Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Review Samsung Galaxy S20 Ultra: Serba Lebih, Meski Belum Sempurna

8 20.069

Kalau ada pepatah “di atas langit masih ada langit”, tahun ini, di atas seri Plus masih ada seri Ultra. Agak nggak nyambung ya? Entahlah, hanya itu yang terlintas di pikiran saya untuk mendeskripsikan penamaan Samsung Galaxy S20 Ultra, smartphone terbaik dari Samsung untuk mengawali tahun 2020. Samsung memutuskan untuk menghilangkan seri “e” dan menambahkan “Ultra” sebagai top-of-the-line lini Galaxy S series-nya tahun ini.

Samsung menargetkan Galaxy S20 Ultra untuk mereka yang ingin melakukan hal lebih banyak dari smartphone yang mereka gunakan. Smartphone ini bisa merekam video hingga resolusi 8K, dengan resolusi foto maksimum 108MP, dan embel-embel nama “5G” di belakangnya.

Kalau Galaxy S20+ aja sudah bagus, bagaimana dengan Galaxy S20 Ultra? Sesuai namanya, smartphone ini serba lebih. Lebih.. besar, bongsor, dengan kamera lebih banyak, lebih besar baik dimensi sensor dan resolusinya, lebih maksimal deh. Lalu apakah secara mutlak smartphone ini jadi yang lebih baik dari yang terbaik? Berikut ulasan dari Samsung Galaxy S20 Ultra.

Desain

bodi belakang Galaxy S20 Ultra

Ketika berpindah daily driver dari Xiaomi Mi Note 10 ke Galaxy S20 Ultra, rasanya seperti ada yang salah. Menggunakan smartphone dengan harga hampir tiga kali lipat lebih mahal, tentunya wajar apabila saya memasang ekspektasi kalau Galaxy S20 Ultra punya desain lebih baik. Nyatanya tidak juga.

Oke, perihal desain memang hal yang bisa dibilang subjektif. Bodi Galaxy S20 Ultra terlihat tegas, sebagian orang mungkin akan bilang desainnya kaku, dengan tonjolan kamera yang nggak nanggung di bagian belakangnya. Ketika digenggam, smartphone ini terasa kokoh dan mantap. Maklum, beratnya saja 229 gram. Memang Galaxy S20 Ultra mengingatkan saya akan masa-masa dulu menggunakan Lumia Windows Phone berlayar 6 inci, yang saat itu disebut “phablet”.

Beberapa orang yang saya berikan kesempatan untuk memegang smartphone ini suka dengan desain kakunya, serta dimensinya yang besar, terutama kalau dimensi tangan juga demikian. Bagian kamera belakang yang terlihat besar dengan tulisan “Space Zoom 100x” mudah terlihat ketika kita gunakan untuk menelepon, misalnya. Saya pun punya tangan besar, tapi ada beberapa hal yang bikin kurang nyaman saat menggenggam smartphone ini.

Menggunakan material kaca Gorilla Glass 6, S20 Ultra terasa sangat licin. Kalau permukaan tangan mudah basah seperti saya, selesai sudah. Ada rasa was-was hampir setiap saat, terutama pas lagi pakai satu tangan. Contohnya ketika kamu lagi rebahan santai sambil memegang smartphone, risiko untuk jatuh terselip menimpa wajah cukup tinggi (jangan ditiru, ya). Samsung juga seperti tidak memberikan lapisan anti-fingerprint di bodinya. Warna Cosmic Black yang saya uji gampang sekali terlihat kotor. Saran saya, pilih varian warna lain kalau tidak mau terlihat kotor setiap saat.

Bagian lain tak ada masalah. Transisi frame dan bagian depan serta belakang terasa halus di tangan, tombol-tombol juga nyaman meski harusnya bisa lebih presisi. Samsung juga memutuskan untuk mengurangi sisi lengkung panel layar depannya. Masih ada dan masih terlihat, tapi dibuat subtle sehingga lebih tidak mengganggu pengalaman saat menggunakan.

