Sega akhirnya merilis Stupid Never Dies, game action RPG garapan studio Jepang GPTRACK50 untuk platform PlayStation 5 (PS5) dan PC lewat Steam.
Berbeda dari kebanyakan game zombie yang menempatkan makhluk tersebut sebagai musuh, Stupid Never Dies justru menghadirkan zombie sebagai karakter utama. Davy digambarkan sebagai monster lemah yang berada di tingkat paling bawah dalam hierarki monster.
Baca Juga: Game Indonesia Sumbang Rp 32,57 T, Studio Lokal Dapat Apa?
Namun, pertemuannya dengan Julia, seorang perempuan yang ditemukan membeku, membuatnya nekat menjelajahi dungeon berbahaya untuk menghidupkan kembali perempuan tersebut.
Tampil sebagai proyek terbaru GPTRACK50, game dengan konsep menarik ini dibuat oleh Hiroyuki Kobayashi dan sejumlah pengembang berpengalaman dari seri Devil May Cry, Dragon’s Dogma, hingga Resident Evil.
Gameplay Stupid Never Dies Andalkan Transformasi Monster
Salah satu mekanisme utama Stupid Never Dies adalah Style Eat, kemampuan yang memungkinkan Davy mengambil kekuatan monster setelah mengalahkan musuh tertentu. Melalui sistem tersebut, Davy dapat berubah menjadi berbagai jenis monster dengan kemampuan bertarung berbeda. Total ada 11 gaya transformasi yang tersedia, termasuk Werewolf, Harpy, Golem, dan Vampire.

Setiap transformasi memberi pilihan baru ketika menghadapi musuh. Pemain bisa menyesuaikan kemampuan karakter dengan situasi pertarungan maupun gaya bermain yang diinginkan.
Selain Style Eat, terdapat mekanisme Body Hack yang memungkinkan pemain mengganti bagian tubuh Davy menggunakan perlengkapan khusus bernama Overtech. Modifikasi ini dapat meningkatkan atribut karakter sekaligus membuka kemampuan aktif dan pasif baru.
Kombinasi kedua sistem tersebut menjadi fondasi perkembangan karakter dalam Stupid Never Dies. Pemain tidak hanya meningkatkan kekuatan melalui progres permainan, tetapi juga dapat bereksperimen dengan kemampuan monster dan konfigurasi tubuh Davy.
Ada pula kemampuan Davy Burst, di mana pemain bisa meningkatkan kekuatannya secara drastis untuk sementara waktu. Mekanisme ini melengkapi pertarungan cepat yang menjadi salah satu fokus utama game.
GPTRACK50 sendiri didirikan pada Oktober 2022 oleh Hiroyuki Kobayashi, veteran industri game Jepang yang sebelumnya terlibat dalam sejumlah proyek Capcom. Melalui Stupid Never Dies, studio tersebut menghadirkan IP baru dengan pendekatan action RPG yang memadukan pertarungan, kustomisasi karakter, dan humor.
Harga Stupid Never Dies di Indonesia dan Demo Gratis

Stupid Never Dies sudah tercantum di PlayStation Store Indonesia dengan harga Rp 509.000 untuk Standard Edition dan Rp 579.000 untuk Glorious Idiot Edition. Edisi Glorious Idiot menyertakan konten tambahan TickTock Teddies: Nonsense Overload Pack.
Sementara itu, versi PC tersedia melalui Steam dengan harga yang mengikuti wilayah akun pengguna.
Bagi yang ingin mencoba sebelum membeli, SEGA juga menyediakan demo gratis berjudul Stupid Never Dies: First Bite Demo di PS5 dan Steam.
Demo tersebut mencakup sekitar dua jam awal permainan. Menariknya, progres dan data penyimpanan dari demo dapat dipindahkan ke versi penuh sehingga pemain tidak perlu mengulang permainan dari awal setelah membeli game.
Bersamaan dengan peluncuran game, SEGA turut merilis trailer live-action berjudul Julia Never Dies. Trailer ini menceritakan kejadian sebelum cerita utama, termasuk bagaimana Julia akhirnya terjebak dalam lemari pendingin sebuah toko es krim.
Original soundtrack Stupid Never Dies juga mulai tersedia di berbagai layanan streaming musik, termasuk Spotify, Apple Music, dan Amazon Music. Album tersebut berisi 80 lagu, termasuk dua lagu tema dengan nuansa pop-punk yang menjadi bagian dari identitas musik game.
Higround Kolaborasi Kedua dengan SEGA, Tawarkan Keyboard Sonic & Dreamcast

Di sisi lain, Sega dan Higround berkolaborasi dengan memperkenalkan lini keyboard terbaru mereka yang mengambil inspirasi dari Sonic the Hedgehog dan konsol legendaris Dreamcast. Koleksi ini tampil sebagai perayaan nostalgia sekaligus demonstrasi bagaimana Higround ingin memadukan estetika retro dengan performa modern.
Kolaborasi ini memang untuk Higround mulai memperluas portofolio form factor mereka. Dukungan form factor 75%, 96%, hingga varian Hall Effect menunjukkan ambisi brand ini untuk bersaing di segmen premium. Namun, di sisi lain ada pertanyaan apakah harga yang cukup tinggi akan sesuai dengan value yang benar-benar dibutuhkan para gamer.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

