Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Review Nokia 5.3: Hanya untuk Kalangan Terbatas

2 33.014

Nokia kembali lagi di Indonesia dengan smartphone Android baru! Mungkin akan ada dua respon berbeda jika mendengar kalimat tersebut. Bagi yang tidak terlalu mengikuti perkembangan teknologi, mungkin baru mengerti kalau HMD Global memegang lisensi untuk rilis smartphone gunakan nama Nokia, seperti Nokia 5.3 yang akan saya ulas kali ini. Sementara sebagian lainnya bingung, “bukannya sudah ada di Indonesia sejak 2017 ya?”

Ya, betul. Sejak 2017, HMD Global hadirkan smartphone Nokia di Indonesia mulai dari seri Nokia 3, 5, 6 sampai sang flagship kontemporer, Nokia 8. Kemudian tahun lalu, HMD Global Indonesia terakhir membawa Nokia 2.2. Tak ada kabar lagi hingga satu tahun berikutnya, walaupun secara global telah rilis banyak seri termasuk Nokia 9 PureView dengan 6 kamera utama.

Mencoba kembali bersaing dengan merek smartphone lain yang sudah ada di Indonesia, HMD kembali membawa smartphone… kelas menengah, yaitu Nokia 5.3. Ya, bukan flagship memang. Tapi smartphone mid-range masa kini pun sudah jauh lebih bagus. Apakah Nokia 5.3 termasuk salah satunya? Berikut ulasan lengkapnya.

Desain Nokia 5.3

Nokia 5.3

Dalam merilis smartphone-nya, HMD gunakan ciri khas desain bergaya Skandinavia. Setidaknya itu yang disebutkan oleh sang perancang, Raun Forsyth, yang menjabat sebagai Head of Design di HMD Global. Mengutamakan kualitas dan craftmanship, dua hal ini memang terasa ketika pertama kali kita menggenggam Nokia 5.3.

Smartphone ini bisa dibilang cukup bongsor, namun tipis di 8,5mm saja. Juga tidak terasa berat, berkat penggunaan material plastik komposit pada back cover-nya. Ya, bukan metal memang, tapi terasa cukup kokoh khas smartphone Nokia pada umumnya. Bahkan tidak berdenyit sama sekali ketika saya coba memutar bagian atas dan bawah dengan arah berlawanan.

Kamu juga tidak akan menemukan kombinasi warna gradasi atau sejenisnya, setidaknya dalam varian warna Charcoal yang saya ulas kali ini. Bagian depannya terlihat biasa saja, sementara bagian belakangnya terlihat lebih menarik. Selain logo Nokia dan sensor sidik jari, kamu bakal menemukan modul kamera sirkular yang sedikit mengingatkan pada Nokia Lumia 1020.

Modul tersebut berisi empat sensor kamera, beserta sebuah lampu kilat di bagian tengahnya. Tidak terlalu menonjol, jadi masih terlihat normal ketika ditaruh di atas meja. Sisi kiri dan kanan dibuat sedikit melengkung, membuat Nokia 5.3 terasa semakin tipis.

Back cover dibuat dengan tekstur doff sehingga tidak licin, namun masih sedikit mudah kotor. Secara keseluruhan, desainnya bisa dibilang cukup premium. Penggunaan material komposit di bodi belakang tentu akan lebih kuat dibandingkan kaca pada Nokia 5.1 Plus.

Layar

Layar Nokia 5.3

Di sinilah kekurangan dari Nokia 5.3 mulai terlihat. Bukan, bukan karena resolusinya. Yah meski smartphone Rp2 jutaan lainnya sudah banyak yang memiliki resolusi full HD+, saya tidak terlalu terganggu dengan resolusi HD+ pada layar besar 6,55 inci di Nokia 5.3. Layarnya masih gunakan desain waterdrop notch di sisi atas, dengan dimensi cukup besar. Sementara bezel bawahnya cukup ramping, termasuk memuat logo Nokia.

Bezel bawah Nokia 5.3

Yang mengecewakan adalah reproduksi warnanya. Terasa kurang akurat dan cenderung pucat, meski sudah gunakan panel IPS. Saya mengapresiasi HMD untuk berikan slider khusus atur white balance, sehingga tak perlu mengaktifkan mode Night Light. Hanya saja, dibandingkan smartphone lain dengan harga sama, saturasi dan akurasi warnanya masih kurang. Bahkan layar Nokia 6.1 Plus jauh lebih baik walaupun kini hadir lebih murah.

Sementara untuk kecerahan dan lainnya tak ada masalah, kecuali auto brightness-nya yang selalu cenderung sedikit lebih gelap di awal-awal penggunaan. Penggunaan outdoor bisa dibilang pas-pasan, masih bisa dilihat walaupun tak terlalu terang.