Samsung juga masih menggunakan sensor fingerprint ultrasonik di dalam layar Galaxy S20 Ultra. Rasanya tidak ada perbedaan dari generasi sebelumnya, relatif lebih lama dibandingkan sensor optikal yang memancarkan cahaya terang, walaupun sudah reliabel alias minim salah deteksi. Face unlock-nya juga bukan yang tercepat, jauh bila dibandingkan dengan saudara dari BBK Electronics seperti Oppo dan realme.

Layar

layar Galaxy S20 Ultra

Sempurna. Lanjut ke bagian berikutnya langsung ya. (Nggak gini, dong). Yah karena memang, Samsung Galaxy S20 Ultra punya layar terbaik dari semua smartphone yang pernah saya coba. Dimensinya sangat besar, 6,9 inci Dynamic AMOLED 2X dengan aspek rasio 20:9 dan kerapatan piksel 511ppi. Jangan kamu bayangkan karena hampir 7 inci, dimensinya sebesar tablet ya. Layarnya ramping, ditambah bezel di sekelilingnya yang sangat tipis, termasuk bezel bawah sekalipun.

kamera depan Galaxy S20 Ultra
Kamera depan punch-hole Galaxy S20 Ultra terletak di tengah dengan dimensi kecil.

Samsung juga hadirkan fitur refresh rate tinggi, 120Hz dengan touch sampling rate 240Hz. Fitur ini membuat pergerakan konten yang ada di layar Galaxy S20 Ultra terlihat sangat mulus. Sayangnya fitur ini tidak jalan dalam resolusi Quad HD, alias kamu harus menurunkan resolusi ke full HD. Masih bagus banget, kok. Setidaknya di mata saya.

refresh rate 120Hz
Kamu dapat memilih menggunakan refresh rate 60Hz maupun 120Hz di Galaxy S20 Ultra.

Layar Samsung Galaxy S20 Ultra juga sangat terang ketika digunakan di luar ruangan, mendekati 900 nits jika diperlukan. Untuk reproduksi warna, tidak bisa diragukan lagi. Meski menggunakan mode “Vivid”, Samsung bisa menyeimbangkan tone warna tertentu supaya tetap seimbang. Logo aplikasi di menu jadi berwarna, tapi ketika digunakan untuk menonton tv series, warna kulit masih cukup natural. Opsi tone natural dengan standar sRGB juga disediakan. Kamu juga bisa menikmati konten HDR langsung dari smartphone ini.

Oh ya, mungkin sebagian dari kamu pengguna Galaxy S20 Ultra yang cukup jeli akan melihat sedikit green tint ketika digunakan dalam kondisi gelap dengan brightness rendah. Saya sendiri memaklumi, mengingat hal seperti green tint & purple tint umum ditemukan di panel AMOLED. Namun ketika saya cari tahu lebih jauh, Samsung mengumumkan bahwa hal ini adalah bug software yang menyebabkan salah kalibrasi layar, dan akan diperbaiki pada pembaruan selanjutnya.

Kamera 100x Zoom Galaxy S20 Ultra

 

kamera galaxy S20 ultraBeralih membahas bagian kamera “Space Zoom 100x” yang dimiliki Galaxy S20 Ultra. Smartphone ini ‘hanya’ punya empat sensor kamera di bagian belakang. Sensor utamanya beresolusi 108MP f/1.8 dengan dimensi 1/1.33 inci, 0.8um pixel size, focal length 26mm, PDAF, OIS serta OIS. Sensor ini bisa digunakan untuk mengambil foto resolusi penuh, atau 12MP dengan teknologi nona-binning. Berbeda dari Xiaomi Mi Note 10 yang hasilkan foto 27MP, Samsung memutuskan untuk hasilkan foto resolusi 12MP dengan ukuran piksel individu lebih besar, mencapai 2.4um. Benefit yang bisa didapat dari nona-binning ini yaitu hasil foto yang lebih terang dalam kondisi low-light, reduksi noise plus kemampuan HDR yang lebih baik.

