Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Riset LD FEB UI: Fintech “Pinjol” Diminati Milenial dan Industri Kreatif

0 453

Untuk pertama kalinya, hasil studi kasus yang mengukur dampak sosial dan ekonomi fintech lending di diumumkan. Hasil Riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) ini menemukan bahwa kehadiran fintech lending telah berkontribusi pada peningkatan inklusi keuangan milenial. Terutama kelompok usia 35 tahun yang merupakan cakupan populasi terbesar di Indonesia saat ini.

Pinjaman dari fintech lending dianggap menjangkau berbagai sektor produktif dalam perekonomian mulai dari pertanian, manufaktur, dan jasa. Temuan ini menyiratkan peran dari fintech lending – atau lebih populer dengan sebutan pinjaman online (pinjol) – dalam mendukung sektor keuangan yang inklusif secara digital.

I Dewa Gede Karma Wisana, Wakil Kepala LD FEB UI, mengatakan kontribusi yang semakin besar dari fintech lending menunjukkan bahwa teknologi mampu mempercepat inklusi keuangan. “Terbukti, sektor yang memiliki akses terbatas ke kredit, misalnya jenis bisnis yang layanan dan pertanian kini dapat berpartisipasi dalam pinjaman digital peer-to-peer,” ujar Dewa Gede, saat konferensi pers  bertajuk “Dampak Sosial dan Ekonomi Fintech Lending di Indonesia (2/7).
Baca juga: INDODAX Luncurkan Situs Transaksi Bitcoin Instan, Cepat dan Mudah

Studi Kasus Hanya Investree

Riset yang dilakukan pada Desember 2019 ini diklaim sebagai jenis studi kasus pertama yang mengukur dampak sosial dan ekonomi fintech lending di Indonesia. Namun riset ini hanya mengambil sampel dari Investree yang dianggap sebagai perusahaan pionir fintech lending. Sehingga boleh jadi tidak bisa memotret kondisi industri fintech secara umum, kecuali jika memang ini sifatnya adalah sponsorship.

“Kami mengambil sampel dari ekosistem Investree karena Investree merupakan pionir dari perusahaan fintech lending di Indonesia dan telah mendapatkan izin dari OJK. Selain itu, Investree juga fokus pada pembiayaan untuk UKM yang merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia,” jelas I Dewa Gede Karma Wisana.

Pada riset ini, LD FEB UI menggunakan metode wawancara tatap muka dengan 261 Borrower yang dipilih secara acak dengan cakupan wilayah Jabodetabek (77%), Jawa Barat (15%), dan Jawa Tengah dan Jawa Timur (8%). Jika melihat tipe pinjaman, Borrower dengan tipe online seller financing adalah yang paling banyak menjadi responden dalam riset ini yakni sebanyak 62%, dilanjutkan dengan tipe invoice financing (32%), dan working capital term loan (6%).

SMS Blaster fintech online

Industri Kreatif Banyak Pakai Fintech Lending

Ada temuan menarik dari riset tersebut. Ternyata, banyak peminjam yang bergerak di bidang industri kreatif di mana 24% dari Borrower Investree adalah para pelaku industri kreatif. Di mana 15% di antaranya mengalami peningkatan pendapatan antara 30% – 50% setelah memperoleh pinjaman dari fintech lending. Kemudian, sebesar 52% dari industri kreatif yang meminjam di Investree menggunakan layanan invoice financing dilanjutkan dengan tipe online seller financing (33%), dan working capital term loan (15%).

Hal ini menurut I Dewa Gede Karma Wisana, karena industri kreatif memang sedang menjadi primadona apalagi di kalangan generasi milenial. Tercatat terdapat 16 sub-sektor industri kreatif seperti konsultan atau periklanan, desain komunikasi visual, dan arsitektur yang sedang berkembang saat ini sehingga pinjaman dari sektor tersebut cukup banyak.

Riset ini juga menemukan bahwa fintech lending dapat mendorong perluasan kesempatan kerja dalam bentuk peningkatan tenaga kerja yang dipekerjakan dalam bisnis mereka. Temuan LD FEB UI mencatat kenaikan jumlah pekerja atau penyerapan tenaga kerja baru yang dipekerjakan oleh Borrower Investree mencapai 44%.

Alasan Pakai Pinjol

Hasil dari wawancara dengan Borrower Investree juga menemukan bahwa alasan memilih fintech lending untuk mendukung usahanya adalah karena fleksibiltas dan kecepatan dalam proses. Saat LD FEB UI melakukan wawancara dengan Borrower Investree, mereka mengemukakan alasan memilih bergabung dengan fintech lending.

Para peminjam ini menggunakan jasa fintech lending karena proses aplikasi pinjamannya yang cepat, fleksibel dan mudah, kredibilitas dari perusahaan yang baik serta proses pendaftaran yang mudah. Riset ini juga menemukan bahwa fintech lending mampu mendukung inklusi keuangan melalui platform digitalnya, termasuk produk-produk inovatif, baik secara horizontal melalui sektor-sektor yang dibiayai, dan secara vertikal melalui skala bisnis keuangan.

“Kehadiran fintech lending seperti Investree dan bergabungnya pengusaha skala kecil dan menengah memberikan dampak positif pada dunia bisnis, seperti meningkatnya pendapatan dan menambah lapangan kerja,” ujar Dewa Wisana.

Waspadai Fintech Lending Ilegal

Meski pinjol makin diminati, namun masyarakat diminta untuk semakin waspada jika mau memakai layanan ini. Pasalnya, banyak sekali fintech lending ilegal yang beredar. Sebagaimana dilansir Investor.co.id, Satgas Waspada Investasi (SWI) mengumumkan telah menindak 105 P2P (peer-to-peer) fintech lending yang tidak terdaftar dan berizin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Di masa pandemi Covid-19, fintech lending ilegal itu memanfaatkan momen melemahnya perekonomian masyarakat. Hal ini diungkapkan oleh Ketua SWI Tongam L Tobing menyampaikan, total fintech lending ilegal yang telah ditangani Satgas Waspada Investasi sejak tahun 2018 sampai dengan Juni 2020 sebanyak 2.591 entitas. Hanya pada bulan Juni 2020, satuan tugas itu telah ditemukan sebanyak 105 fintech lending ilegal.

“keberadaan fintech lending ilegal tersebut sangat merugikan masyarakat, apalagi saat pandemi Covid-19. Mereka mengincar masyarakat yang saat ini kesulitan ekonomi dan membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan pokok atau konsumtif,” kata Tongam melalui konferensi pers secara daring (3/7).

Menurutnya, pinjaman fintech ilegal tersebut seolah-olah membantu masyarakat. Padahal sebenarnya sedang menjerumuskan masyarakat dengan tingkat bunga tinggi, jangka waktu pinjaman pendek dan selalu meminta untuk mengakses semua data kontak di handphone. Hal itu sangat berbahaya, karena data korban fintech lending ilegal bisa disebarkan dan digunakan untuk mengintimidasi saat penagihan.

Selain merugikan masyarakat, keberadaan fintech lending ilegal juga berpotensi merugikan negara. Karena entitas itu tentu tidak menyetorkan pajak kepada pemerintah. Oleh karena itu, ia terus mengimbau masyarakat untuk tidak sekali-kali mencoba atau menggunakan layanan dari fintech lending ilegal tersebut.