Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Raih Pendanaan dari Surge-Sequoia, BukuKas Siap Digitalisasi UMKM Indonesia

1 716

Besarnya jumlah pedagang berskala mikro, kecil dan menengah di Indonesia membuat sejumlah perusahaan rintisan mulai serius menggarap pasar ini. Tak terkecuali startup aplikasi pengelola keuangan digital BukuKas. Startup ini didirikan oleh Krishnan M Menon dan Lorenzo Peracchione pada pada Desember 2019.

Belum lama didirikan, BukuKas langsung mendapat pendanaan awal (initial funding) dari Surge, sebuah program akseslerasi milik Sequoia Capital India. Sebagai informasi, Sequoia Capital adalah salah satu investor utama GoJek. Selain itu, sejumlah venture capital mentereng seperti Credit Saison, Hustle Fund, Whiteboard Capital, 500 startup dan sejumlah angel investor turut berpartisipasi dalam pendanaan yang sayangnya tidak disebutkan nilainya tersebut.

Dengan pendanaan awal ini, BukuKas akan fokus untuk memperkuat bisnisnya dalam mendukung Usaha Mikro, Kecil & Menengah (UMKM) Indonesia. Startup ini berupaya memahami dan mengatur alur keuangan UMKM secara lebih efektif dengan pembukuan digital yang gratis, inovatif, aman dan mudah digunakan.

CEO dan Co-Founder BukuKas Krishnan M. Menon mengatakan sebelum meluncurkan BukuKas pihaknya telah melakukan riset mendalam yang melibatkan ribuan pedagang kecil dan mikro di Indonesia. Tujuannya, untuk memahami pain point atau permasalahan mereka.

“Kami percaya bahwa semua orang berhak mendapatkan servis dan produk finansial terbaik untuk setiap kebutuhan finansial dan aspirasi individu, terlepas dari kekayaan yang mereka miliki.  Misi kami pada akhirnya adalah untuk memberdayakan 56 juta pedagang mikro lewat platform BukuKas, menjadikan mereka bagian dari kisah pertumbuhan yang menginspirasi yaitu Indonesia,” kata Menon.

Menon menambahkan misi BukuKas sejalan dengan upaya pemerintah Indonesia dalam mendigitalisasikan UMKM, yang disebut sebagai tulang punggung ekonomi Asia Tenggara.  “Kami sadar jika hal paling menyulitkan para pedagang adalah bagaimana mengatur uang mereka, memahami arus laba dan rugi mereka.  Usaha kecil ini bisa sangat diuntungkan dari mendigitalisasikan keuangan mereka,” kata dia.

Dalam beberapa kesempatan, Presiden Jokowi sendiri telah menyebutkan jika UMKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia dan ASEAN, dengan mewakili lebih dari 88% dari jumlah total bisnis dan mempekerjakan lebih dari 51% dari total jumlah tenaga kerja di kawasan tersebut.  Namun, sebagian besar pemilik bisnis kecil masih melakukan pencatatan aktivitas keuangan mereka dengan pulpen dan kertas.

Baca juga : Ini yang Dilakukan Grab dan Microsoft untuk Digitalisasi UMKM di Indonesia

Fitur Aplikasi BukuKas

aplikasi bukukasAplikasi mobile BukuKas yang tersedia untuk pengguna Android menawarkan solusi pembukuan yang sederhana dan inovatif bagi UMKM. Aplikasi ini bisa memonitor penjualan, keuntungan dan kredit. Bahkan mengirim pesan pengingat pembayaran lewat WhatsApp kepada para pelanggan ketika kredit jatuh tempo agar pelunasan dapat dilakukan tepat waktu. Hal itu memungkinkan pemilik usaha kecil untuk menghemat 40 menit setiap harinya dan Rp76.000 setiap bulannya, menghindarkan mereka dari proses kalkulasi manual dan penyelarasan saldo yang merepotkan.

Terlebih lagi, mereka mendapat gambaran yang lebih baik tentang apa yang mendorong profit dan arus keuangan mereka, sehingga memungkinkan mereka untuk terus meningkatkan performa bisnisnya secara aktif.  Aplikasi ini telah digunakan oleh berbagai macam industri UMKM termasuk fashion, F&B, elektronik dan konter pulsa/handphone.  Banyak dari mereka adalah pebisnis muda yang biasa menjual secara online di sejumlah platform media sosial seperti Whatsapp dan Instagram, selain lewat jalur tradisional secara offline.

BukuKas memainkan peran penting dalam membantu mereka menjadi lebih terstruktur, efisien dan stabil serta memiliki banyak layanan untuk lebih lanjut membantu para penjual melancarkan bisnis mereka.

Dari Januari hingga Maret 2020, jumlah pedagang yang menggunakan BukuKas tumbuh 20 kali lipat dan angka transaksi meningkat 60 kali, dengan sebagian besar pedagang menggunakan produk ini beberapa kali setiap harinya.  Hingga April 2020, BukuKas melayani lebih dari 250.000 pedagang yang telah mencatatkan transaksi senilai 150 juta dolar AS (setara dengan 2,26 triliun rupiah).

Pembatasan sosial yang diberlakukan untuk memerangi COVID-19, sangat mempengaruhi bisnis mikro, khususnya mereka yang sangat bergantung kepada kanal online.  Banyak dari mereka, sebagai akibatnya, mengintensifkan usaha mereka ke kanal digital. BukuKas membantu mereka untuk mendapat pemahaman dan kendali yang lebih baik di masa-masa sulit ini.  Menyadari tantangan yang dihadapi pemilik bisnis kecil, perusahaan ini merencanakan kampanye penggalangan dana untuk mendukung para pedagang yang mengalami kesulitan.

Baca juga : Gandeng Akseleran dan Avantee, Bhinneka Bantu UMKM Naik Kelas

Dalam jangka panjang, perusahaan ini berencana untuk mempercepat proses inklusi keuangan dan digitalisasi UMKM di Asia Tenggara, mulai dari Indonesia. Mereka akan memperluas penawaran produk mereka, termasuk menghadirkan layanan neo-banking, untuk membawa populasi tanpa akses perbankan yang besar ini di Asia Tenggara ke dalam ekosistem finansial melalui solusi perbankan digital yang inovatif dan berpusat kepada pelanggan (customer-centric).