Di atasnya ada sensor kamera ultra wide-angle 12MP f/2.2 dengan ukuran piksel besar 1.4um, yang sayangnya belum dilengkapi dengan autofocus. Sementara di deretan paling bawah adalah sensor telefoto 48MP f/3.5 menggunakan lensa berbentuk periskop. Dimensinya cukup besar di 1/2 inci, dilengkapi PDAF dan juga OIS. Sementara di bawah lampu kilat ada sensor ToF untuk efek bokeh.

Tampilan antarmuka aplikasi kameranya cukup mudah untuk dipahami, meski banyak sekali mode yang bisa digunakan. Selain mode foto, video dan mode tersembunyi lainnya seperti panorama, night mode sampai pro video, Samsung hadirkan satu fitur baru yang dinamakan “Single Take”, terletak di sebelah kiri mode foto. Samsung mengutamakan kemampuan AI dalam mode ini. Tekan tombol shutter, dan Galaxy S20 Ultra akan mengabadikan momen selama 10 detik menggunakan beragam kamera yang ada. Hasil akhirnya adalah video pendek, video a-la efek Boomerang, foto dengan berbagai efek sampai time-lapse.

Sementara untuk akses ketiga kamera, kamu bisa menekan tiga tombol yang ada di atas mode foto. Paling kiri untuk ultra-wide, tengah menggunakan sensor 108MP, dan kanan untuk kamera periskop. Ketika salah satunya ditekan, opsi untuk zoom mulai 30-100x bisa dipilih, atau kamu bisa menggesernya untuk meraih tingkatan zoom sesuai selera. Ketika menggunakan zoom jauh, Samsung berikan fitur focus peaking a-la kamera DSLR profesional, mempermudah kamu mengarahkan kamera sesuai keinginan.

Untuk kondisi cahaya melimpah, tentu tidak ada komplain. Baik kamera ultra-wide, wide maupun telefoto bisa hasilkan foto dengan detil yang tinggi, serta reproduksi warna yang pas. Samsung terus meningkatkan akurasi white balance smartphone flagship-nya, dari yang dulu dikenal lebih warm atau hangat, kini semakin mendekati netral atau akurat. Buat saya, fitur zoom-nya masih sangat usable untuk pembesaran 5x sampai 10x. Kalau sudah 30x, kondisi sore sudah mulai terlihat agak buram. Sementara untuk menggunakan fitur 100x zoom, objek harus benar-benar jauh agar bisa fokus. Proses fokus juga cenderung lama atau terkadang susah, terutama kalau tangan tidak terlalu stabil.

Saat kondisi malam hari, Galaxy S20 Ultra juga bisa ambil foto dengan shutter relatif cepat. Tapi yang saya perhatikan, tendensi untuk mengurangi noise masih terlihat. Foto jadi terlihat sedikit lebih halus demi noise minim, walaupun reproduksi warna masih terjaga. Penggunaan sensor telefoto saat kondisi malam juga harus dihindari, terutama untuk pembesaran lebih dari 5x. Tapi tenang, Samsung menyediakan night mode yang cukup membantu.

night mode Galaxy S20 Ultra

Kalau di Galaxy S10 belum dilengkapi night mode dari bawaan (yang kemudian datang lewat pembaruan software), Galaxy S20 Ultra sudah dilengkapi night mode dan kompatibel untuk ketiga sensor kamera utamanya. Saat saya uji dalam kondisi luar ruangan malam hari, ketika menggunakan sensor utama, akan terlihat tanda jika kamera akan mengambil foto selama 4 detik.

Dalam kondisi yang sama, dua kamera lainnya butuh waktu 8 detik. Informasi yang simpel nan informatif, tak seperti Google Pixel yang harus tebak-tebakan kameranya akan mengambil foto berapa lama. Dan ketika satu foto berhasil diambil, kamu bisa langsung ambil foto lagi tanpa harus menunggu proses foto sebelumnya selesai. Pun proses-nya terjadi cukup cepat berkat penggunaan chipset yang kencang.