Oh ya, meski dilengkapi soft case transparan dalam paket penjualan, layar Nokia 5.3 tidak terpasang lapisan anti gores dari pabrikan. Meski sudah terlindung oleh Corning Gorilla Glass 3, bukan berarti akan 100% terbebas dari risiko baret tipis oleh partikel kecil seperti debu dan pasir.

Kamera

Kamera Nokia 5.3

Smartphone Nokia awalnya dikenal dengan kemampuan fotografi yang unggul. Namun mengingat ini kelas menengah, saya tidak berharap banyak dari hasil foto keempat kamera utama Nokia 5.3. Secara spesifikasi di atas kertas pun memang tidak spesial. Mungkin jika yang lain sudah gunakan sensor beresolusi 48 sampai 64MP dengan teknologi pixel binning, Nokia 5.3 masih konvensional dengan sensor 13MP f/1.8. Besaran megapiksel tak jadi satu-satunya acuan, memang.

Resolusi kamera ultra wide-angle serta kamera macro-nya juga cukup rendah, masing-masing 5MP f/2.4 dan 2MP f/2.4 tanpa autofokus. Serta sebuah sensor 2MP yang berperan untuk sempurnakan efek bokeh pada fitur potret.

Tampilan antarmuka menu kameranya sendiri sudah diperbarui dan terlihat lebih segar, jika dibandingkan smartphone Nokia Android rilisan 2019. Pengguna langsung mendapat pintasan untuk lensa wide, ultra-wide & macro serta fitur-fitur lain seperti video, mode potret dan mode malam. Dan sama seperti Google Camera, aplikasi kamera Nokia dilengkapi fitur motion untuk menjepret gerakan objek sebelum dan sesudah foto diambil.

Lalu bagaimana dengan hasil fotonya? Inconsistent, alias kurang konsisten. Secara umum, foto seringkali terlihat sedikit pucat dan hangat. Bahkan dalam kondisi outdoor dengan langit biru cerah, hasil fotonya masih terlihat seperti kurang berwarna, baik dengan dan tanpa HDR. Mungkin ini cocok untuk kamu yang gemar melakukan editing setelah menangkap gambar. Tapi kalau langsung dibagikan ke media sosial, jadi terlihat kurang menarik.

Dynamic range-nya juga masih relatif kurang walaupun sudah menyala HDR, masih banyak area pada foto yang terlihat gelap atau under-exposure. Sementara mode malamnya sering hasilkan foto yang lebih terang seolah dengan menaikkan ISO saja, sehingga detil menjadi kurang. Mode ini tersedia baik untuk kamera wide dan ultra-wide.

Sementara pada contoh hasil foto potret di bawah, kamera Nokia 5.3 cukup baik untuk melakukan separasi antara objek utama dengan background (sedikit kurang pas di bagian ujung kacamata, namun ini juga isu umum di smartphone lain). Walaupun dalam kondisi malam hari, foto masih relatif tajam, dan warnanya cukup akurat. Itulah alasan mengapa saya bilang kamera smartphone ini kurang konsisten.

Kamera wide, cahaya berlimpah.
Kamera wide, cahaya berlimpah.
Nokia 5.3
Kamera ultra-wide, cahaya berlimpah.
Foto Nokia 5,3
Kamera wide, mode malam.
Foto Nokia 5.3
Mode potret, malam hari.

Kamera utamanya mampu rekam video hingga resolusi 4K. Sayangnya meski digunakan untuk rekam pada resolusi 1080p, hasil video terlihat cukup goyang tanpa adanya EIS. Sementara kamera depannya beresolusi 8MP f/2.0, dan bisa merekam video hingga 1080p. Detilnya cukup baik, lensa cukup lebar, namun warna kulit bukan yang paling akurat.

Sektor kamera bukanlah bagian yang bisa diunggulkan dari smartphone ini. Ya, tentu, kamu dapat memasangkan Google Camera langsung tanpa perlu root sebagai alternatif. Namun kamu akan kehilangan fitur kamera ultra-wide serta makro, dan pengalaman yang kurang optimal. Untuk hasil foto lebih lengkap, bisa kamu akses pada album berikut ini.

Fitur

Menjalankan Android One, tak banyak fitur yang bisa kamu temui di Nokia 5.3. Sistem operasi ini dibuat polos, dengan tujuan bisa mendapatkan pembaruan perangkat lunak secepat mungkin, termasuk patch keamanan bulanan. Ketika pertama kali dinyalakan, bloatware yang bisa saya temukan hanyalah aplikasi MyBluebird, sisanya aplikasi-aplikasi dari Google.

