Jakarta, Gizmologi – Pengiriman smartphone global turun 11% secara tahunan (YoY) pada Q2 2026 menurut Counterpoint Research, menyentuh volume terendah untuk periode kuartal kedua sejak 2013. IDC merevisi proyeksi pasar sepanjang 2026 menjadi minus 13,9%, yang jika terealisasi akan menjadikan 2026 sebagai tahun dengan kontraksi terbesar dalam sejarah industri smartphone modern.
Key Takeaways: Fakta Kunci Pasar Smartphone Q2 2026
- Penurunan global: Pengiriman smartphone turun 11% YoY pada Q2 2026 — terendah sejak 2013 (Counterpoint Research)
- Proyeksi tahunan: IDC memperkirakan penurunan penuh 2026 mencapai minus 13,9%, kontraksi terbesar dalam sejarah pasar smartphone
- Pemimpin pasar: Samsung memimpin dengan pangsa 24%; Apple mencatat rekor 20% pangsa pasar kuartal kedua
- Kenaikan harga: Di sejumlah negara berkembang, harga smartphone naik 40–50% akibat krisis komponen memori (IDC)
- Indonesia — segmen premium: Smartphone di atas US$600 menyumbang 8,3% pengiriman di Indonesia — tertinggi sepanjang sejarah — dan tumbuh 30% YoY (Counterpoint Research)
- Pendorong utama: Kelangkaan DRAM dan NAND akibat lonjakan permintaan server AI menjadi akar penyebab kenaikan biaya produksi
Kuartal kedua tahun ini, industri smartphone global kembali menghadapi tantangan besar. Setelah sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan dalam beberapa kuartal terakhir, pengiriman smartphone kembali turun dan bahkan menyentuh level terendah untuk periode kuartal kedua dalam lebih dari satu dekade.
Namun, perlambatan kali ini berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya. Jika pandemi, inflasi, dan lemahnya daya beli sempat menjadi faktor utama, kini industri dihadapkan pada persoalan yang lebih mendasar: biaya produksi yang terus meningkat akibat krisis pasokan memori.
- 1. Pasar smartphone global kembali memasuki fase sulit
- 2. Krisis memori membuat HP murah semakin sulit ditemukan
- 3. Samsung dan Apple semakin diuntungkan
- 4. Indonesia mulai menunjukkan tren premiumisasi
- 5. AI kini menjadi alasan utama orang mengganti smartphone
- Industri smartphone sedang memasuki babak baru
- FAQ
- Mengapa pasar smartphone global turun pada Q2 2026?
- Mengapa Samsung dan Apple tetap tumbuh?
- Apakah Indonesia sudah memasuki era premiumisasi?
Kondisi tersebut memaksa produsen menaikkan harga jual, mengurangi jumlah model di kelas bawah, hingga mengalihkan fokus ke perangkat premium yang menawarkan margin keuntungan lebih besar. Dampaknya mulai terasa secara global, termasuk di Indonesia.
Laporan terbaru Counterpoint Research mencatat pengiriman smartphone global turun 11% secara tahunan (YoY) pada Q2 2026, sementara IDC memperkirakan sepanjang tahun ini akan menjadi periode penurunan terdalam dalam sejarah pasar smartphone modern.
Lalu, apa saja perubahan besar yang sedang terjadi?
1. Pasar smartphone global kembali memasuki fase sulit

Counterpoint mencatat pengiriman smartphone global pada Q2 2026 turun 11% dibanding periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut membuat volume pengiriman kuartal kedua menjadi yang terendah sejak 2013.
Temuan itu sejalan dengan data IDC yang sebelumnya melaporkan penurunan 2,9% pada Q1 2026. Bahkan, IDC merevisi proyeksi pasar smartphone sepanjang tahun menjadi minus 13,9%, lebih buruk dibanding perkiraan sebelumnya. Jika prediksi tersebut terealisasi, 2026 akan menjadi tahun dengan kontraksi terbesar sepanjang sejarah industri smartphone.

