Meski sudah diluncurkan secara resmi sejak 2021, perkembangan 5G di Indonesia masih berada pada tahap awal. Berdasarkan laporan terbaru GSMA, porsi koneksi 5G di Indonesia baru mencapai 4% pada 2025, ketika 4G masih mendominasi dengan porsi 92% dari total koneksi seluler.
Dalam lima tahun ke depan, komposisi tersebut diproyeksikan mulai berubah. Porsi koneksi 5G Indonesia diperkirakan meningkat menjadi 28% pada 2030, sementara 4G masih akan menjadi teknologi dominan dengan porsi sekitar 71%.
Proyeksi tersebut tercantum dalam grafik Mobile technology trends for key markets di laporan The Mobile Economy Asia Pacific 2026. GSMA memasukkan Indonesia dalam kelompok “Leading Nations”, bersama Bangladesh, India, dan Pakistan.
Baca juga: GSMA Meyakini Indonesia Dapat Memimpin Transformasi Digital, Asalkan Ada Investasi yang Tepat!
Namun, perjalanan Indonesia menuju 5G tidak hanya berkaitan dengan seberapa cepat operator memperluas jaringan. Data lain yang dipaparkan GSMA menunjukkan masih adanya kesenjangan antara ketersediaan konektivitas, penggunaan internet, hingga akses masyarakat terhadap smartphone.
Perubahan komposisi teknologi seluler Indonesia hingga 2030 dapat dilihat dari proyeksi berikut:
| Teknologi / Metrik | 2025 | 2030 |
|---|---|---|
| Porsi koneksi 4G | 92% | 71% |
| Porsi koneksi 5G | 4% | 28% |
| Porsi koneksi 2G | 3% | 1% |
| Cakupan populasi oleh 5G | 10% | 32% |
Catatan: porsi koneksi dan cakupan populasi adalah dua metrik yang berbeda. Angka 5G 4% dan 28% mengacu pada persentase total koneksi, sedangkan 10% dan 32% mengacu pada cakupan populasi.
Data komposisi koneksi menunjukkan bahwa pertumbuhan 5G diproyeksikan cukup signifikan hingga 2030. Namun, 4G belum akan kehilangan perannya sebagai tulang punggung konektivitas seluler Indonesia.
Sementara itu, cakupan 5G diperkirakan meningkat dari sekitar 10% populasi pada 2025 menjadi 32% pada 2030. Artinya, perluasan jaringan dan pertumbuhan penggunaan 5G berjalan dalam dua dimensi yang berbeda: seberapa luas jaringan tersedia dan seberapa besar porsi koneksi yang benar-benar menggunakan teknologi tersebut.
4 dari 10 Penduduk Indonesia Belum Menggunakan Smartphone

Tantangan berikutnya berkaitan dengan perangkat. Dalam pemaparan GSMA yang dikutip KompasTekno, Julian Gorman, Head of Asia Pacific GSMA, menyebut penetrasi smartphone Indonesia berada di kisaran 59% dari total populasi.
Secara sederhana, angka tersebut berarti sekitar 4 dari 10 penduduk Indonesia belum menggunakan smartphone. Namun, angka ini perlu dibaca dengan hati-hati karena basis perhitungannya adalah total populasi, sehingga mencakup kelompok seperti anak-anak yang belum tentu menjadi pengguna atau pemilik smartphone.
Data tersebut memberikan konteks tambahan terhadap perkembangan teknologi seluler di Indonesia. Perluasan jaringan generasi baru berjalan bersamaan dengan upaya meningkatkan akses masyarakat terhadap perangkat yang menjadi pintu masuk utama ke internet mobile.
Meski demikian, data tersebut tidak secara otomatis berarti rendahnya penetrasi smartphone menjadi penyebab langsung rendahnya penggunaan 5G. Kedua angka tersebut menggunakan metrik yang berbeda dan perlu dilihat sebagai bagian dari gambaran ekosistem digital Indonesia.
Jaringan Sudah Menjangkau 98% Populasi, tetapi Masih Ada Usage Gap
Menariknya, tantangan utama Indonesia kini tidak hanya terletak pada ketersediaan jaringan. GSMA mencatat mobile broadband telah menjangkau sekitar 98% populasi Indonesia. Dengan demikian, sebagian besar penduduk sebenarnya sudah tinggal di wilayah yang memiliki akses terhadap jaringan internet seluler.
Namun, masih terdapat usage gap sebesar 21% di kalangan penduduk dewasa. Usage gap merujuk pada kelompok masyarakat yang sebenarnya telah tinggal di wilayah yang tercakup jaringan mobile broadband, tetapi belum menggunakan internet mobile.
Secara keseluruhan, sekitar 77% penduduk dewasa Indonesia telah menggunakan internet. Perbedaan antara coverage dan usage tersebut memperlihatkan bahwa membangun jaringan saja belum tentu langsung menghasilkan tingkat pemanfaatan yang sama besar. Faktor seperti keterjangkauan perangkat, keterampilan digital, persepsi terhadap manfaat internet, serta kepercayaan dan keamanan digital dapat memengaruhi penggunaan layanan.
Dalam konteks ini, pertumbuhan 5G akan berlangsung di atas ekosistem yang masih menghadapi tantangan penggunaan teknologi digital secara lebih luas.
Proyeksi 5G Indonesia Masih di Bawah Asia Tenggara


