Jakarta, Gizmologi – Spotify kembali menyesuaikan harga langganan Premium di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Estonia, dan Latvia. Kenaikannya terlihat kecil di atas kertas, namun tetap menambah panjang daftar layanan digital yang makin mahal dari waktu ke waktu.
Untungnya, hingga artikel ini dibuat Sportify Indonesia belum mengisukan terkaiyt kenaikkan harga. Maka dari itu, kenaikkan harga Spotify Premium masih dirasakan oleh para pengguna di area AS, Estonia, hingga Latvia.
Mulai siklus tagihan Februari, pengguna Premium di AS harus membayar US$12,99 per bulan, naik satu dolar dari sebelumnya. Paket Duo, Family, dan Student juga ikut terkerek naik, dengan selisih satu hingga dua dolar per bulan.
Tindakan ini disebut sebagai penyesuaian berkala yang mencerminkan nilai layanan. Namun dari sudut pandang pengguna, kenaikan yang berulang justru menimbulkan pertanyaan soal batas toleransi konsumen terhadap model langganan.
Baca Juga: Cek Keunggulan MediaTek Dimensity 9500s, Tawarkan Daya Lebih Awet
Kenaikan Harga dan Dalih Nilai Tambah

Spotify menyatakan bahwa pembaruan harga diperlukan agar mereka bisa terus menghadirkan pengalaman terbaik, sekaligus mendukung ekosistem kreator. Narasi ini bukan hal baru dan hampir selalu muncul setiap kali harga langganan dinaikkan.
Memang, Spotify terus menambah fitur, mulai dari podcast eksklusif, audiobook di beberapa wilayah, hingga peningkatan kualitas rekomendasi. Dari sisi produk, ada argumen bahwa layanan ini lebih matang dibanding beberapa tahun lalu.
Namun, klaim bahwa kenaikan harga akan langsung menguntungkan artis kerap disalahpahami. Skema pembayaran royalti Spotify tidak bekerja secara linier per dolar langganan. Artinya, tambahan biaya yang dibayar pengguna tidak otomatis mengalir langsung ke kantong musisi.
Kecil Nominalnya, Besar Dampaknya

Secara nominal, tambahan satu atau dua dolar per bulan mungkin terasa sepele. Masalahnya, Spotify bukan satu-satunya layanan yang melakukan hal ini. Ketika digabung dengan platform streaming video, cloud, dan aplikasi produktivitas, beban langganan bulanan bisa terasa signifikan.
Bagi Spotify, risiko terbesarnya bukan reaksi sesaat, melainkan kelelahan pengguna terhadap kenaikan harga berulang. Di pasar yang semakin kompetitif, alternatif gratis atau layanan musik lain selalu tersedia, meski dengan kompromi tertentu.
Kenaikan harga ini mungkin tidak langsung memicu gelombang berhenti berlangganan. Namun jika Spotify gagal menunjukkan peningkatan nilai yang benar-benar terasa, kesabaran pengguna bisa habis lebih cepat daripada yang diperkirakan.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



