Jakarta, Gizmologi – Perubahan besar di industri virtualisasi mendorong banyak perusahaan untuk mengevaluasi kembali strategi infrastruktur teknologi mereka. Kenaikan biaya, perubahan model lisensi, hingga kebutuhan akan fleksibilitas yang lebih tinggi membuat banyak organisasi mulai mencari alternatif baru untuk menjalankan aplikasi dan beban kerja digital mereka.
Dalam kondisi tersebut, sejumlah pelaku industri menilai bahwa migrasi dari platform virtualisasi lama tidak lagi sekadar soal perpindahan teknologi. Perubahan ini dinilai sebagai kesempatan untuk membangun fondasi IT yang lebih modern dan siap menghadapi kebutuhan bisnis dalam jangka panjang.
Salah satu pendekatan yang kini semakin banyak dibicarakan adalah hybrid cloud. Model ini dianggap mampu menjembatani kebutuhan perusahaan yang ingin memanfaatkan layanan cloud modern tanpa harus sepenuhnya meninggalkan infrastruktur yang sudah dimiliki sebelumnya.
Baca Juga: IFSoc dan CSIS Soroti Kesiapan Indonesia Hadapi Era AI
Hybrid Cloud Jadi Opsi di Tengah Transisi

Menurut Red Hat, banyak perusahaan saat ini menghadapi tantangan dalam menentukan arah transformasi infrastruktur mereka. Beralih sepenuhnya ke public cloud memang menawarkan kemudahan dan akses cepat terhadap sumber daya komputasi, termasuk untuk kebutuhan AI yang terus berkembang.
Namun di sisi lain, pendekatan tersebut juga memiliki sejumlah tantangan. Beberapa organisasi masih harus mematuhi regulasi terkait lokasi penyimpanan data, menjaga kedaulatan data, hingga mempertahankan konsistensi operasional yang sudah berjalan selama bertahun-tahun. Karena itu, hybrid cloud dianggap menjadi opsi yang lebih fleksibel karena memungkinkan perusahaan menggabungkan lingkungan cloud dan infrastruktur internal secara bersamaan.
Migrasi Virtualisasi Jadi Peluang Modernisasi
Red Hat menilai bahwa krisis virtualisasi yang terjadi saat ini tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga peluang untuk melakukan modernisasi sistem secara menyeluruh. Dengan pendekatan hybrid cloud, perusahaan dapat menjalankan virtual machine lama, aplikasi cloud-native, hingga workload AI dalam satu ekosistem yang lebih terintegrasi.
Perusahaan tersebut mengklaim jumlah virtual machine yang berjalan di Red Hat OpenShift Virtualization meningkat lebih dari 400% dalam setahun terakhir. Red Hat juga menyebut telah meninjau lebih dari satu juta virtual machine untuk proses migrasi, dengan lebih dari 400 ribu di antaranya berhasil dipindahkan ke platform baru. Meski demikian, keberhasilan transformasi infrastruktur tetap bergantung pada kebutuhan masing-masing organisasi, termasuk kesiapan sumber daya, strategi bisnis, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi yang terus berlangsung.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

