Jakarta, Gizmologi – Ledakan akal imitasi (AI) ternyata bukan hanya membuka peluang bagi perusahaan chip seperti NVIDIA atau operator pusat data. Perusahaan energi pun kini mulai berlomba mengambil peran dalam membangun infrastruktur AI, salah satunya adalah GCL Energy Technology (GCL ET).
Fanzhong Zeng, Head of Strategic Development Center GCL ET mengungkapkan bahwa Asia Tenggara kini menjadi salah satu wilayah prioritas untuk mendukung pertumbuhan AI Data Center, dengan Indonesia masuk dalam daftar pasar strategis. Perusahaan energi asal Suzhou, China, tersebut menawarkan solusi energi hijau dan sistem kelistrikan terintegrasi.
Menurutnya, masa depan industri AI tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan komputasi, tetapi juga oleh ketersediaan energi yang stabil, efisien, dan rendah emisi. Oleh karena itu, perusahaan mengembangkan sistem terintegrasi yang menghubungkan pembangkit listrik, penyimpanan energi, perdagangan listrik, hingga infrastruktur komputasi AI.
Untuk pengembangan ini, GCL ET sejak 2023 telah menggelontorkan investasi sebesar 800 juta RMB (sekitar Rp2,1 triliun) pada layanan daya komputasi, termasuk untuk infrastruktur komputasi AI berbasis sistem NVIDIA A800 dan H800.
Perlombaan AI Kini Beralih ke Infrastruktur Energi

Industri teknologi kini disibukkan oleh persaingan mengembangkan model AI generatif dan membangun pusat komputasi berkapasitas besar. Perusahaan teknologi berlomba mengumpulkan GPU terbaru, memperluas kapasitas pusat data, hingga membangun model AI yang semakin kompleks. Dalam beberapa tahun terakhir, AI telah masuk ke berbagai sektor industri dan digunakan dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari analisis data, pemrosesan dokumen, optimasi rekayasa, hingga proses bisnis perusahaan.
Namun menurut GCL ET, ada satu tantangan yang mulai menjadi perhatian utama industri, yakni bagaimana menyediakan energi yang cukup untuk mengoperasikan seluruh infrastruktur tersebut. “Setelah investasi GPU, biaya listrik menjadi salah satu komponen operasional terbesar AI Data Center,” kata Zeng, dalam keterangan tertulis yang diterima Gizmologi di Jakarta (29/6).
Melihat pertumbuhan tersebut, GCL ET meyakini seiring bertambahnya kebutuhan komputasi, konsumsi energi pun akan meningkat dalam skala yang sama. Karena itu, perusahaan mengembangkan strategi yang mereka sebut sebagai integrasi Power and Compute. Sederhananya, perusahaan tidak hanya ingin menjual listrik, tetapi menyediakan solusi lengkap mulai dari pembangkit energi terbarukan, sistem penyimpanan energi (energy storage), perdagangan listrik (power trading), hingga manajemen konsumsi energi berbasis AI.
Di sisi lain, AI juga digunakan untuk mengoptimalkan operasional sektor energi, mulai dari pengelolaan pembangkit listrik, distribusi daya, hingga perdagangan listrik secara otomatis. Menurut Zeng, kombinasi tersebut akan menciptakan hubungan timbal balik antara AI dan energi. “AI membutuhkan listrik. Sebaliknya, AI juga membuat sistem energi menjadi jauh lebih efisien.”
Mengapa Indonesia Menjadi Pasar Penting

Di antara berbagai negara Asia Tenggara, Indonesia menjadi salah satu fokus utama ekspansi GCL ET. Alasannya, negara ini memiliki kebutuhan energi yang terus meningkat, pasar digital yang berkembang pesat, serta mulai menarik investasi pembangunan pusat data berskala besar.
Ketertarikan GCL ET terhadap Indonesia bukan sekadar wacana. Saat ini mereka telah memenangkan dua proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas masing-masing 100 MW melalui kerja sama dengan PLN. Proyek tersebut mencakup pembangkit surya darat (ground-mounted solar) yang berlokasi di Banyuwangi maupun PLTS terapung (floating photovoltaic) di Gajahmungkur.
Tidak hanyai itu, perusahaan juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan PT Pertamina Power Indonesia (PPI) untuk mengeksplorasi berbagai peluang kerja sama, mulai dari pembangkit listrik berbasis sampah (waste-to-energy), pembangkit listrik tenaga gas, proyek PLTS terintegrasi dengan sistem penyimpanan energi, hingga layanan operasi pembangkit.
Salah satu contoh nyata dari inisiatif ini adalah proyek pembangkit listrik tenaga sampah (waste-to-energy) di Jakarta Timur. Fasilitas tersebut dirancang untuk dapat memproses hingga 1.428 ton sampah kota setiap harinya sambil menghasilkan energi listrik, yang mencerminkan pendekatan inovatif perusahaan dalam mengintegrasikan manajemen limbah dengan produksi energi.
Asia Tenggara Jadi Episentrum Baru

