secara performa, H200 berada di level yang jauh lebih tinggi dibanding H20. Beberapa laporan menyebut Nvidia H200 bisa enam kali lebih cepat untuk tugas-tugas tertentu, memberikan lompatan besar bagi perusahaan yang membutuhkan komputasi besar untuk pelatihan model AI. Namun begitu, kesenjangan teknologi tetap terasa karena B200 dikabarkan hampir sepuluh kali lebih cepat daripada H200. Walaupun chip tersebut dilarang, laporan lain mengungkap bahwa lebih dari USD 1 miliar B200 sudah masuk ke China melalui jalur gelap.
Di sisi lain, belum jelas apakah perusahaan China akan benar-benar membeli Nvidia H200 secara resmi, mengingat pemerintah mereka berulang kali meminta perusahaan lokal untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi AS. Faktor biaya juga jadi hambatan besar, karena tarif 25 persen membuat harga chip semakin tidak bersaing.
China Dorong Kemandirian, Tapi Tantangan Masih Besar
China sendiri tengah berupaya mengejar ketertinggalan lewat perusahaan seperti Huawei, yang diklaim ingin menyamai performa chip Nvidia dan AMD dalam tiga tahun. Namun para analis menilai target tersebut masih penuh tanda tanya, terutama karena ekosistem manufaktur semikonduktor China belum sekuat pemain global lainnya.
Kebijakan baru ini memberi ruang gerak tambahan antara dua raksasa teknologi dunia, namun juga sekaligus mempertegas bahwa persaingan AI dan chip akan tetap menjadi salah satu isu geopolitik terbesar dalam beberapa tahun ke depan.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

