NVIDIA mengumumkan investasi sekitar Rp57 triliun ke MediaTek, sekaligus memperluas kerja sama kedua perusahaan di sektor chip dan infrastruktur AI. Investasi tersebut dilakukan melalui pembelian obligasi konversi yang diterbitkan MediaTek. Jika nantinya dikonversi menjadi saham, NVIDIA berpotensi memiliki kepemilikan ekuitas yang cukup signifikan di perusahaan asal Taiwan tersebut.
Kerja sama NVIDIA dan MediaTek sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Keduanya sudah terlibat dalam pengembangan GB10, SoC yang digunakan pada produk NVIDIA RTX Spark serta workstation mini DGX Spark. Namun, kolaborasi terbaru ini membawa hubungan keduanya ke tingkat yang lebih luas melalui ekosistem NVLink Fusion.
Melalui pendekatan tersebut, MediaTek nantinya dapat menawarkan teknologi NVLink Fusion kepada para pelanggannya, termasuk perusahaan yang mengembangkan ASIC dan XPU untuk kebutuhan AI. Langkah ini memungkinkan akselerator non-NVIDIA terhubung ke infrastruktur NVLink, yang selama ini menjadi salah satu teknologi penting dalam pengembangan sistem AI skala besar.
Baca Juga: SK hynix Prediksi Krisis Memori Berlanjut hingga 2030, Harga Tetap Tinggi
MediaTek Bawa NVLink Fusion ke Pelanggan ASIC

NVLink Fusion pada dasarnya merupakan platform yang memungkinkan prosesor dan akselerator dari pihak lain berintegrasi dengan fabric NVLink. MediaTek akan membantu pelanggan menghubungkan XPU mereka menggunakan koneksi berbasis copper maupun photonic, termasuk NVLink-C2C untuk komunikasi berbandwidth tinggi antar-chip.
Selain konektivitas, MediaTek juga akan menawarkan NVHBM kepada pelanggan. Teknologi memori tersebut mengintegrasikan memory controller ke dalam stack HBM 3D. Perusahaan Jensen Huang mengklaim NVHBM mampu memberikan bandwidth hingga 30% lebih tinggi, konsumsi daya HBM 15% lebih rendah, serta ruang die komputasi hingga 25% lebih besar dibandingkan HBM4E.
Targetkan Pengembangan Chip AI Lebih Cepat
Kerja sama ini juga mencakup proses pengembangan ASIC secara lebih menyeluruh. Pelanggan dapat menyerahkan desain dan proses manufaktur kepada MediaTek, sementara teknologi NVIDIA digunakan untuk aspek konektivitas, arsitektur memori, packaging, manufaktur hingga teknologi rack-scale.
Bagi perusahaan yang ingin mengembangkan akselerator AI sendiri, pendekatan ini berpotensi memangkas waktu pengembangan sekaligus mempercepat proses menuju prototipe dan produksi massal. Namun, langkah tersebut juga memperlihatkan bagaimana NVIDIA berusaha memperluas pengaruh NVLink di luar chip buatannya sendiri. Dengan MediaTek sebagai mitra, NVIDIA tidak hanya menjual GPU, tetapi juga berupaya menjadikan teknologi interkoneksinya sebagai bagian dari ekosistem chip AI yang lebih luas.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

