Ini 3 Kesalahan Umum yang Dialami Startup & Pebisnis Pemula

Jakarta, Gizmologi – Sudah mencapai sekitar 1,5 tahun, masyarakat di Indonesia hidup berdampingan dengan pandemi COVID-19. Tentu sudah banyak perubahan yang dialami, tak sedikit di antaranya yang mengubah karier atau memulai bisnis baru sepanjang tahun 2020 – 2021. Sebagai pemula, wajar bila mengalami beberapa kesalahan dalam berbisnis maupun membangun usaha rintisan (startup).

Namun tentunya hal tersebut dapat dicegah sebelum terjadi, dengan membekali diri lewat pemahaman yang benar dalam membangun bisnis, terutama bagi mereka yang pertama kali mencoba. Mengangkat tema “Pasang Surut Pebisnis Pemula,” ShopeePay Talk menghadikan tiga narasumber yang masing-masing telah memiliki bisnis dalam bidang yang berbeda. Berikan kisah pasang surut hingga strategi untuk merancang manajemen risiko demi meminimalisir kegagalan.

Baca juga: Kerja Sama Shopee & Bluebird Group Bawa Opsi Pembayaran Digital ShopeePay

Eka Nilam Dari, Head of Strategic Merchant Acquisition ShopeePay mengatakan pihaknya paham akan banyaknya pebisnis yang mengalami kegagalan pada masa awal merintis. Lewat topik kali ini, pebisnis pemula diharap dapat cegah hal tersebut dengan mengkaji kesalahan umum serta merancang strategi untuk antisipasi.

Sepanjang acara, secara garis besar disebutkan tiga penyebab utama kegagalan saat berbisnis yang dialami oleh pemula. Apa saja? Berikut penjabarannya.

Ingin Raih Sukses dengan Instan

Bisnis digitalpreneur. Foto oleh Pixabay
Ilustrasi Startup (Foto: Pixabay)

Tentu dalam membangun bisnis yang berkelanjutan, dibutuhkan waktu dan proses yang panjang. Keinginan untuk cepat sukses dengan cara instan membuat mereka menempuh jalan pintas, yang menyebabkan mereka tak lagi fokus pada tujuan awal saat membangun bisnis.

Hal tersebut dialami sendiri oleh CMO PT Harapan Bangsa dan co-founder Sang Pisang & Ternakopi, Ansari Kadir. Lewat pengalaman pribadinya, ia menyadari bila fokus adalah hal penting untuk kembangkan bisnis, agar tidak terburu-buru melakukan ekspansi atau menambah bisnis baru.

Bukan dari orang lain, hal tersebut harus diraih oleh diri sendiri, dengan menghargai setiap proses yang ada. “Niscaya, kita dapat membangun fondasi bisnis yang lebih kuat dan dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang,” tambahnya.

Mengikuti Tren Tanpa Menjawab Kebutuhan

SheHacks 2021
ilustrasi (Foto: unsplash/ john-schnobrich)

Hal ini banyak bermunculan terutama pada bidang kuliner, sebut saja kopi dalgona atau es kepal milo yang sekarang sudah jarang dicari. Keberadaan sebuah tren umumnya hanya terjadi sesaat, berkat perubahan yang dinamis. Sehingga kurang baik bila hanya mengandalkan faktor tersebut.

Penemu dan pemilik Panama Sandals, Anton Hermawan Sugondo turut mengalami hal tersebut, lewat bisnis kentang goreng Belgia yang pernah didirikan sebelumnya. Ia belajar bila dalam mendirikan bisnis, diperlukan riset pasar yang matang sebagai landasan untuk lebih mengenal target pasar, serta berikan solusi tepat untuk jawab kebutuhan pasar.

“Ketimbang menjadikan tren sebagai dasar utama dalam berbisnis, pebisnis dapat menggunakan tren yang ada untuk melakukan inovasi sesuai dengan perkembangan zaman,” jelas Anton. Hal tersebutlah yang ia lakukan saat ini, termasuk terapkan tren pemanfaatan digital dalam kehidupannya sehari-hari.

Tak Siap Hadapi Risiko Bisnis

Meski sudah bersiap dengan sematang mungkin, namanya pebisnis pemula tentu tak akan dapat terhindar sepenuhnya dari risiko berbisnis. Mereka harus siap untuk antisipasi dan memiliki strategi manajemen risiko, dan tak bisa dipandang sebelah mata.

CEO & co-founder Ternak Uang, Raymond Chin menegaskan bila salah satu faktor utama penyebab kegagalan bisnisnya terdahulu adalah kurangnya persiapan strategi tersebut, seperti kurangnya perencanaan bisnis. Rencana tersebut bisa dibuat sederhana namun solid, dengan tiga hal utama yang difokuskan.

Ketiganya adalah produk, pemasaran dan operasional. “Fokus menentukan unique selling points dari produk atau jasa bisnis, tentukan saluran pemasaran yang tepat dan buat strategi mulai dari cara menjaga operasional bisnis, hingga menghadapi kegagalan bisnis,” tambah Raymond. Poin-poin tersebut ia terapkan bersama rekan bisnisnya dalam pengembangan Ternak Uang.

Tinggalkan komen