Kebutuhan teknologi di perusahaan kini semakin kompleks. Konektivitas tetap menjadi fondasi, tetapi transformasi digital juga membutuhkan keamanan siber, cloud, data center, hingga akal imitasi (AI). Perubahan kebutuhan tersebut menjadi ruang yang digarap Telkom Solution, umbrella brand layanan B2B ICT Telkom Group.
Portofolionya mencakup konektivitas, cybersecurity, cloud dan data center, AI, serta berbagai solusi digital yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik industri. Perluasan kapabilitas ini datang ketika bisnis enterprise Telkom sendiri memiliki ruang pertumbuhan yang cukup besar.
Telkom menyebut kontribusi bisnis enterprise saat ini mencapai sekitar 11% dari pendapatan atau sekitar Rp19 triliun. Perusahaan melihat angka tersebut masih memiliki ruang untuk ditingkatkan. Ada dorongan bisnis di belakangnya ketika Telkom berupaya memperbesar kontribusi segmen enterprise sekaligus menata portofolio B2B ICT.
Bisnis Enterprise Telkom Berkontribusi Rp19 Triliun

Selama bertahun-tahun, konektivitas menjadi salah satu bisnis utama operator telekomunikasi. Namun, kebutuhan enterprise kini bergerak lebih jauh. Perusahaan membutuhkan jaringan yang tidak hanya menghubungkan kantor dan perangkat, tetapi juga mendukung aplikasi cloud, pengolahan data, sistem keamanan, hingga berbagai aplikasi berbasis AI.
Karena itu, Telkom Solution membawa portofolio yang lebih luas. Selain konektivitas, layanan yang ditawarkan mencakup cybersecurity, cloud, data center, AI, dan solusi digital yang dapat disesuaikan dengan karakteristik industri. Perubahan ini membuat penyedia layanan B2B ICT tidak lagi hanya berperan sebagai pemasok jaringan. Mereka juga dituntut memahami kebutuhan bisnis dan membantu perusahaan menghubungkan berbagai komponen teknologi tersebut dalam satu ekosistem.
Potensi pasar enterprise juga tercermin dari kontribusinya terhadap bisnis Telkom. Dalam pembahasan mengenai Telkom Enterprise bersama Danantara, Telkom menyebut bisnis enterprise saat ini berkontribusi sekitar 11% terhadap pendapatan perusahaan atau sekitar Rp19 triliun. Telkom menilai kontribusi tersebut masih lebih rendah dibandingkan sejumlah perusahaan telekomunikasi global yang dapat memperoleh lebih dari 20% hingga 30% pendapatan dari bisnis enterprise.
Perlu dicatat, angka Rp19 triliun tersebut merujuk pada bisnis enterprise secara lebih luas, bukan hanya segmen B2B ICT dalam laporan keuangan Telkom. Sementara itu, dalam laporan keuangan semester I 2026, segmen B2B ICT mencatat pendapatan Rp7,3 triliun. Angka ini tumbuh 35,7% QoQ, meski Telkom menyebut kinerjanya masih dipengaruhi proses restrukturisasi portofolio dan streamlining.
Kombinasi kedua data tersebut menunjukkan bahwa enterprise merupakan area yang sedang diperkuat Telkom, sementara B2B ICT menjadi salah satu bagian penting dari portofolio tersebut.
Cloud dan Data Center Jadi Infrastruktur Digital
Salah satu kapabilitas yang semakin penting dalam ekosistem enterprise adalah cloud dan data center. Perusahaan yang menjalankan semakin banyak aplikasi dan layanan digital membutuhkan infrastruktur untuk menyimpan, mengolah, serta mendistribusikan data. Kebutuhan tersebut kemudian beririsan dengan konektivitas dan keamanan.