Yang menarik, penurunan ini terjadi ketika inovasi perangkat justru semakin agresif. Hampir semua vendor berlomba menghadirkan fitur AI generatif, kamera yang lebih canggih, hingga chipset terbaru. Artinya, persoalan utama bukan lagi minimnya inovasi, melainkan meningkatnya biaya untuk menghadirkan perangkat tersebut ke tangan konsumen.
2. Krisis memori membuat HP murah semakin sulit ditemukan

Penyebab terbesar perlambatan pasar kali ini berasal dari kelangkaan komponen memori DRAM dan NAND. Meningkatnya permintaan untuk server AI dan pusat data membuat produsen memori lebih memprioritaskan pasokan ke sektor tersebut dibanding perangkat konsumen. Akibatnya, biaya produksi smartphone ikut melonjak.
Produsen smartphone akhirnya berada dalam posisi yang sulit. Mereka harus memilih antara menaikkan harga jual atau mengorbankan margin keuntungan.
IDC mencatat di sejumlah negara berkembang, harga smartphone telah naik hingga 40–50% akibat meningkatnya biaya komponen. Tekanan tersebut semakin besar karena kenaikan biaya logistik dan energi yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah.
Situasi ini paling terasa di segmen entry-level. Smartphone murah yang selama ini menjadi tulang punggung penjualan mulai kehilangan daya tarik karena selisih harga dengan perangkat kelas menengah semakin tipis. Banyak konsumen akhirnya memilih menunda pembelian, mempertahankan perangkat lama, atau beralih ke smartphone refurbished.
Fenomena inilah yang membuat banyak analis mulai menilai era smartphone murah perlahan mulai berakhir.
3. Samsung dan Apple semakin diuntungkan

Di tengah pasar yang melemah, Samsung dan Apple justru berhasil memperkuat posisinya. Counterpoint mencatat Samsung kembali menjadi pemimpin pasar global pada Q2 2026 dengan pangsa pasar 24%. Keberhasilan tersebut didorong oleh performa Galaxy S26 Series, khususnya varian Ultra, yang mendapat respons positif berkat fitur Galaxy AI, privacy display, serta kemampuan Samsung menjaga pasokan komponennya lebih stabil dibanding kompetitor.
Apple juga mencatat hasil yang positif. Pengiriman iPhone tumbuh 3% secara tahunan dan pangsa pasarnya mencapai rekor 20% pada kuartal kedua. Menariknya, Apple menjadi satu-satunya vendor besar yang tidak menaikkan harga perangkatnya secara signifikan selama periode tersebut.
Sementara itu, Xiaomi, OPPO, dan vivo justru mengalami penurunan dua digit. Ketiganya memiliki ketergantungan yang lebih besar pada segmen entry-level dan menengah, sehingga lebih rentan terhadap kenaikan biaya produksi.
IDC juga melihat pola yang sama. Samsung dan Apple dinilai memiliki daya tawar yang lebih kuat terhadap pemasok memori sehingga mampu mempertahankan pertumbuhan ketika sebagian besar vendor Android lainnya menghadapi tekanan.
4. Indonesia mulai menunjukkan tren premiumisasi

Perubahan yang terjadi di pasar global ternyata mulai tercermin di Indonesia. Menurut Counterpoint, pengiriman smartphone Indonesia turun 9% secara tahunan pada Q1 2026. Padahal, kondisi ekonomi nasional saat itu relatif stabil. Faktor utama yang menekan pasar kembali mengarah pada kenaikan harga perangkat akibat inflasi komponen memori. Beberapa smartphone bahkan mengalami kenaikan harga antara 7% hingga 45%.
Segmen entry-level menjadi yang paling terdampak. Banyak konsumen memilih menunda pembelian atau beralih ke perangkat bekas. Di sisi lain, pasar premium justru mencatat pertumbuhan yang cukup mengejutkan.
Counterpoint mencatat smartphone dengan harga di atas US$600 kini menyumbang 8,3% dari total pengiriman smartphone Indonesia, menjadi kontribusi tertinggi sepanjang sejarah. Segmen ini juga tumbuh sekitar 30% dibanding tahun sebelumnya, didorong oleh meningkatnya penjualan iPhone serta performa Samsung Galaxy S26 Series.
Data tersebut memang belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Indonesia sepenuhnya memasuki era premiumisasi. Namun, arahnya mulai terlihat jelas. Vendor semakin fokus menghadirkan produk dengan nilai jual lebih tinggi, sementara konsumen yang memiliki daya beli tetap bersedia membayar lebih untuk mendapatkan pengalaman AI, kamera yang lebih mumpuni, serta dukungan software yang lebih panjang.
5. AI kini menjadi alasan utama orang mengganti smartphone

