Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

Bahaya Mengintai dari Aplikasi VPN Gratis

Sejak dibatasinya akses ke layanan media sosial Facebook, Instagram dan pesan instan WhatsApp, banyak warganet yang beramai-ramai mencari celah agar bisa melewatinya. Cara yang paling banyak dipakai adalah dengan memakai virtual private network atau VPN gratis.

Dengan menggunakan VPN baik yang berbayar maupun gratis, pengguna memang jadi mengakses berbagai situs yang diblokir pemerintah. Termasuk tentu saja pembatasan akses media sosial sehingga bisa mengirimkan gambar dan video dengan lebih lancar.

Untuk yang berbayar, mungkin risiko ini tidak terjadi, tetapi bagi yang menggunakan layanan VPN gratisan, siap-siap saja menghadapi risiko yang muncul.

Mengapa demikian? Teguh Arifiyadi, pendiri Indonesia Cyber Law Community mengutip kata-kata populer, “There no ain’t such thing as a free lunch“. Tidak ada makan siang gratis.

Begitu juga jika saat kita menggunakan VPN gratis. Karena memberikan layanan VPN gratis itu tidak murah. Penyelenggaranya harus menyiapkan investasi yang tidak kecil untuk menyiapkan berbagai hal, dari menyiapkan server dengan kapasitas besar, bandwidth, teknisi maintenance, listrik, dan beban operasional lainnya.

Padahal penyedia layanan tersebut bukan lembaga amal, melainkan berbisnis. Apa yang mungkin mereka incar dari kita pengguna VPN gratis? Utamanya adalah data, yang merupakan harta karun digital.

“Mereka bisa kapan saja menambang data kita, karena komunikasi kita selalu dilewatkan server milik mereka. Artinya, kapanpun komunikasi dan aktifitas kita bisa diintip, dimata-matai, diisengi, bahkan mereka dengan mudah bisa mengambil gratis data kita,” ujar Teguh dalam post yang dibagikan di Facebook.

Hal itu dilakukan  agar bisa memberi keuntungan dan  investasinya balik. Paling simpel dan polosnya ya untuk dijual guna keperluan profiling iklan. Data pribadi kita dengan enteng mereka tambang, dan jual kembali ke pengiklan.

“Perkara iklannya disisipi malicious software alias software berbahaya, itu urusan lain. Risiko ditanggung ‘penumpang’ VPN gratis. Masih banyak mudharat lainnya, waspada lebih baik,” tandasnya.

Baca juga: Inilah Risiko Perusahaan yang Pakai Software Bajakan

7 Bahaya VPN Gratis

Dilansir dari laman Restoreprivacy, setidaknya ada tujuh alasan layanan VPN gratis angat berbahaya:

1. Mengandung Malware

Berdasarkan penelitian CSIRO, lebih dari 38% aplikasi VPN gratis mengandung malware alias program berbahaya. Malware bisa datang dalam bentuk apa pun dan yang tersembunyi pada VPN bisa mencuri data dan digunakan untuk menargetkan iklan dan email spam pengguna. Selain itu juga bisa membajak akun secara online, mencuri uang dan barang atau produk digital. Kejahatan lainnya seperti mengunci atau mengenkripsi perangkat dan meminta imbalan untuk mengembalikannya.

2. Akses data pengguna

Related Posts
1 daripada 6

Bahaya selanjutnya adalah VPN gratis dapat melacak untuk mengumpulkan data pribadi penggunanya. CSIRO melaporkan 75 persen dari 283 VPN mengandung pelacakan pada kode sumber. Pengumpulan data ini bisa bernilai bagi iklan dan juga analitik.

Saat data pengguna dikumpulkan oleh VPN, akan dijual atau ditransfer pada pihak ketiga. Ini demi kepentingan keuntungan semata. Salah satu contohnya Opera Free VPN yang saat ini dimiliki konsorsium China. VPN itu menawarkan layanan gratis tanpa batas lewat browser. Ini merupakan cara mereka mengumpulkan serta berbagi data pengguna. Nah, kan.

3. Mencuri Bandwidth

Sejumlah bisnis menggunakan VPN gratis untuk mencuri bandwidth dan menjualnya kembali pada pihak ketiga. Salah satu contohnya layanan berbasis di Israel, Hola VPN. Layanan ini diketahui telah mencuri bandwidth dan dengan curang menjual lewat sister company, Luminati.

4. Membajak browser

Cara VPN menghasilkan uang bisa juga dengan cara pembajakan browser. Ini akan terjadi saat layanan itu mengalihkan browser pada website partner tanpa izin pengguna. Hotspot Shield VPN ditemukan mengalihkan permintaan HTTP pada situs e-commerce seperti Alibaba dan e-Bay lewat jaringan mitranya.

5. Kebocoran data

VPN yang baik seharusnya mengamankan dan melakukan enkripsi pada trafik antara perangkat dengan server. Namun sejumlah layanan VPN baik yang gratis dan berbahaya, ditemukan banyak yang membocorkan data pengguna. Kebocoran berasal dari IP address dan DNS, masalah yang kerap terjadi di VPN gratis.

Ada kasus seperti Hotspot Shield memberikan akses pada pihak ketiga untuk data pengguna mereka. Model bisnis yang terjadi pada VPN gratis membuat layanan itu berbahaya. Akibatnya pengguna bisa mengalami pencurian identitas serta penipuan secara finansial.

Daftar 30 VPN Gratis untuk Android dan iOS

Di akun twitter @gadtorade, Lucky Sebastian membagikan daftar 30 VPN gratis baik untuk platform Android maupun iOS yang banyak diunduh pengguna.

Ia memberi catatan, sebagian besar VPN gratis tersebut dimiliki China, yang ditenggarai berpotensi mengumpulkan data dan kebiasaan kita, bahkan ada yang disusupi malware.

Apa yang perlu dilakulan?

Soal pembatasan akses sosmed oleh pemerintah, Teguh meminta masyarakat tidak khawatir berlebihan. Karena ini hanya sementara.

Menurutnya, pembatasan ini untuk kepentingan yang lebih besar. Pemerintah, meskipun main blokir, sebenarnya sedang berupaya untuk tidak menunjukkan sifat otoriter di internet.

“Buktinya, sampai sekarang masih bisa baca tulisan ini atau posting rezim, mengecam pemerintah. Padahal jika beneran otoriter, dengan ‘satu tombol’ saja, pemerintah bisa dengan mudah mematikan permanen seluruh medsos dan platform messaging, termasuk mematikan akses ke penyelenggara VPN,” ujar Teguh.