Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Mengenal Pable, Startup Pengolah Limbah Tekstil Asal Surabaya

0 98

Banyaknya sampah tekstil yang berakhir di tanah dan tidak dapat diurai, menggelisahkan dan membuat pencemaran lingkungan semakin parah. Hal inilah yang dirasakan oleh Aryenda Atma, dengan mendirikan startup pengolah limbah tekstil bernama Pable.

Setelah mengundurkan diri sebagai public relation di perusahaan komputer terkemuka, ia kembali ke Surabaya dan tahun 2020 ini mendirikan Pable. Startup yang dibesutnya ingin menjawab permasalahan dari sampah, khususnya sampah tekstil. Di mana mengutip dari majalah National  Geographic, Maret 2020, dari 57% sampah yang ada di Jakarta, sekitar 8,2% nya merupakan limbah tekstil.

Ia meyakini kehadiran Pable mampu menawarkan alternatif baru dalam memproduksi dan mengonsumsi suatu produk. Salah satunya dengan mengadopsi konsep ekonomi sirkular. Bentuk ekonomi ini bertolak belakang dengan bentuk ekonomi dominan dunia yaitu ekonomi linier yang merupakan salah satu penyebab utama limbah tekstil yang menjadi perhatian utama kami. Informasi yang terdapat dalam Indonesia Circular Forum, menunjukkan 470.000 ton tekstil terbuang percuma selama proses pembuatannya.

Pable Daur Ulang Sampah Teksil Industri

Aryenda Atma, Founder Pable
Aryenda Atma, Founder Pable

“Kami sangat percaya bahwa Pable dapat menghadirkan alternatif baru dalam mengonsumsi sebuah produk. Di sini kami mengolah limbah tekstil, menjadikannya benang daur ulang, serta memprosesnya kembali menjadi barang baru,” ujar Atma.

Dari hasil daur ulang sampah tekstil industri Pable menghasilkan beberapa output seperti kain tekstil siap pakai yang dapat diaplikasikan menjadi pakaian, ataupun produk zero waste yang dapat dijual kembali seperti pouch, keset, serbet, karpet, alas piknik hingga keranjang. Memproduksi tanpa limbah, itulah tujuan Pable.

Kini masyarakat memiliki pilihan untuk  lebih bijaksana dalam menggunakan produk hasil daur ulang dan memperpanjang masa penggunaannya. “Tak hanya itu, mereka juga bisa turut bertanggung jawab akan kelangsungan bumi dengan cara yang lebih ramah,” tambah Atma.

Konsep Kembali ke Desa dan Target 2022

proses tenun pableKonsep Kembali ke Desa menjadi cerita yang tidak terpisahkan dan membawa Pable untuk mencari desa-desa di Jawa Timur, agar dapat memproses benang daur ulang menjadi lembaran-lembaran kain tenun secara manual. “Misi kami sangat sederhana, pemberdayaan masyakarat lokal sekitar dan membantu perekonomian warga, terutama bagi mereka yang terdampak pandemi Covid-19,” ucap Atma.

“Ke depannya, Pable akan mempersiapkan pengolahan limbah post consumer recycled yang merupakan limbah rumah tangga berbahan dasar kain melalui sistem drop box,” sebut Atma. Target kami, sistem drop box dapat mulai dilakukan di tahun 2022.

Saat ini Pable membuka kesempatan bagi semua pihak untuk ikut andil dalam gerakan tersebut dan menjadi Depo untuk menerima sampah tekstil masyarakat dan mensosialisasikan sistem textile waste recycle.