Perubahan lain yang tidak kalah penting adalah bergesernya alasan konsumen membeli smartphone baru. Jika beberapa tahun lalu peningkatan performa chipset atau jumlah megapiksel kamera menjadi daya tarik utama, kini AI mulai mengambil peran tersebut.
Samsung mengandalkan Galaxy AI, Apple menghadirkan Apple Intelligence, sementara Google, Xiaomi, OPPO hingga vivo terus memperluas fitur AI generatif untuk fotografi, produktivitas, pencarian, penerjemahan, hingga pengeditan gambar.
Kehadiran AI membuat smartphone flagship menawarkan pengalaman yang jauh lebih berbeda dibanding perangkat kelas menengah. Hal inilah yang ikut mendorong pertumbuhan segmen premium meskipun kondisi pasar secara keseluruhan sedang melemah.
Sebaliknya, smartphone murah semakin sulit memberikan diferensiasi yang benar-benar terasa oleh konsumen. Ketika harga perangkat ikut naik, banyak pengguna memilih menunda upgrade dibanding membeli perangkat baru dengan peningkatan yang dianggap belum signifikan.
Industri smartphone sedang memasuki babak baru

Jika melihat data Counterpoint dan IDC secara berdampingan, terlihat bahwa industri smartphone tidak sekadar mengalami penurunan penjualan. Yang sedang berlangsung adalah perubahan struktur pasar.
Selama bertahun-tahun, produsen berlomba menghadirkan smartphone dengan harga semakin murah untuk mengejar volume penjualan. Kini strategi tersebut mulai bergeser. Meningkatnya biaya komponen membuat vendor lebih fokus pada perangkat premium, layanan berbasis AI, serta ekosistem yang mampu memberikan margin keuntungan lebih tinggi.
Bagi konsumen Indonesia, kondisi ini kemungkinan akan membuat siklus pergantian smartphone semakin panjang. Program trade-in, cicilan tanpa bunga, hingga pasar smartphone refurbished diperkirakan akan semakin berkembang sebagai alternatif bagi pengguna yang ingin menikmati teknologi terbaru tanpa harus membeli perangkat baru dengan harga penuh.
Sementara bagi produsen, kemampuan menghadirkan pengalaman AI yang benar-benar bermanfaat, menjaga efisiensi rantai pasok, serta membangun ekosistem yang kuat akan menjadi faktor penentu dalam memenangkan persaingan beberapa tahun ke depan.
Dengan kata lain, 2026 bukan hanya menjadi tahun ketika pasar smartphone melambat. Tahun ini bisa menjadi titik awal perubahan besar, ketika industri mulai meninggalkan persaingan berbasis harga menuju kompetisi yang bertumpu pada inovasi AI, pengalaman pengguna, dan nilai tambah sebuah ekosistem.
FAQ
Mengapa pasar smartphone global turun pada Q2 2026?
Karena krisis pasokan memori DRAM dan NAND membuat biaya produksi naik sehingga harga smartphone meningkat dan konsumen menunda pembelian.
Mengapa Samsung dan Apple tetap tumbuh?
Karena keduanya memiliki pasokan memori yang lebih stabil, basis pengguna premium yang kuat, serta tidak terlalu bergantung pada smartphone entry-level.
Apakah Indonesia sudah memasuki era premiumisasi?
Belum sepenuhnya, tetapi indikatornya mulai terlihat. Counterpoint mencatat segmen smartphone premium (>US$600) mencapai rekor 8,3% dari total pasar Indonesia pada Q1 2026.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