Yang kurang menurut saya ada pada bagian fokus kameranya. Berbeda dari Galaxy S20 & S20+ dengan Dual Pixel AF, S20 Ultra pakai teknologi PDAF yang bisa dikatakan lebih sederhana. Pengambilan fokusnya terasa agak lama untuk standar smartphone flagship, bahkan jika dibandingkan dengan Mi Note 10 yang di atas kertas punya sensor kamera sama, malah dengan chipset lebih sederhana.

Ketika saya bandingkan keduanya saat ambil foto objek dekat, Galaxy S20 Ultra lebih sering salah menempatkan fokus, membuat keseluruhan foto nampak seperti out-of-focus. Bahkan objek sudah disentuh, fokusnya tidak bisa instan, atau tetap tidak fokus. Sebagai catatan, unit sudah menggunakan software versi ATCT dengan security patch April 2020. Ini bukan pembaruan pertama yang mendatangkan peningkatan performa kamera.

Isu lain dengan sensor besar, sama seperti Mi Note 10, adalah rentang fokus yang sempit terutama saat memotret objek dalam jarak dekat. Serta yang menurut saya kurang, adalah efek bokeh yang dihasilkan oleh mode Live Focus. Ketika digunakan untuk memotret objek seperti ponsel dan makanan, tak jarang saya lebih puas dengan efek background blur yang dihasilkan oleh Pixel 3 saya, murni menggunakan olah software tanpa bantuan sensor ToF.

Hasil foto kamera ultra wide-angle.
Menggunakan sensor telefoto 5x zoom.
30x zoom.
Menggunakan mode Live Focus.
Night mode, kamera ultra wide-angle.
Night mode, kamera utama.
Night mode, 5x zoom.

Untuk perekaman video, Galaxy S20 Ultra bisa merekam hingga 4K 60fps bahkan 8K 24 fps. Dengan kondisi saat ini dimana jaringan internet cepat belum tersedia secara merata, plus rata-rata televisi dan layar laptop yang masih lebih umum pada resolusi full HD, saya rasa fitur ini hanya cocok sebagai bonus saja. Super Steady tidak tersedia pada mode ini, jadi mungkin hanya cocok untuk perekaman menggunakan tripod, dalam kondisi cahaya melimpah untuk kebutuhan cropping.

Sementara pada perekaman 30fps, video Samsung Galaxy S20 Ultra bisa dilengkapi auto HDR plus focus tracking. Ketika video diperbesar, audio juga akan mengikuti tingkatan zoom secara otomatis. Transisi atau perpindahan antar kamera selama perekaman juga terasa cukup halus, mendekati iPhone 11 series.

Kamera depan 40MP f/2.2 pada S20 Ultra dilengkapi PDAF, dan menggunakan teknologi quad-binning untuk hasilkan foto 10MP. Dibandingkan generasi sebelumnya, sudah jauh lebih baik dalam hal ketajaman atau detil wajah. Walaupun bukan yang terbaik untuk kelas flagship. Kamera depannya juga dilengkapi night mode, EIS dan bisa rekam video sampai 4K 60fps.

Hasil foto lengkap dari Samsung Galaxy S20 Ultra bisa kamu akses pada album berikut ini.

Fitur

Samsung Galaxy S20 Ultra sudah menggunakan tampilan antarmuka One UI 2.1 berbasis Android 10. Security patch-nya juga sudah yang terbaru saat ini, Samsung memang tidak kalah rajin untuk memperbarui keamanan smartphone flagship-nya. Menurut saya, One UI adalah tampilan antarmuka yang paling matang serta mudah untuk digunakan. Meski layarnya besar, hampir seluruh tombol bisa diraih dengan satu tangan berkat peletakannya yang praktis.

one ui 2.1 Galaxy S20 Ultra

Fitur-fiturnya juga bermanfaat, kecuali Bixby yang belum se-optimal Google Assistant. Ketika awal saya menggunakan smartphone ini, saya kebingungan karena menahan tombol power justru memunculkan Bixby, alih-alih menampilkan opsi untuk mematikan daya. Ternyata saya harus menggantinya lewat menu Settings. Opsi untuk double press dan press and hold bisa diatur sesuka hati. Cuma saya agak menyayangkan aja, Bixby jadi opsi terpilih secara default, jadi sedikit membingungkan di awal. Fitur-fitur lain seperti built-in screen recorder serta Edge shortcut juga tersedia. Multitasking juga gampang banget berkat adanya opsi tambahan pop-up view, selain split screen.