Meski Indonesia menjadi salah satu fokus utama, tetapi tidak perlu merasa spesial. Menurut Zeng, salah satu alasan perusahaan membidik Indonesia adalah posisi Singapura. Selama ini Singapura dikenal sebagai pusat data terbesar di Asia Tenggara. Namun keterbatasan lahan dan kapasitas listrik membuat banyak proyek AI Data Center baru mulai bergeser ke negara-negara tetangga seperti Malaysia, Indonesia, dan Thailand.
Fenomena ini juga mulai terlihat di industri. Tidak sedikit perusahaan teknologi global yang kini mempertimbangkan Indonesia sebagai lokasi pembangunan pusat data baru, seiring meningkatnya kebutuhan komputasi AI di kawasan Asia Pasifik.
“Ketiga negara tersebut memiliki kedekatan geografis dengan Singapura, ekonomi digital yang berkembang, serta sumber daya energi yang menjanjikan,” jelas Zeng. Ia menambahkan, Asia Tenggara memiliki kombinasi menarik antara pertumbuhan ekonomi digital, potensi energi terbarukan, dan meningkatnya investasi pusat data.
Di Vietnam, perusahaan ini telah berinvestasi di ladang angin Vina berkapasitas 30 MW, memperluas portofolio energi terbarukan mereka agar tidak hanya sebatas pada tenaga surya. Sementara itu, di Malaysia, mereka menjajaki kemitraan di bidang pusat data AI, listrik hijau, infrastruktur digital, dan aset energi digital; area-area yang diperkirakan akan sangat diuntungkan oleh lonjakan permintaan komputasi AI.
Energi Hijau Menjadi Kunci
Jika dulu pembangunan data center hanya berfokus pada konektivitas internet dan pendingin ruangan, kini faktor keberlanjutan menjadi pertimbangan utama. Perusahaan teknologi global semakin menargetkan penggunaan energi rendah karbon untuk mengoperasikan pusat data mereka. Melihat tren tersebut, GCL ET menawarkan pendekatan yang menggabungkan pembangkit listrik tenaga surya, pembangkit listrik berbahan bakar gas, sistem penyimpanan energi, hingga manajemen listrik berbasis AI dalam satu solusi terintegrasi.
Perusahaan menyebut model tersebut sebagai Wind-Solar-Storage-Gas-Compute Integrated Solution. Alih-alih hanya membangun pembangkit listrik, GCL ET ingin menjadi penyedia infrastruktur energi lengkap bagi AI Data Center masa depan. AI tidak hanya menjadi konsumen energi, tetapi juga digunakan untuk meningkatkan efisiensi sektor energi itu sendiri.
GCL ET mengembangkan platform perdagangan listrik berbasis AI bersama Ant Digital Technologies. Melalui sistem tersebut, AI dapat membantu memprediksi permintaan listrik, mengoptimalkan distribusi daya, hingga meningkatkan efisiensi transaksi energi. Pendekatan serupa juga diterapkan pada jaringan pengisian kendaraan listrik (EV charging) dan konsep Virtual Power Plant (VPP).
Dalam model ini, ribuan stasiun pengisian daya kendaraan listrik dapat berfungsi sebagai bagian dari sistem kelistrikan kota yang lebih fleksibel. Ketika permintaan listrik meningkat, berbagai sumber daya tersebut dapat dikelola secara otomatis agar pasokan tetap stabil.
Peluang Bagi Indonesia
Bagi Indonesia, meningkatnya minat perusahaan seperti GCL ET menunjukkan bahwa kawasan ini mulai dipandang sebagai salah satu pusat pertumbuhan AI berikutnya. Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengambil peran lebih penting dalam ekosistem AI kawasan. Dengan pertumbuhan ekonomi digital yang pesat, sumber daya energi yang melimpah, serta meningkatnya investasi pusat data, Indonesia berpotensi berkembang menjadi salah satu hub AI Data Center di Asia Tenggara.
Tanpa pasokan energi yang memadai dan semakin ramah lingkungan, pertumbuhan industri AI dapat menghadapi hambatan di masa depan. Di sinilah perusahaan seperti GCL ET melihat peluang. Bukan hanya menjual energi, tetapi membangun ekosistem yang menghubungkan pembangkit listrik, energi terbarukan, penyimpanan daya, hingga pusat komputasi AI dalam satu sistem yang saling terintegrasi.
Jika strategi tersebut berjalan sesuai rencana, Indonesia bukan hanya menjadi pasar energi baru bagi perusahaan asal China tersebut, tetapi juga berpotensi memainkan peran lebih besar sebagai salah satu basis infrastruktur AI di Asia Tenggara dalam beberapa tahun ke depan.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

