Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Signal, Aplikasi Kirim Pesan Pesaing WhatsApp dan Telegram

1 3.990

Berencana untuk pindah platform aplikasi messenger atau berkirim pesan? Kamu tidak sendirian, kok. Apalagi kalau memang sebelumnya selalu menggunakan WhatsApp sebagai aplikasi pilihan untuk saling berbagi kabar dengan teman maupun orang tersayang. Setelah muncul isu terkait privasi data, muncul sebuah nama aplikasi alternatif, yaitu Signal.

Kalau Telegram, mungkin Gizmo friends lebih familiar, atau bahkan juga menggunakannya bersamaan dengan WhatsApp. Namun nama Signal masih relatif belum banyak dikenal, pun juga jumlah penggunanya secara global. Dibandingkan WhatsApp dan Telegram, Signal punya fitur yang paling minim. Namun digunakan oleh tokoh penting, salah satunya pendiri Tesla, Elon Musk. Mengapa begitu?

Berbeda dengan WhatsApp, Signal lebih mengutamakan keamanan data milik penggunanya. Ya sebenarnya Telegram juga, tapi Signal bisa dibilang lebih totalitas. Selain Elon Musk, aplikasi tersebut juga “di-endorse” oleh CEO Twitter, Jack Dorsey bahkan sampai digunakan oleh Edward Snowden, seorang whistleblower yang notabene sangat memerhatikan faktor keamanan.

Baca juga: Duh! Mulai 8 Februari WhatsApp Bakal Bagikan Data Pengguna

Signal Menjunjung Tinggi Keamanan Data Pengguna

Signal

Serasa tidak terlalu banyak yang pakai, namun beberapa tokoh penting menggunakannya sehari-hari dan memilih Signal daripada dua kompetitor lainnya. Apakah memang sangat aman? Sejak dibuat pada tahun 2013, fokus dari Signal memang mengutamakan keamanan data, gunakan tagar “Say hello to privacy”.

Aplikasi ini didirikan oleh sebuah organisasi non-profit, alias bukan dari organisasi yang memang mencari keuntungan seperti aplikasi lainnya. Lalu siapa yang mendanai? Dari dana hibah dan investor. Yang sedikit lucu, di 2018, salah satu penemu WhatsApp, Brian Acton mendonasikan USD50 juta untuk membuat Signal Foundation, yang kini menaungi aplikasi Signal.

Acton mengaku bila ia setuju dengan tujuan utama Signal, dan dikabarkan pergi meninggalkan WhatsApp tak lama setelah diakuisi oleh Facebook, akibat ketidak setujuannya dengan bagaimana Facebook akan memanfaatkan data pengguna yang ada di WhatsApp. Seluruh pesan yang keluar masuk terenkripsi, dan Signal tidak menyimpan data pengguna sama sekali.

Informasi yang diberikan ke Signal dari pengguna hanyalah nomor telepon, untuk keperluan verifikasi. Bahkan jalur enkripsi pesan yang dibuat oleh Signal juga digunakan oleh WhatsApp, namun tidak dengan berbagi data statistik penggunaan dan lainnya.

Fitur yang Ditawarkan Signal Lebih Terbatas

Signal

Meski fitur-fitur kustomisasi tak sebanyak WhatsApp (seperti mengganti tampilan latar aplikasi), Signal punya fitur keamanan ekstra cukup lengkap. Pesan bisa dibuat hilang otomatis dalam durasi tertentu, dan foto yang kita kirim bisa secara otomatis diberikan efek blur bila terdeteksi ada wajah di dalamnya.

Sementara fitur-fitur dasar lainnya juga masih ada. Selain teks, kita dapat mengirimkan pesan suara, foto, video maupun file lainnya. Opsi untuk kirim gambar bergerak maupun lokasi pun tersedia. Hingga opsi untuk menghilangkan status “typing” saat kita sedang mengetikkan pesan yang hendak dikirim.

Selain itu, panggilan suara maupun video juga bisa dilakukan di dalam aplikasi. Baik secara individu, maupun lebih dari satu orang atau dalam bentuk grup. Secara dasar, fitur yang ditawarkan sudah sangat mampu memenuhi kebutuhan berkirim pesan. Tanpa fitur ekstra seperti Stories maupun people nearby.

Lalu untuk kapasitas grup, Signal memberi limit maksimum 1,000 peserta dalam sebuah grup. Menurutnya, aplikasi ini dirancang hanya untuk mereka yang ingin berinteraksi dengan orang-orang yang benar-benar dikenal. Hal tersebut demi meminimalisir kejadian yang ada di Telegram, di mana banyak pengguna tidak dikenal masuk ke dalam grup dan bagikan konten tidak relevan.

Tidak Menyimpan Data di Server Sama Sekali

Saking fokusnya terhadap faktor privasi, Signal tidak menyimpan data penggunanya ke dalam layanan cloud maupun server milik mereka, juga pihak ketiga. Itu berarti, data teks dan lainnya tersimpan di memori internal perangkat yang digunakan, baik di smartphone Android, iOS dan desktop.

Yang menjadi repot adalah ketika pengguna harus berpindah perangkat. Untuk Android, masih relatif mudah dengan memindahkan folder backup. Sementara untuk iOS, disediakan sebuah tombol untuk transfer data dari iPhone lama ke iPhone baru, dan baru tersedia pertengahan tahun kemarin.

Tak seperti Telegram yang mendukung multi-device, Signal mengharuskan penggunanya untuk login dalam satu perangkat saja. Bila melakukan registrasi di perangkat baru, otomatis perangkat lama bakal nonaktif seperti WhatsApp. Juga belum ditemukan metode untuk memindahkan data lintas platform, seperti Android ke iOS dan sebaliknya.

Bagus atau tidaknya, harus berpindah atau tidak, semua tergantung dari kebutuhan Gizmo friends. Kalau memang “oke” dengan aturan baru yang diberlakukan oleh WhatsApp, bisa tetap gunakan aplikasi tersebut. Ingin berpindah ke Telegram? Boleh juga. Perlu yang benar-benar sangat privat dan aman? Signal solusinya, dengan beberapa catatan yang perlu diketahui di atas.

 

Tunjukkan Komen (1)