Baca juga: Tips: Mengaktifkan Focus Mode di Samsung Galaxy Saat Bekerja & Belajar #DiRumahAja

Samsung Galaxy S20 Ultra juga sudah dilengkapi speaker stereo. Yang saya suka, output suara dari kedua speaker terdengar seimbang dalam hal volume serta kualitas, biasanya speaker bawah lebih dominan. Walaupun keras, detailnya masih pas dan tidak pecah, jadi nyaman banget untuk dipakai menonton serial tv ataupun film. Vibration motornya juga bisa hasilkan getaran presisi. Oh ya, walaupun dimensinya besar, S20 Ultra tetap tidak dilengkapi dengan jack audio 3,5mm ya.

Performa

Unit yang kami uji adalah varian resmi dengan chipset Exynos 990 dari Samsung. Untuk negara bagian lain seperti Amerika Serikat, Samsung Galaxy S20 series ditenagai chipset Snapdragon 865 mikik Qualcomm. Banyak yang menyayangkan keputusan Samsung untuk rilis smartphone dengan dua varian chipset berbeda, karena bisa mempengaruhi berbagai sisi penggunaan seperti daya tahan baterai bahkan hasil kamera.

Samsung Exynos 990 punya arsitektur CPU octa-core (2×2.73 GHz Mongoose M5 & 2×2.50 GHz Cortex-A76 & 4×2.0 GHz Cortex-A55) plus GPU Mali-G77 MP11. Sama-sama dibuat dengan fabrikasi 7nm, secara performa, tidak ada masalah dengan Galaxy S20 Ultra varian Exynos. Yah jangan sampai ya, mengingat ini flagship. Semuanya terasa mulus dan cepat, ditambah dengan refresh rate tinggi yang bikin pindah aplikasi terasa menyenangkan. Dipakai nge-game juga lancar banget, paduan performa yang kencang plus layar responsif membuat S20 Ultra cocok dipakai nge-game.

benchmark galaxy s20 ultra
Skor AnTuTu Benchmark (kiri) & GeekBench 5 Galaxy S20 Ultra.

RAM-nya sudah sangat lega, berkapasitas 12GB. Yang sangat sangat disayangkan adalah keputusan Samsung Indonesia untuk rilis smartphone ini dengan varian memori internal 128GB. Dengan foto beresolusi 108MP, video 8K dan mode single take, mudah sekali untuk menghabiskan memori yang tergolong kecil untuk kelas flagship tersebut. Dukungan microSD hingga 1TB memang ada, tapi kecepatan kartu eksternal tidak bisa menyamai UFS 3.0 pada internal S20 Ultra.

Dan sedikit catatan tambahan, smartphone ini relatif mudah terasa hangat di bagian belakang bodi, terutama bagian tengah dan atas sebelah modul kamera. Walaupun sekadar digunakan untuk akses media sosial, hangatnya cukup terasa apalagi jika tanpa menggunakan case, dan agak mendekati panas ketika digunakan sebagai mobile hotspot.

Baterai

Samsung Galaxy S20 Ultra punya kapasitas baterai 5.000 mAh, terbesar sepanjang sejarah ponsel flagship Samsung. Wajar saja, smartphone ini didesain dengan kemampuan jaringan 5G, layar yang sangat besar, plus fitur kamera melimpah yang kalau digunakan semua, bisa menghabiskan banyak daya. Menurut saya, smartphone ini tergolong irit, meski tidak bisa sampai dua hari penggunaan.

