Jakarta, Gizmologi – Indonesia Fintech Society (IFSoc) dengan Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengadakan sebuah workshop dengan fokus kesiapan infrastruktur hingga regulasi yang sudah diterapkan di Indonesia. Hal ini juga mengacu terkait perkembangan AI yang kian semakin masif dan tergolong sukar untuk terkendali.
Dalam forum IFSoc dan CSIS tersebut, sejumlah pembicara menilai bahwa Indonesia masih berada pada tahap awal dalam pengembangan AI. Meski potensi pemanfaatannya sangat besar, mulai dari peningkatan produktivitas hingga transformasi layanan publik dan industri, masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diselesaikan sebelum teknologi ini dapat diadopsi secara lebih luas.
Direktur Eksekutif CSIS, Yose Rizal Damuri, menyoroti pentingnya tata kelola dan kepercayaan publik terhadap AI. Menurutnya, teknologi ini masih dianggap sebagai “kotak hitam” oleh banyak masyarakat sehingga diperlukan mekanisme yang mampu menjamin keandalan dan akuntabilitas sistem AI yang digunakan.
Baca Juga: Bronyx AI, Platform Autonomous Penetration Testing Buatan Indonesia Besutan ITSEC Asia
Infrastruktur dan Komputasi Jadi Tantangan Utama

Ketua Steering Committee IFSoc, Rudiantara, menyebut bahwa manfaat AI tidak hanya terbatas pada sektor jasa keuangan, tetapi juga berbagai sektor strategis lainnya. Namun, ia menilai Indonesia masih menghadapi tantangan berupa ketimpangan infrastruktur digital dan kesiapan pasokan listrik untuk mendukung pusat data maupun komputasi berskala besar.
Pandangan serupa juga disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria. Ia menjelaskan bahwa fokus pengembangan AI saat ini tidak lagi sekadar membangun aplikasi, tetapi juga memperkuat kapabilitas komputasi melalui GPU, chip, serta infrastruktur data center. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang berpotensi mendukung rantai pasok industri chip, meski nilai tambah pengolahannya masih banyak dinikmati negara lain.
Regulasi dan Keamanan Jadi Perhatian
Selain infrastruktur, aspek regulasi dan keamanan menjadi topik penting dalam diskusi. Nezar menyoroti meningkatnya ancaman kejahatan berbasis AI seperti deepfake, voice cloning, hingga phone cloning yang berpotensi merugikan masyarakat maupun industri.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif KSLK OJK, Djoko Kurnijanto, menilai AI dapat membantu lembaga jasa keuangan menghadirkan layanan yang lebih cepat dan efisien. Meski demikian, penerapannya harus dibarengi tata kelola yang baik, perlindungan data, mitigasi risiko, serta mekanisme pertanggungjawaban yang jelas. Melalui dialog lintas sektor seperti ini, IFSoc dan CSIS berharap Indonesia mampu membangun ekosistem AI yang berdaulat, inklusif, dan tetap mengutamakan perlindungan masyarakat.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

