Adopsi AI di Indonesia terus berkembang. Namun, bagi perusahaan besar, tantangannya bukan sekadar memilih model AI atau mengembangkan aplikasi berbasis teknologi tersebut. Kesiapan infrastruktur data juga menjadi faktor penting agar AI dapat digunakan secara optimal dalam operasional bisnis.

Hal tersebut menjadi salah satu pandangan Michael Cronin, dalam wawancara eksklusif bersama dengan redaksi Gizmologi. Menurutnya, banyak perusahaan di Tanah Air justru mengambil pendekatan yang tepat dengan membenahi fondasi data sebelum memperluas penggunaan AI.
Melalui pendekatan AI Data Plane, Couchbase ingin membantu perusahaan mengelola data, konteks, dan memori yang dibutuhkan sistem AI. Tujuannya adalah membuat implementasi AI lebih terukur, aman, dan siap digunakan dalam skala besar.
Model AI itu bisa disewa. Model terdepan hari ini mungkin akan menjadi sesuatu yang biasa saja besok. Namun, data dan lapisan data yang dimiliki perusahaan merupakan aset mereka yang sebenarnya,
Baca Juga: Couchbase Perbarui AI Data Plane, Klaim Pangkas Konsumsi Token hingga 45%
Perusahaan Indonesia Perlu Membenahi Fondasi Data Sebelum Mengadopsi AI

Michael menilai perusahaan di Indonesia cenderung lebih berhati-hati dalam mengembangkan AI. Alih-alih langsung menerapkan teknologi tersebut ke berbagai lini bisnis, sejumlah perusahaan memilih membenahi infrastruktur data terlebih dahulu.
Pendekatan ini dinilai penting karena perusahaan besar umumnya memiliki data yang tersebar di berbagai sistem, mulai dari database lama hingga beragam platform penyimpanan. Kondisi tersebut dapat menyulitkan AI dalam memperoleh informasi yang konsisten dan relevan.
“Perusahaan-perusahaan di Indonesia sebenarnya mengambil pendekatan yang ideal, yaitu memperbaiki fragmentasi pada lapisan data terlebih dahulu agar pengembangan AI bisa dipercepat.” jelas Michael.
Michael juga menyoroti bahwa banyak proyek AI gagal berkembang dari tahap uji coba menuju produksi. Ia menyebut sekitar 60 hingga 75 persen proyek percontohan AI tidak berhasil mencapai tahap produksi.
Bahkan, Michael juga terus menegaskan bahwa perusahaan yang terburu-buru mengembangkan AI tanpa menyiapkan fondasi data berisiko harus mengulang pekerjaan dari awal. Karena itu, membangun infrastruktur yang tepat sejak awal justru dapat mempercepat pengembangan AI dalam jangka panjang.
Couchbase Melihat Data sebagai Aset Utama Perusahaan

Dalam konteks tersebut, Couchbase menawarkan teknologi yang membantu perusahaan mengelola data operasional secara lebih terintegrasi. Michael menjelaskan bahwa Couchbase telah bekerja dengan sejumlah perusahaan besar di Indonesia, termasuk sektor telekomunikasi dan perbankan.
Perusahaan-perusahaan tersebut memanfaatkan teknologi Couchbase untuk membangun lapisan data operasional yang dapat mendukung kebutuhan aplikasi dan pengembangan AI. Dengan data yang lebih mudah diakses, sistem dapat memperoleh konteks secara real-time tanpa harus bergantung pada banyak sumber yang terpisah.
Michael menilai data justru memiliki nilai strategis yang lebih panjang dibandingkan model AI. Pasalnya, perkembangan model berlangsung sangat cepat, sementara data operasional perusahaan merupakan aset yang dibangun dari aktivitas bisnis dan interaksi dengan pelanggan.
Pandangan tersebut menjadi dasar mengapa Couchbase menempatkan pengelolaan data sebagai bagian penting dari strategi AI perusahaan.
AI Data Plane Membantu Mengelola Konteks dan Memori Agen AI
Salah satu pendekatan yang diperkenalkan Couchbase adalah AI Data Plane. Konsep ini dirancang untuk membantu perusahaan mengelola berbagai kebutuhan operasional agen AI, termasuk memori, tata kelola, dan akses terhadap data.
Dalam penjelasannya, Michael menyoroti pentingnya konteks ketika agen AI berinteraksi dengan pengguna. Tanpa konteks yang memadai, agen AI berpotensi memberikan jawaban keliru atau menggunakan informasi yang sudah tidak relevan.
“Tanpa konteks, agen AI bisa memberikan jawaban yang berhalusinasi atau menggunakan informasi lama. Hal tersebut tentu menghasilkan pengalaman pelanggan yang buruk,” ujar Michael.
AI Data Plane mencakup beberapa komponen, seperti pengelolaan memori agen, tata kelola melalui Agent Catalog, dukungan Model Context Protocol (MCP), serta semantic cache dan layanan vektor. Komponen-komponen ini ditujukan untuk membantu agen AI mengakses informasi yang relevan sekaligus mengelola penggunaannya.
Pengelolaan konteks juga dapat membantu mengurangi kebutuhan pemrosesan berulang, yang pada akhirnya berpotensi menekan penggunaan token dan biaya operasional AI.
Michael turut mencontohkan pentingnya memori melalui pengalaman penggunaan chatbot. Menurutnya, pengguna tidak seharusnya terus-menerus mengulang informasi setiap kali berinteraksi dengan sistem AI.
Indonesia Jadi Salah Satu Pasar Strategis Couchbase

Selain membahas kesiapan infrastruktur, Michael juga memberikan pandangan positif terhadap perkembangan talenta teknologi di Indonesia. Ia menilai kemampuan talenta lokal sudah cukup baik untuk mendukung perkembangan industri AI.
“Menurut saya, kualitas talenta di Indonesia sudah cukup baik. Saya juga sangat senang setiap kali berkunjung ke Jakarta.”
Ia melihat Indonesia sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat sekaligus pasar strategis bagi Couchbase di kawasan regional. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap infrastruktur data yang mampu mendukung aplikasi modern dan implementasi AI.
Meski begitu, Michael mengingatkan bahwa keamanan dan tata kelola tetap menjadi aspek penting. Perusahaan perlu memastikan data pengguna terlindungi ketika mengembangkan sistem AI, terutama ketika teknologi tersebut mulai terhubung dengan berbagai proses bisnis.
Bagi Couchbase, perkembangan AI di Indonesia bukan hanya tentang seberapa cepat perusahaan mengadopsi model terbaru. Kesiapan data, kemampuan mengelola konteks, serta keamanan menjadi fondasi agar teknologi tersebut benar-benar memberikan manfaat dalam operasional perusahaan.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

