Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Tangani Kesehatan Mental Anak, Halodoc Tambah 200 Psikolog Klinis

1 115

Selain Kesehatan fisik, Kesehatan mental pada anak juga patut diberi perhatian yang cukup serius. Terutama di saat pandemi seperti ini, dimana kebiasaan sehari-hari mereka terpaksa berubah. Dari yang awalnya bebas bermain di luar rumah, menjadi harus dibatasi guna memutus rantai persebaran virus. Dari yang awalnya harus belajar ke sekolah, berubah menjadi lewat daring di rumah masing-masing.

Tepat pada dua hari lalu (23/7), kita bersama-sama memperingati Hari Anak Nasional. Di hari yang spesial tersebut, platform penyedia layanan Kesehatan berbasis digital terlengkap di Indonesia, Halodoc menggandeng Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia), untuk berikan edukasi dengan tujuan mengajak orang tua lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan mental anak.

Melalui acara daring bertajuk “#HaloTalks, Gangguan Mental pada Anak, Musuh yang Tak Terlihat”, dipaparkan tren kesehatan mental remaja saat ini, serta berbagi tips praktis untuk orang tua agar dapat menghadapinya. Selain itu, pihak Halodoc dan IPK Indonesia juga mengumumkan kemitraan strategis, mendaftarkan 200 psikolog klinis yang tergabung dalam jaringan keanggotaan IPK Indonesia, berikan layanan konsultasi daring lewat platform Halodoc.

Baca juga: Gojek dan Halodoc Hadirkan Telemedicine, Layanan Cek COVID-19 dari Aplikasi Ponsel

Tren Gangguan Mental Pada Anak Meningkat

halotalks halodoc
Tangkapan layar acara HaloTalks yang digelar Kamis (23/7) lalu secara virtual.

Di Indonesia sendiri, hasil dari Riskesdas 2018 menunjukkan jika prevalensi gangguan mental emosional remaja usia di atas 15 tahun telah meningkat menjadi 9,8%, dari yang sebelumnya 6% di 2013. Organisasi WHO juga mencatat 15% anak remaja di negara berkembang memiliki pikiran untuk bunuh diri, yang kini telah menjadi penyebab kematian terbesar ketiga di dunia (untuk anak usia 15-19 tahun).

Dalam acara daring yang tersebut, Felicia Kawilarang selaku VP Marketing Halodoc menyebutkan jika mereka percaya bahwa melindungi hal anak, termasuk dalam menjaga kesehatan mental mereka, merupakan kunci keberhasilan untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Pada kesempatan yang sama, Annelia Sari Sani, S.Psi, psikolog anak yang merangkap sebagai Ketua Satgas Penanganan Covid-19 IPK Indonesia juga mengungkapkan peranan kesehatan mental pada anak. “Gangguan tersebut dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk menyebabkan masalah pada perilaku, gangguan emosional dan sosial, gangguan perkembangan dan belajar, perilaku makan dan kesehatan sampai relasi dengan orang tua.”

Annelia juga menambahkan jika tanda-tanda gangguan kesehatan mental, terlebih pada anak cenderung sulit untuk dilihat. Sehingga penting untuk orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak dan memberikan penanganan sejak dini, guna meminimalisir risiko jangka panjang saat anak tumbuh dewasa.

Halodoc Ingin Bantu Tangani Kesehatan Mental Anak Sejak Dini

“Saat kami berinteraksi dengan anak muda yang mengalami gangguan mental, stigma yang paling sering ditemui adalah rasa malu dan bingung,” jelas Asaelia Aleeza selaku co-founder Ubah Stigma, sebuah komunitas yang memiliki misi tingkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental untuk melawan stigma buruk atas isu tersebut.

Ia menambahkan, para anak muda cenderung malu mengakui ketika memiliki gejala gangguan mental, serta tidak memahami solusi yang mereka miliki. Asaelia percaya jika dengan dibukanya komunikasi dua arah lebih intensif bersama orang tua, terlebih dengan kehadiran teknologi telemedicine seperti Halodoc, dapat membantu menangani gangguan kesehatan mental sejak dini.

Dengan ditambahnya 200 psikolog klinis dari IPK Indonesia, Halodoc kini memiliki total 700 psikolog klinis serta psikiater untuk terus layani kebutuhan masyarakat di seluruh tanah air, lewat pemanfaatan teknologi. “Kami percaya bahwa ketenangan pikiran merupakan salah satu kunci untuk menjaga kesehatan tubuh yang saat ini khususnya sangat penting untuk dijaga, baik oleh orang dewasa maupun anak-anak,” tutup Felicia.