Jika dibandingkan dengan Asia Tenggara secara keseluruhan, proyeksi porsi koneksi 5G Indonesia pada 2030 masih berada di bawah rata-rata kawasan.
GSMA memperkirakan 5G akan mencapai 43% dari total koneksi di Asia Tenggara pada 2030. Sementara secara keseluruhan, Asia Pasifik diproyeksikan memiliki hampir 1,5 miliar koneksi 5G, atau sekitar 50% dari seluruh koneksi seluler di kawasan tersebut.
Perbedaannya semakin besar dibandingkan dengan pasar Asia Pasifik yang telah lebih matang. Australia, Jepang, Selandia Baru, Singapura, dan Korea Selatan diproyeksikan memiliki rata-rata adopsi 5G hingga 91% pada 2030.
Kesenjangan ini menunjukkan bahwa transisi menuju 5G di Asia Pasifik berjalan dengan kecepatan berbeda-beda. Pasar yang telah lebih awal membangun infrastruktur dan ekosistem 5G bergerak menuju dominasi jaringan generasi kelima, sementara negara lain masih menjalani transisi bersama jaringan 4G yang tetap menjadi fondasi utama konektivitas.
Spektrum dan Investasi Menjadi Bagian dari Persamaan

Percepatan 5G juga tidak hanya ditentukan oleh jumlah BTS yang dibangun. Dalam laporannya, GSMA menekankan pentingnya ketersediaan spektrum untuk mendukung pengembangan jaringan generasi berikutnya. Spektrum low-band diperlukan untuk cakupan yang lebih luas, sementara mid-band memiliki peran penting dalam menyediakan kapasitas dan performa yang dibutuhkan 5G.
Pita frekuensi 3,5 GHz menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan 5G di banyak negara karena menyediakan kapasitas yang lebih besar dibanding spektrum frekuensi rendah.
GSMA juga menyoroti pendekatan sejumlah negara Asia Pasifik terhadap biaya spektrum. Indonesia disebut sebagai salah satu negara yang mengadopsi reserve price yang lebih konservatif dalam lelang spektrum, bersama Fiji, Pakistan, Papua Nugini, dan Vietnam.
Kebijakan spektrum menjadi salah satu bagian penting karena biaya yang harus dikeluarkan operator untuk memperoleh frekuensi dapat memengaruhi kapasitas investasi jaringan berikutnya.
Industri Mobile Jadi Fondasi AI dan Ekonomi Digital
Perkembangan 5G juga berlangsung di tengah perubahan peran industri telekomunikasi secara lebih luas. Dalam peluncuran laporan The Mobile Economy Asia Pacific 2026, Julian Gorman mengatakan jaringan mobile semakin menjadi fondasi bagi transformasi digital di kawasan Asia Pasifik.
Ekonomi dan masyarakat di seluruh kawasan semakin digital, dengan jaringan mobile menjadi fondasi bagi adopsi AI, digital trust, dan infrastruktur digital yang tangguh,”
Julian Gorman, Head of Asia Pacific GSMAGSMA juga menyoroti meningkatnya perhatian terhadap digital sovereignty, keamanan digital, serta perlindungan masyarakat dari fraud dan ancaman siber. Kondisi tersebut memperluas peran industri telekomunikasi yang sebelumnya terutama berfokus pada penyediaan konektivitas.
Bagi Indonesia, proyeksi 5G dari GSMA memperlihatkan adanya pertumbuhan yang cukup besar dalam lima tahun ke depan. Porsi koneksi 5G diperkirakan meningkat dari 4% menjadi 28%. Namun, angka tersebut juga menunjukkan bahwa transisi teknologi tidak berlangsung secara instan. Pada 2030, 4G masih diproyeksikan mencakup 71% koneksi seluler Indonesia.
Di saat yang sama, mobile broadband sebenarnya telah menjangkau 98% populasi, tetapi masih ada kelompok masyarakat dewasa yang belum memanfaatkan internet. Penetrasi smartphone yang berada di kisaran 59% dari total populasi juga menunjukkan masih adanya ruang untuk memperluas akses terhadap perangkat digital.
Karena itu, perjalanan Indonesia menuju 5G bukan hanya tentang memperluas cakupan jaringan generasi baru. Tantangannya juga mencakup bagaimana konektivitas yang sudah tersedia dapat digunakan secara lebih luas, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap perangkat dan layanan digital yang akan berjalan di atas jaringan tersebut.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