Menurut saya, peletakan lampu LED yang menyatu dengan tombol power cukup cerdas, mengingatkan saya dengan “breathing light” yang ada di beberapa Nokia N-series jaman dulu. Dan jika tidak sedang terlihat, layar akan menyala dengan menampilkan porsi notifikasi di bagian tengahnya, seolah notifikasi dari smartphone layar AMOLED.

Mono speaker yang terletak di bagian bawah smartphone juga sangat standar. Volume cukup keras, namun detilnya biasa saja. Juga termasuk keluaran audio lewat jack 3,5mm maupun dengan konektivitas Bluetooth. Kekurangan yang cukup major lainnya, Nokia 5.3 belum mendukung standar format AAC ketika tersambung dengan earphone TWS.

Atas kerjasama erat dengan Google, seluruh smartphone Android Nokia terbaru kini dilengkapi dengan pintasan ke Google Assistant, lewat tombol khusus di sebelah kiri bodi. Sekali tekan, dalam kondisi apapun asisten Google akan muncul dan siap diberi perintah suara.

Malas gunakan tombol power? Tersedia opsi ketuk layar dua kali untuk menyalakan dan mengunci layar. Nokia 5.3 juga menjadi salah satu dari sedikit pilihan smartphone Rp2 jutaan yang dilengkapi dengan sensor NFC. Cukup lancar untuk mendeteksi saldo e-money sebelum bepergian.

Performa

Nokia 5.3 ditenagai chipset yang cukup melegenda untuk kalangan smartphone kelas menengah, yaitu Qualcomm Snapdragon 665. Chipset ini gunakan arsitektur CPU octa-cote dengan 4-core Kryo 260 Gold 2GHz & 4-core Kryo 260 Silver 1.8GHz, dibuat dengan proses fabrikasi 11nm. Sementara untuk olah grafis, dipadukan dengan GPU Adreno 610.

Lewat software yang sudah disempurnakan serta resolusi layar yang tak sampai full HD, smartphone ini terasa cukup gegas. Buka tutup aplikasi maupun jeda saat multitasking terjadi dengan cepat, ditambah kombinasi RAM yang cukup lega di 6GB, meminimalisir kebutuhan sistem untuk melakukan reload.

Hanya saja, beberapa kali efek transisi terasa kurang lancar. Bukan lambat, tapi seperti frame-rate yang sedikit patah-patah ketika buka tutup menu maupun bar notifikasi. Ini bukanlah isu di smartphone Nokia dengan chipset yang lebih rendah, jadi saya cukup yakin jika ini perihal bug software saja, yang bisa diperbaiki di masa mendatang.

Baterai Nokia 5.3

HMD memang unggulkan smartphone ini sebagai perangkat yang tahan hingga dua hari penggunaan. Padahal meski layarnya besar, Nokia 5.3 ‘hanya’ dibekali baterai 4.000 mAh, ketika banyak smartphone lain sudah miliki kapasitas baterai 1.000 mAh lebih besar. Lalu apakah klaimnya dapat dibuktikan?

Mungkin karena kombinasi Android One yang lebih ringan, resolusi layar rendah, serta prosesor yang memang dikenal cukup efisien. Kombinasi ini membuat Nokia 5.3 bisa digunakan hingga dua hari pemakaian, dengan screen-on time 5-6 jam. Dalam catatan, untuk penggunaan ringan ya. Tanpa nge-gim, meski banyak akun media sosial.

Proses pengecasan baterai Nokia 5.3 memang cukup lama. Charger bawaannya sendiri hanya memiliki voltase 5V 2A. Sedangkan meski dicoba untuk gunakan GaN charger 65 watt, proses pengisian daya memakan waktu hampir tiga jam. Ini terhitung lebih lama daripada smartphone lain yang sudah mendukung pengecasan 18 watt. Setidaknya baterainya memang tahan lama.

Kesimpulan

Kelengkapan Nokia 5.3

Saya pribadi adalah fanboy Nokia sejak era Nokia 2100. Kalau saya sampaikan ini di awal bagian ulasan, mungkin Gizmo friends akan mengira ulasan ini bakal berakhir kurang obyektif. Namun seperti yang ada di atas, sebaik-baiknya saya ingin nobatkan Nokia 5.3 sebagai smartphone mid-range sempurna, hasil uji pakai mengatakan sebaliknya.

Kualitas layar, audio dan kameranya masih kurang, apalagi jika dibandingkan dengan smartphone lainnya di rentang harga sama. Bahkan hadir dengan harga mulai Rp2,3 jutaan, Redmi Note 9 jauh lebih unggul tak hanya di tiga fitur yang saya sebutkan. Bahkan sampai ada mode profesional untuk perekaman video. Meski memang, belum ada sensor NFC.