Dalam laporan semester I 2026, Telkom juga menyebut bisnis data center terus diperkuat melalui NeutraDC, dengan rencana konsolidasi yang akan menjadikannya pengelola terpusat seluruh aset data center TelkomGroup. Langkah tersebut ditujukan untuk memperluas layanan, mengoptimalkan monetisasi aset, serta membuka peluang pertumbuhan melalui kolaborasi dengan mitra strategis.
Kehadiran cloud dan data center dalam portofolio Telkom Solution karena itu menjadi bagian dari kebutuhan yang lebih besar: menyediakan infrastruktur digital yang mampu menopang operasional enterprise.
AI Masuk, Cybersecurity Ikut Menjadi Kebutuhan
AI menjadi lapisan lain yang mulai masuk ke dalam kebutuhan enterprise. Telkom Solution memasukkan artificial intelligence sebagai salah satu kapabilitas digitalnya. Namun, implementasi AI tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan terhadap data, infrastruktur, serta keamanan.
Semakin banyak data dan proses bisnis yang diproses secara digital, semakin penting pula aspek cybersecurity. Karena itu, Telkom Solution menempatkan cybersecurity bersama konektivitas, cloud, data center, dan AI dalam portofolionya.
Pendekatan ini juga mencerminkan perubahan kebutuhan pelanggan B2B. Perusahaan tidak lagi hanya mencari layanan teknologi berdasarkan satu fungsi, tetapi membutuhkan kombinasi berbagai kapabilitas untuk mendukung proses bisnis mereka.
Namun, seberapa besar manfaatnya tetap bergantung pada implementasi di masing-masing perusahaan. Materi Telkom tidak menyertakan studi kasus atau angka spesifik yang menunjukkan dampak finansial dari penggunaan solusi tersebut pada pelanggan tertentu.
Telkom Solution Raih Penghargaan Business Impact & Industry Growth

Di tengah penguatan portofolio tersebut, Telkom Solution menerima penghargaan Business Impact & Industry Growth dari Kabar Group Indonesia (KGI) pada 11 September 2026. Telkom Solution sebelumnya menjadi salah satu kandidat dalam kategori tersebut dan mengikuti proses penilaian yang mencakup diskusi serta riset independen oleh internal redaksi KGI. Proses tersebut juga melibatkan sejumlah tim eksternal, termasuk LPPM Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Direktorat Inovasi dan Riset Terapan Bisnis (DIRBT) Universitas Indonesia (UI).
Setelah melalui rangkaian penilaian tersebut, Telkom Solution terpilih sebagai pemenang kategori. Direktur Enterprise & Business Service Telkom, Veranita Yosephine, mengatakan penghargaan tersebut menjadi dorongan bagi Telkom Solution untuk terus menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan pelanggan.
“Bagi kami, dampak bisnis menjadi salah satu ukuran penting dalam menghadirkan setiap solusi, sehingga teknologi yang kami hadirkan tidak berhenti pada pemanfaatan teknologi, tetapi mampu memberikan value creation bagi pelanggan dan industri,” ujar Veranita.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan eksternal terhadap pendekatan yang ingin dibangun Telkom Solution. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan perluasan kapabilitas teknologi tersebut benar-benar diterjemahkan menjadi manfaat yang terukur bagi pelanggan.
Sementara itu, VP Enterprise Marketing & Growth Telkom, Reni Yustiani menjelaskan bahwa pengakuan dari pihak eksternal melalui proses riset dan penilaian independen menjadi masukan penting bagi Telkom Solution untuk terus melakukan evaluasi terhadap kapabilitas dan kualitas layanan yang diberikan kepada pelanggan.
“Kepercayaan dari pelanggan dan pengakuan dari berbagai pihak menjadi energi bagi kami untuk terus melakukan improvement. Kami akan terus memperkuat Telkom Solution sebagai digital transformation enabler yang mampu memberikan dampak nyata bagi bisnis pelanggan dan ikut mendorong pertumbuhan industri di Indonesia,” tambah Reni.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

