Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Suarise Dorong Perangkat dan Layanan Digital yang Ramah Disabilitas

0 40

Kesetaraan akses terhadap informasi dan teknologi merupakan hak asasi setiap manusia, termasuk difabel atau penyandang disabilitas. Namun, menurut Suarise, sejak maraknya gawai hingga pandemi yang menuntut adaptasi ke ranah digital, ketersediaan aksesibilitas bagi difabel pengguna teknologi masih menjadi tantangan tersendiri.

Didirikan oleh Rahma Utami dan rekan-rekannya pada 2018, Suarise adalah lembaga nirlaba yang fokus pada pemberdayaan disabilitas khususnya tunanetra. Mereka juga menjadi inisiator pertama penyelenggaraan gerakan Global Accessibility Awareness Day (GAAD) di Indonesia.

Suarise mengkampanyekan bahwa aksesibilitas tidak hanya diperuntukkan bagi disabilitas, termasuk tunanetra, tetapi juga diperuntukkan bagi masyarakat awas. Selain menekankan bahwa selain memberi manfaat bagi difabel, aksesibilitas juga mendorong perkembangan teknologi dan kemajuan bisnis.

Gerakan kesadaran aksesibilitas dalam peringatan GAAD berfokus pada akses digital dan inklusi kepada sekitar satu miliar orang dengan disabilitas di dunia, termasuk 5 juta difabel, di antaranya 3,5 juta tunanetra di Indonesia. Sebagai kelanjutan gerakan kesadaran aksesibilitas ini, sejak Juli 2020 Suarise rutin menyelenggarakan sesi berbagi (sharing session) mengenai Aksesibilitas dan keterkaitannya di berbagai bidang, termasuk teknologi dan optimasi SEO untuk penulisan.

Kendala Aksesibilitas dan Teknologi

Suarise
Training pertama Suarise

Suarise mengajak berbagai pihak berperan serta membuat seluruh perangkat digital, termasuk website, sosial media, dan aplikasi digital bisa diakses, serta ramah bagi difabel. Hal ini bertujuan mewujudkan kesetaraan akses informasi bagi semua kalangan masyarakat. Dengan demikian, secara tidak langsung Suarise mendukung penciptaan kesempatan yang sama agar kaum difabel lebih mandiri dan memiliki taraf hidup lebih tinggi.

Hingga saat ini, Suarise telah melaksanakan tiga Sharing Session #A11yID yang membahas tentang penerapan aksesibilitas digital dari berbagai pendekatan. Pertama, dilaksanakan pada 1 Juli 2020 yang mengulas salah satu komponen paling menantang baik dari sisi UX maupun teknis aksesibilitas, yaitu modal, dialog, dan pop-up.

Kedua, membahas atribut tambahan yang disebut Accessible Rich Internet Applications (ARIA). Keberadaan ARIA bertujuan membuat perangkat asistif mampu menerjemahkan komponen dalam berbagai elemen pada halaman web agar bisa diakses. Dalam diskusi pada 18 Juli 2020 ini,  Satrio, seorang Front End Engineer berbagi mengenai kesadaran aksesibilitas terkait ARIA.

Ketiga, pada 6 Agustus 2020 mengajak Somia Customer Experience (Somia CX) berdialog tentang aksesibilitas dan service design di industri finansial dan perbankan. Somia CX memiliki banyak pengalaman dalam pengembangan aplikasi perbankan. Diskusi ini membahas tentang berbagai aspek teknis maupun non-teknis serta hubungannya dengan pengalaman pengguna pada pelayanan perbankan dan keuangan, sehingga pelayanan ini lebih ramah terhadap difabel, khususnya tunanetra dan keterbatasan penglihatan (low vision).

Untuk periode September yang akan digelar pada 18 September di YouTube channel Suarise, GITS Indonesia berbagi pengalaman pengembangan aplikasi pada ponsel dalam mengimplementasikan prinsip aksesibilitas aplikasi.