Sebagai catatan, saya selalu menggunakan mode refresh rate 120Hz dengan AOD aktif. Untuk penggunaan intensif ala saya, Galaxy S20 Ultra bisa menyala seharian dengan screen-on time sekitar 6 jam. Ketika malem, masih ada sisa baterai yang cukup sampai keesokan paginya. Nah, pengecasannya tidak memerlukan waktu lama. Samsung menyertakan charger 25 watt dalam paket penjualan, tetapi Galaxy S20 Ultra mendukung charger hingga 45 watt. Lewat GaN charger yang saya punya, mengisi daya S20 Ultra dari 5% sampai penuh dengan kondisi menyala hanya perlu waktu sekitar satu jam.

Galaxy S20 Ultra juga mendukung wireless charging sampai 15 watt. Perlu? isi daya earphone TWS atau smartwatch ketika kondisi mendadak? Kamu bisa memanfaatkan fitur Wireless PowerShare. Nyalakan fitur ini, balik menghadap ke bawah, dan kamu tinggal taruh perangkat aksesoris di bagian back cover.

Versi Bahasa Inggris dari artikel review ini bisa dibaca di Gizmologi.com.

Kesimpulan

galaxy s20 ultra

Mungkin dalam ulasan kali ini saya lebih banyak menyampaikan hal-hal kecil yang kurang sempurna di Samsung Galaxy S20 Ultra. Hal tersebut mungkin saya maklumi ketika smartphone tersebut dibanderol seharga Rp2 jutaan. Atau, misal, ketika realme X2 Pro tak punya kualitas kamera sebaik flagship lain, saya maklumi mengingat performa yang bisa diberikan untuk harga Rp7 jutaan. Atau Mi Note 10 yang punya proses ambil foto agak lambat, tapi secara keseluruhan baik untuk harga Rp6 jutaan.

Kondisinya jauh berbeda dengan Galaxy S20 Ultra yang dibanderol seharga Rp18,499 juta. Merogok kocek lebih hampir Rp20 juta, tentu kamu mendambakan smartphone yang semuanya sempurna. Mulai dari desain, performa, kamera, kualitas audio, daya tahan baterai, semuanya. Ketika smartphone murah sudah semakin baik, smartphone flagship serasa tidak boleh punya kekurangan.

Saya pribadi lebih memilih Galaxy S20+ dengan banderol harga lebih murah. Meski kemampuan zoom-nya tak sejauh versi Ultra, kamera bebas dari isu fokus, serta dimensinya yang lebih pas di tangan, serta desain fisik yang masih terlihat lebih menarik. Lagi-lagi, ini hal yang subjektif. Kalau kamu memang mendambakan smartphone berlayar super besar dengan kualitas terbaik, kamera fleksibel yang bisa zoom sampai 100x, tak ada salahnya untuk membeli Samsung Galaxy S20 Ultra.


Beli Smartphone Samsung di:

ERASPACE.com Lazada.co.id Shopee.co.id Blibli JD.ID Tokopedia.com

 Spesifikasi Samsung Galaxy S20 Ultra

samsung galaxy s20 ultra
klik gambar untuk spesifikasi lebih lanjut

General

Device Type smartphone
Model / Series Samsung Galaxy S20 Ultra
Released 04 Maret, 2020
Status Available
Price Rp 18.499.000 (12/128GB) (launch price)

Platform

Chipset Exynos 990 (7nm+)
CPU Octa Core (Dual 2,73GHz Mongoose M5 + Dual 2,50GHz Cortex-A76 + Quad 2.0GHz Cortex-A55)
GPU Mali-G77 MP11
RAM (Memory) 12 GB RAM
Storage 128 GB, support Micro SD Slot Up to 1 TB
Operating System Android 10
User Interface Samsung One UI 2.1

Design

Dimensions 166.9 x 76 x 8.8mm
Weight 222 g
Design Features 3D Curved Edge Design, Gorilla Glass 6 front & back, aluminium frame
Warna: Cosmic Grey, Cosmic Black
Battery Non-removable 5,000 mAh battery
Fast battery charging 45W
Fast wireless charging 15W
Reverse wireless charging 9W

