OpenAI dilaporkan telah membatalkan peluncuran GPT-6.1 Astra, model AI terbaru yang dijadwalkan meluncur di ChatGPT dan Code pada Oktober 2026. Alasannya, tim peneliti mendapati masalah perilaku dan keselamatan yang dianggap belum selesai.
“GPT-6.1 Astra tidak memenuhi standar perusahaan pada uji alignment, yaitu pengujian untuk melihat apakah sistem AI mengikuti maksud manusia,” kata kepala sistem keamanan OpenAI, Saachi Jain, sebagaimana dilansir The Wall Street Journal, Selasa (29/9/2026).
Baca Juga: Asian Games 2026 Jadi Edisi Terakhir Esports, OCA Siapkan Kompetisi Baru
Dalam pengujian internal, masalah pertama yang tim keamanan perusahaan AI tersebut temukan di GPT-6.1 Astra masih memiliki hasil uji alignment rendah. Astra dinilai belum memenuhi standar OpenAI dalam mengikuti maksud pengguna.
Kedua, model AI baru ChatGPT ini memiliki tingkat deception lebih tinggi dari pendahulunya. Model kadang tidak akurat saat menyampaikan tindakan yang sudah atau belum ia lakukan. Ketiga ada masalah dalam scope authorization. Model melanjutkan tugas tanpa meminta izin pengguna, dan kadang mencoba memakai alat atau layanan eksternal padahal berisiko.
Terkait kabar ini, OpenAI belum memberikan pernyataan resmi. Disebutkan, GPT-6.1 Astra dirancang untuk menangani tugas lebih kompleks tanpa bantuan manusia. Pendahulunya, GPT-6 Astra sudah meluncur pada 3 September 2026.
GPT-6.1 Astra Batal Rilis Permanen?
Keputusan untuk batal meluncurkan GPT-6.1 Astra muncul di tengah meningkatnya perhatian industri AI terhadap kemampuan model generatif semakin maju. Dalam beberapa bulan terakhir, OpenAI berulang kali menyoroti pentingnya pengujian keamanan untuk model frontier terbaru mereka.
Perusahaan juga memperkenalkan berbagai mekanisme evaluasi guna mengukur risiko yang berkaitan dengan kemampuan siber, otonomi sistem, hingga potensi penyalahgunaan.

Belum diketahui apakah keputusan tersebut bersifat permanen atau hanya penundaan sampai perbaikan selesai dilakukan.
Raksasa teknologi AI itu juga belum menjelaskan apakah masalah yang ditemukan di GPT-6.1 Astra berkaitan dengan kemampuan model mengikuti instruksi, kecenderungan menghasilkan respons tidak diinginkan, risiko keamanan siber, atau kategori evaluasi lainnya.
Yang dapat dipastikan, OpenAI memilih untuk tidak melanjutkan peluncuran model tersebut sebelum persoalan yang ditemukan dianggap terselesaikan.
Bukan Sekadar Soal Model AI Baru
Terlepas dari detail teknis yang masih terbatas terkait batalnya GPT-6.1 Astra dirilis, keputusan ini menunjukkan tantangan semakin sering dihadapi perusahaan pengembang AI.

Selama beberapa tahun terakhir, persaingan industri lebih banyak berfokus pada peningkatan kemampuan model, mulai dari penalaran, pemrograman, hingga kemampuan multimodal. Namun semakin canggih sebuah model, semakin kompleks pula proses evaluasi dibutuhkan sebelum teknologi tersebut dapat dirilis ke publik.
Karena itu, pembatalan atau penundaan peluncuran model AI kini tidak lagi hanya berkaitan dengan kesiapan produk, tetapi juga dengan keyakinan perusahaan bahwa sistem tersebut masih dapat beroperasi sesuai batas keamanan yang ditetapkan.
Jika laporan tersebut akurat, kasus GPT-6.1 Astra dapat menjadi salah satu contoh paling jelas bahwa pengembangan AI generasi berikutnya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan model, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan mengendalikan risiko yang menyertainya.
Seruan untuk Perlambat Pengembangan AI Semakin Ramai

Reuters mencatat, CEO Anthropic Dario Amodei pada September 2026 menyerukan industri memperlambat pengembangan model AI frontier agar langkah pengamanan bisa mengejar. Seruan itu didukung CEO OpenAI Sam Altman dan CEO SpaceX Elon Musk.
Kabar pembatalan muncul menjelang DevDay, konferensi pengembang OpenAI di San Francisco yang menurut 9to5Google dijadwalkan 29 September 2026. Setelah pembatalan ini, OpenAI disebut akan mengalihkan fokus ke peningkatan keamanan model berikutnya.
OpenAI Akui Agen AI Retas Situs Pemerintah Australia Saat Cari Data
Lebih lanjut, OpenAI juga sempat tersandung masalah baru-baru ini ketika agen AI milik perusahaan kecerdasan tersebut dilaporkan sukses mengakses file non-publik di portal statistik Medicare Australia.
Disebutkan, agen AI milik OpenAI tersebut berhasil menembus sistem keamanan portal tersebut ketika sedang dipakai untuk menjalankan tugas riset internal.

Insiden peretasan oleh AI tersebut diungkap langsung oleh Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese. Menurut pemerintah Australia, kejadian tersebut berlangsung pada 18 Juni ketika model AI milik OpenAI sedang melakukan penelitian tentang pengeluaran obat-obatan publik di Australia.
Dilansir The Hacker News, Kamis (24/9/2026), agen AI yang mencoba memperoleh data dari Medicare Statistics Reporting Service Portal tersebut beberapa kali ditolak oleh sistem.
Alih-alih berhenti, model tersebut menemukan cara lain untuk mendapatkan informasi yang dicari dan akhirnya memperoleh akses tidak sah ke sebagian area portal.
“Agen AI menemukan jalan untuk melewati pembatasan tersebut,” kata Albanese dalam konferensi pers di New York. Pemerintah Australia menyebut model tersebut mengakses file publik maupun non-publik yang berada di dalam portal statistik tersebut.
Portal yang Diretas Agen AI Tidak Berisi Data Pasien
Meski terdengar mengkhawatirkan, pemerintah Australia menegaskan bahwa portal yang diakses bukan sistem yang menyimpan data pribadi pasien atau memproses klaim Medicare.

Portal tersebut digunakan untuk menyediakan statistik agregat terkait layanan kesehatan dan pengeluaran pemerintah. Hingga saat ini, pemerintah maupun OpenAI menyatakan belum menemukan bukti bahwa data pribadi warga Australia ikut diakses.
OpenAI mengatakan informasi yang diperoleh model mencakup statistik kesehatan agregat dan nama file internal. Perusahaan juga menyebut tidak menemukan indikasi bahwa rekam medis pasien berhasil diakses.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

