Raksasa semikonduktor NVIDIA kembali mencatatkan pertumbuhan tiga digit dari bisnis chip AI. Perusahaan membukukan pendapatan USD96,2 miliar atau sekitar Rp1.709 triliun (kurs Rp17.761) pada kuartal II tahun fiskal 2027, naik 106% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Hampir seluruh mesin pertumbuhan tersebut datang dari bisnis Data Center. Pendapatannya mencapai USD89 miliar atau sekitar Rp1.581 triliun, tumbuh 117% secara tahunan. Dengan kata lain, sekitar 92% pendapatan kuartalan NVIDIA kini berasal dari bisnis yang memasok infrastruktur untuk data center dan artificial intelligence (AI).
Namun, laporan kuartalan terbaru NVIDIA juga membawa sinyal lain. Ketika permintaan infrastruktur AI terus meningkat, perusahaan mulai menghadapi tekanan dari sisi pasokan dan biaya komponen, terutama memori. Kondisi tersebut diperkirakan akan memengaruhi margin NVIDIA dalam beberapa kuartal ke depan.
NVIDIA Proyeksikan Pendapatan Tumbuh 70%
Untuk kuartal III tahun fiskal 2027, NVIDIA memproyeksikan pendapatan sebesar USD108 miliar, plus atau minus 2%. Dengan kurs Rp17.761 per dolar AS, nilainya setara sekitar Rp1.918 triliun. Proyeksi tersebut berada di atas perkiraan rata-rata analis sebesar USD104,19 miliar berdasarkan data LSEG yang dikutip Reuters. NVIDIA juga menyatakan bahwa proyeksi tersebut tidak memasukkan asumsi pendapatan dari bisnis Data Center di China.
Selain itu, perusahaan juga memproyeksi pendapatan perusahaan tumbuh 70 persen untuk tahun fiskal 2028. Jika tercapai, maka pendapatan pembuat chipset itu akan melampaui Apple dan Alphabet. Angka tersebut jauh di atas perkiraan rata-rata analis sebesar sekitar 44 persen, menurut data LSEG yang dikutip Reuters, Kamis (27/8/2026). Proyeksi sejauh 2 tahun ini memang tidak biasa bagi Nvidia. Informasi ini disampaikan langsung oleh Chief Financial Officer (CFO) Nvidia, Colette Kress, saat earnings call kuartal kedua tahun fiskal 2027 pada Rabu (26/8/2026) waktu Amerika Serikat.
Baca Juga: NVIDIA Luncurkan Trading Card ala Pokémon
Berdasarkan konsensus pendapatan tahun fiskal 2027 sebesar 396 miliar dolar AS (sekitar Rp 7.009 triliun), proyeksi pertumbuhan 70 persen ini akan membawa pendapatan perusahaan ke angka 673 miliar dolar AS (sekitar Rp 11.912 triliun) pada tahun fiskal 2028.
Lonjakan finansial yang luar biasa ini didorong oleh permintaan yang masif terhadap teknologi kecerdasan buatan. Dengan skenario tersebut, CNBC mencatat revenue perusahaan yang kini dipimpin oleh Jensen Huang tersebut akan menyalip Apple dan Alphabet, dan di bawah Amazon di antara raksasa teknologi asal AS.
Perbandingan ini memperlihatkan seberapa cepat skala bisnis Nvidia berubah sejak ledakan investasi AI. Namun, posisi perusahaan masih bergantung pada proyeksi pendapatan masing-masing perusahaan dan periode fiskal yang digunakan.
Permintaan Masih Lebih Tinggi

Ada hal yang tidak kalah penting diungkap, di mana raksasa teknologi ini mengatakan angka pertumbuhan 70 persen tersebut masih dibatasi supply. Colette mengatakan, ramalan dari pelanggan menunjukkan pertumbuhan permintaan lebih tinggi. Namun, ketersediaan memory dan berbagai komponen lain masih membatasi seberapa cepat Nvidia dapat meningkatkan penjualan.
Jensen Huang juga mengatakan permintaan yang dilihat perusahaan lebih besar daripada kapasitas yang dapat dipenuhi perusahaan saat ini.
Artinya, setidaknya berdasarkan visibility dimiliki Nvidia saat ini, tantangan jangka pendek perusahaan bukan mencari cukup banyak pembeli untuk mempertahankan pertumbuhan, tetapi menyediakan cukup banyak sistem komputasi untuk memenuhi permintaan tersebut.
Pembeli Chip AI Mulai Meluas

Selama beberapa tahun terakhir, salah satu pertanyaan terbesar terhadap pertumbuhan pembuat chip ini adalah ketergantungannya pada belanja modal segelintir perusahaan teknologi besar atau hyperscaler, seperti OpenAI dan yang lainnya.
Huang mengakui, pada tahap awal pembangunan infrastruktur AI, permintaan memang didominasi “satu laboratorium saja”. Namun kondisi tersebut sudah berubah dan berkembang jauh lebih luas dengan basis pelanggan yang semakin beragam.
Menurut perusahaan, pertumbuhan semakin banyak datang dari kelompok pelanggan yang mencakup AI labs, neocloud, perusahaan, sovereign buyers, hingga pelanggan industri. Nvidia memperkirakan AI labs sendiri dapat menyumbang sekitar seperempat dari keseluruhan bisnis perusahaan pada tahun depan.
Produsen GPU ini juga memperluas kerja sama dengan Amazon Web Services. Keduanya berencana menambah sekitar 2 juta GPU Nvidia di infrastruktur global AWS sepanjang 2027 dan 2028.
Pada saat sama, platform generasi berikutnya, Vera Rubin, sudah mulai masuk produksi. Nvidia mengatakan platform tersebut telah berjalan bersama sejumlah mitra cloud, termasuk Google Cloud, Microsoft Azure, Oracle Cloud Infrastructure, CoreWeave, dan Nebius.
AI Boom Belum Ada Tanda Berhenti
Guidance Nvidia tidak menjamin pertumbuhan 70 persen tersebut akan benar-benar terjadi. Kondisi supply chain, biaya memory, perkembangan pasar China, kompetisi chip AI, dan perubahan belanja infrastruktur pelanggan masih dapat memengaruhi hasil akhirnya.
Perusahaan tidak memasukkan revenue Data Center compute dari China dalam outlook kuartal ketiga karena ketidakpastian terkait pembatasan perdagangan dan pengiriman produk ke negara tersebut.
Tetapi guidance FY2028 memberi gambaran tentang bagaimana Nvidia melihat pasar AI saat ini.
Setelah revenue perusahaan kembali lebih dari dua kali lipat dalam satu tahun, Nvidia belum memperkirakan pertumbuhan kembali ke level normal dalam waktu dekat. Perusahaan justru melihat kebutuhan komputasi AI terus meningkat dan datang dari kelompok pelanggan yang semakin luas.
Untuk saat ini, pertanyaan terbesar bagi Nvidia tampaknya bukan apakah permintaan AI masih ada, melainkan berapa banyak dari permintaan itu yang benar-benar bisa mereka penuhi.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

