Jakarta, Gizmologi – Langkah strategis dilakukan Huawei Technologies untuk lebih mandiri dalam memproduksi komponen chip untuk perangkat elektronik dengan membangun pusat research and development di Distrik Qingpu, Shanghai, China. Raksasa teknologi Negeri Tirai Bambu menginvestasikan dana hingga US$1,66 miliar untuk membangun pusat pengembangan semiconductor yang diisi para tenaga ahli dari seluruh dunia.
Dikutip dari Nikkei Asia, pusat R&D dari Huawei Technologies ini bahkan menawarkan paket gaji hingga dua kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan gaji para pekerja chip lokal. Dan sampai saat ini perusahaan telah mempekerjakan pegawai dari beragam latar belakang, termasuk para ‘lulusan’ pabrik chip ternama dunia, seperti Applied Materials, Lam Research, KLA dan ASML.
Selanjutnya Huawei juga terus mengincar para pekerja profesional dengan jejak pengalaman lebih dari 15 tahun di bidang seminconductor. Para pekerja yang berasal dari TSMC, Intel, dan Micron telah bergabung dan akan menjadi rekrutan potensial bagi perusahaan.
Langkah perekrutan tenaga ahli tersebut dilakukan karena perusahaan juga menyertakan keberadaan mesin litografi dalam bagian pengembangan pusat riset tersebut. Mesin ini merupakan komponen vital dalam memproduksi model chip yang revolusioner.
Di sisi lain, efek perang dagang antara China dan Amerika Serikat, membuat Huawei kesulitan untuk mendapatkan mesin tersebut karena bahan bakunya masih impor. Dan sampai saat ini produksinya masih dipegang oleh tiga perusahaan besar saja yakni ASML dari Belanda, serta Nikon dan Canon dari Jepang.
Baca juga: Desain Huawei Watch 4 Pro Space Exploration Edition, Ada Fitur Baru!
Budaya Kerja Huawei Technologies Jadi Sorotan

Tawaran kerja menggiurkan yang diberikan Huawei Technologies untuk para pekerjanya menjadi salah satu daya tarik untuk para pekerja turut bergabung dengan mereka. Peran vital mereka dalam pengembangan pusat riset yang dibuat akan menjadi awal menjanjikan jika segalanya berjalan dengan baik, sehingga perusahaan dapat semakin kompetitif bersaing menjadi top global.
Bersamaan dengan itu kebijakan Amerika Serikat, yang menjalin kerja sama dengan perusahaan pembuat semiconductor dari Jepang dan Belanda, telah membuat para pekerja lokal di China mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan pada perusahaan asing. Sehingga memungkinkan Huawei untuk mendapatkan talenta terbaik dari negeri mereka sendiri.
Akan tetapi isu kurang sedap juga mengiringi usaha Huawei Technologies tersebut. Salah satunya dari curhatan seorang chip engineer kepada Nikkei Asia, bahwa perusaahaan memiliki budaya kerja brutal. “Bekerja dengan mereka itu brutal. Tidak lagi 996 (bekerja dari pukul 9 pagi – 9 malam, 6 hari sepekan), tapi menjadi 007 (bekerja dari malam ke malam, 7 hari sepekan). Tidak ada hari libur,” ujarnya.
Mungkin memang selalu ada bayaran setimpal untuk apa yang didapatkan. Termasuk gaji besar yang ditawarkan, sebanding dengan tuntutan kerja yang tinggi.
Bagaimana menurut Gizmo Friends?
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