Network

Network Frequency GSM/ HSPA/ LTE/5G SA/NSA/Sub6/mmWave (locked)
SIM Dual SIM (Nano-SIM, dual stand-by)

Display

Screen Type Infinity-O Dynamic AMOLED 2X
Size and Resolution 6.9-inch QHD+ (1440x3200), 20.:9 ratio (~511 ppi density)
Touch Screen capacitive touchscreen
Features Corning Gorilla Glass 6
HDR10+
Always-on display
120Hz refresh rate (@1080p)
In-display fingerprint sensor (ultrasonic)

Camera

Multi Camera Yes (Rear)
Rear Main: 108MP, F1.8, OIS Telephoto: 48MP, F3.5, OIS Ultra Wide: 12MP, F2.2 ToF Sensor
Front 40MP (F2.2) wide, PDAF
Flash Yes
Video 8K @24fps, 4K @60fps
Camera Features LED flash, panorama, HDR, Night mode, Super steady video, Pro video mode, gyro-EIS+OIS, stereo sound recorder

Connectivity

Wi-fi Wi-Fi is a popular wireless networking technology using radio waves to provide high-speed network connections that allows devices to communicate without cords or cables, Wi-Fi is increasingly becoming the preferred mode of internet connectivity all over the world. Wi-Fi 802.11 a/b/g/n/ac, dual-band, WiFi Direct, hotspot
Bluetooth Bluetooth is a wireless communications technology for exchanging data between mobile phones, headsets, computers and other network devices over short distances without wires, Bluetooth technology was primarily designed to support simple wireless networking of personal consumer devices. 5.0, A2DP, LE
USB 2.0, Type-C 1.0 reversible connector
GPS GPS The Global Positioning System is a satellite-based radio navigation system, GPS permits users to determine their position, velocity and the time 24 hours a day, in all weather, anywhere in the world, In order to locate your position, your device or GPS receiver must have a clear view of the sky. Yes, with A-GPS, GLONASS, BDS
HDMI HDMI (High-Definition Multimedia Interface) is a compact audio/video interface for transferring uncompressed video data and compressed or uncompressed digital audio data from a HDMI-compliant source device to a compatible computer monitor, video projector, digital television, or digital audio device. No
Wireless Charging Wireless Charging (Inductive Charging) uses an electromagnetic field to transfer energy between two objects. This is usually done with a charging station. Energy is sent through an inductive coupling to an electrical device, which can then use that energy to charge batteries or run the device. Yes
NFC NFC (Near field communication) is a set of standards for smartphones and similar devices to establish peer-to-peer radio communications with each other by touching them together or bringing them into proximity, usually no more than a few inches.
Infrared Infrared connectivity is an old wireless technology used to connect two electronic devices. It uses a beam of infrared light to transmit information and so requires direct line of sight and operates only at close range. No

Smartphone Features

Multimedia Features - Active noise cancellation with dedicated mic
FM Radio Yes
Web Browser Web Browser => a web browser is a software application used to locate, retrieve and display content on the World Wide Web, including Web pages, images, video and other files, The primary function of a web browser is to render HTML, the code used to design or markup webpages. HTML5
Messaging SMS; MMS
Sensors Sensors are electronic components that detects and responds to some type of input from the physical environment. The specific input could be light, heat, motion, moisture, pressure and location, The output is generally a signal that is converted to use in computing systems, a location sensor, such as a GPS receiver is able to detect current location of your electronic device. Fingerprint (under display, ultrasonic), accelerometer, gyro, proximity, compass, barometer
Other Samsung Pay, Bixby Home, Bixby Reminder, Dolby Atmos, Samsung Knox
88%
Awesome

Review Samsung Galaxy S20 Ultra

Samsung mencoba untuk rilis flagship terbaik melalui Galaxy S20 Ultra, membawa kamera beresolusi tinggi dengan kemampuan zoom 100x & perekaman video 8K, sayangnya dengan beberapa fitur yang kurang optimal.

Beli
Galaxy S20 di Eraspace
  • Design
  • Display
  • Camera
  • Performance
  • Features
  • Battery