Dibanderol dengan harga Rp2,99 juta, sepertinya smartphone ini akan sulit untuk bersaing dengan lainnya yang sudah ada di pasaran saat ini. Jika Gizmo friends memang mencari smartphone dengan tampilan elegan, membawa nama Nokia yang melegenda, sistem operasi Android One anti ribet serta konektivitas lengkap seperti NFC, maka Nokia 5.3 boleh dilirik.


Beli smartphone Nokia di official store:

Shopee Eraspace Lazada Tokopedia Blibli

Spesifikasi Nokia 5.3

Nokia 5.3

General

Device Type smartphone
Model / Series Nokia 5.3
Released 22 Juni, 2020
Status Available
Price Rp 2.999.000

Platform

Chipset Qualcomm Snapdragon 665 (11nm)
CPU Quad-core 2.0 GHz Kryo 260 Gold + Quad-core 1.8 GHz Kryo 260 Silver)
GPU Adreno 610
RAM (Memory) 6GB
Storage 64GB
Operating System Android 10
User Interface Android One

Design

Dimensions 164.3 x 76.6 x 8.5 mm (6.47 x 3.02 x 0.33 in)
Weight 185 gram
Design Features Gorilla Glass 3 front, plastic frame & back
Battery 4000 mAh, 10w charging

Network

Network Frequency GSM/ HSPA/ LTE
SIM Single SIM (Nano-SIM) or Dual SIM (Nano-SIM, dual stand-by)
Data Speed HSPA 42.2/5.76 Mbps, LTE Cat4 150/50 Mbps

Display

Screen Type IPS LCD capacitive touchscreen, 16M colors
Size and Resolution 6.55 inches; 720 x 1600 pixels, 20:9 ratio (~268 ppi density)
Touch Screen Yes
Features 82.3% screen-to-body ratio
Gorilla Glass 3
450 nits max brightness

Camera

Multi Camera Yes (Rear)
Rear 13MP f/1.8 PDAF, 5MP f/2.4 ultra-wide 13mm, 2MP f/2.4 macro, 2MP f/2.4 depth sensor
Front 8MP f/2.0
Flash Yes
Video [email protected]
Camera Features LED flash, HDR, panorama, night mode

Connectivity

Wi-fi Wi-Fi is a popular wireless networking technology using radio waves to provide high-speed network connections that allows devices to communicate without cords or cables, Wi-Fi is increasingly becoming the preferred mode of internet connectivity all over the world. Wi-Fi 802.11 b/g/n, hotspot
Bluetooth Bluetooth is a wireless communications technology for exchanging data between mobile phones, headsets, computers and other network devices over short distances without wires, Bluetooth technology was primarily designed to support simple wireless networking of personal consumer devices. 4.2, A2DP, LE
USB USB-C, USB On-The-Go
GPS GPS The Global Positioning System is a satellite-based radio navigation system, GPS permits users to determine their position, velocity and the time 24 hours a day, in all weather, anywhere in the world, In order to locate your position, your device or GPS receiver must have a clear view of the sky. Yes, with A-GPS, GLONASS, BDS
HDMI HDMI (High-Definition Multimedia Interface) is a compact audio/video interface for transferring uncompressed video data and compressed or uncompressed digital audio data from a HDMI-compliant source device to a compatible computer monitor, video projector, digital television, or digital audio device. No
Wireless Charging Wireless Charging (Inductive Charging) uses an electromagnetic field to transfer energy between two objects. This is usually done with a charging station. Energy is sent through an inductive coupling to an electrical device, which can then use that energy to charge batteries or run the device. No
NFC NFC (Near field communication) is a set of standards for smartphones and similar devices to establish peer-to-peer radio communications with each other by touching them together or bringing them into proximity, usually no more than a few inches.
Infrared Infrared connectivity is an old wireless technology used to connect two electronic devices. It uses a beam of infrared light to transmit information and so requires direct line of sight and operates only at close range. No

Smartphone Features

FM Radio Yes
Web Browser Web Browser => a web browser is a software application used to locate, retrieve and display content on the World Wide Web, including Web pages, images, video and other files, The primary function of a web browser is to render HTML, the code used to design or markup webpages. HTML 5
Messaging SMS, MMS, Online
Sensors Sensors are electronic components that detects and responds to some type of input from the physical environment. The specific input could be light, heat, motion, moisture, pressure and location, The output is generally a signal that is converted to use in computing systems, a location sensor, such as a GPS receiver is able to detect current location of your electronic device. Fingerprint, accelerometer, proximity
81%
Cukup

Review Nokia 5.3

Dibanderol seharga Rp2,99 juta, fitur yang ditawarkan Nokia 5.3 cukup lengkap termasuk kehadiran sensor NFC. Hanya saja kualitas dari masing-masing fiturnya masih kurang baik jika dibandingkan smartphone sekelasnya.

  • Design
  • Display
  • Camera
  • Features
  • Battery