Harga smartphone global menghadapi tekanan baru pada 2026 seiring melonjaknya biaya memori. Persoalannya bukan hanya harga ponsel yang berpotensi semakin mahal, tetapi juga perubahan pada konfigurasi perangkat. Ketika DRAM dan NAND semakin diperebutkan oleh kebutuhan pusat data AI, produsen smartphone mulai menghadapi pilihan sulit: menaikkan harga atau menyesuaikan spesifikasi.
Situasi ini membuat cara konsumen menilai smartphone ikut perlu berubah. Kapasitas RAM dan storage tetap penting, tetapi umur dukungan software, daya tahan baterai, ketahanan fisik, konsistensi performa, serta ketersediaan suku cadang bisa menjadi faktor yang lebih menentukan nilai sebuah smartphone dalam jangka panjang.
Harga Smartphone 2026 Diproyeksikan Mencapai Rekor
IDC memproyeksikan harga jual rata-rata smartphone global mencapai USD581 atau sekitar Rp10,3 juta pada 2026, naik 27,6% dan menjadi rekor baru. Angka tersebut juga meningkat dari proyeksi IDC sebelumnya sebesar USD523 pada Februari 2026.
- Harga Smartphone 2026 Diproyeksikan Mencapai Rekor
- Kenapa Memori Smartphone Jadi Semakin Mahal?
- Smartphone Murah Menghadapi Tekanan Paling Besar
- Indonesia Ikut Tertekan, Terutama di Segmen Entry-Level
- Krisis Memori Membuat Angka RAM Tidak Lagi Cukup
- Baterai dan Durability Jadi Investasi Jangka Panjang
- Tiga Hal yang Sebaiknya Jadi Patokan Membeli HP
- Harga Smartphone Bisa Berubah, Cara Memilihnya Juga Perlu Berubah
Kenaikan tersebut berlangsung ketika biaya komponen smartphone ikut tertekan. IDC dan Counterpoint Research mencatat bahwa tekanan paling besar terjadi pada memori, tetapi dampaknya dapat merembet ke komponen lain.
Counterpoint Research, misalnya, melihat adanya penyesuaian pada sejumlah model smartphone yang menyentuh modul kamera, layar, komponen audio, serta konfigurasi memori. Artinya, konsumen tidak selalu menghadapi skenario sederhana berupa harga naik dengan spesifikasi tetap. Dalam sejumlah kasus, produsen juga dapat mengubah konfigurasi perangkat untuk menjaga harga tetap berada pada rentang yang dianggap sesuai dengan pasar.
Shenghao Bai, Senior Analyst di Counterpoint Research, menyebut perubahan konfigurasi tersebut sudah terlihat pada sejumlah model. “Pada sejumlah model, kami melihat penurunan komponen seperti modul kamera.”
Menurut Bai, penyesuaian juga terjadi pada layar, komponen audio, dan memori. Perubahan semacam ini penting karena menunjukkan bahwa dampak krisis chip tidak berhenti pada harga jual. Spesifikasi smartphone juga bisa menjadi bagian dari strategi produsen menghadapi struktur biaya yang berubah.
Kenapa Memori Smartphone Jadi Semakin Mahal?

Salah satu penyebab utama tekanan tersebut adalah meningkatnya kebutuhan memori untuk infrastruktur AI. Produsen memori mengalokasikan semakin banyak kapasitas DRAM dan NAND untuk kebutuhan pusat data, termasuk memori bandwidth tinggi atau High Bandwidth Memory (HBM) yang digunakan dalam sistem komputasi AI.
Daya tariknya sederhana: pasar AI data center memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan sebagian kebutuhan memori konsumen. Menurut data yang dikutip dalam materi riset, chip memori untuk pusat data AI kini menyerap sekitar 70% produksi memori global, dengan margin yang disebut 3–5 kali lebih tinggi dibandingkan memori konsumen.
Di saat yang sama, pertumbuhan pasokan tidak mampu mengimbangi peningkatan permintaan. IDC memperkirakan pasokan DRAM pada 2026 hanya tumbuh sekitar 16%, sedangkan NAND tumbuh 17%. Angka tersebut berada di bawah kisaran pertumbuhan 20%–30% yang sebelumnya diharapkan.
Tekanan harga kemudian terlihat pada pasar komponen. Pada kuartal I 2026, harga DRAM global disebut naik lebih dari 50% dibandingkan kuartal sebelumnya. Harga NAND Flash bahkan meningkat lebih dari 90%, berdasarkan Counterpoint Memory Price Tracker.
IDC juga mencatat biaya memori pada kuartal II 2026 meningkat hampir 300% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ryan Reith, Group Vice President for Worldwide Client Devices di IDC, menyebut kelangkaan memori sebagai gangguan rantai pasok yang belum pernah terjadi sebelumnya dan memperkirakan kondisi tersebut akan terus menekan pasar smartphone sepanjang 2026.
Smartphone Murah Menghadapi Tekanan Paling Besar
Dampak krisis memori tidak terbagi rata di seluruh kelas smartphone. Memori menyumbang sekitar 15%–20% dari total biaya komponen (BOM) smartphone kelas menengah, sedangkan kontribusinya sekitar 10%–15% pada flagship. Dengan demikian, perubahan harga memori memiliki konsekuensi relatif lebih besar terhadap perangkat dengan harga jual rendah.
Counterpoint Research mencatat biaya komponen smartphone dengan harga di bawah USD200 atau sekitar Rp3,5 juta telah naik 20%–30% sejak awal 2026. IDC juga mencatat bahwa pada kuartal II 2026, memori menyumbang lebih dari 65% BOM pada segmen entry-level.
Tekanan tersebut terlihat paling jelas pada smartphone dengan harga di bawah USD100 atau sekitar Rp1,8 juta. Segmen yang mengirimkan sekitar 173 juta unit sepanjang 2025 itu disebut mengalami penurunan hampir 60% pada kuartal II 2026. Di sejumlah pasar berkembang, kenaikan harga smartphone bahkan mencapai 40%–50%.
Kondisi ini menjelaskan mengapa smartphone murah menjadi bagian pasar yang paling rentan ketika biaya memori meningkat. Pada perangkat dengan margin tipis, ruang untuk menyerap kenaikan komponen memang lebih terbatas.
Indonesia Ikut Tertekan, Terutama di Segmen Entry-Level

Indonesia memiliki posisi yang menarik dalam perubahan ini karena pasar domestik masih memiliki basis konsumen besar di segmen entry-level dan menengah. Menurut Counterpoint Indonesia Smartphone Tracker, pengiriman smartphone di Indonesia turun 9% YoY pada kuartal I 2026. Salah satu faktor yang disebut adalah konsumen menunda penggantian perangkat.
Harga smartphone di Indonesia juga dilaporkan meningkat sekitar 7% hingga 45%, mencakup model lama maupun produk baru. Segmen entry-level dengan harga di bawah USD150 atau sekitar Rp2,7 juta mengalami penurunan 19% YoY.
Sebaliknya, smartphone premium dengan harga di atas USD600 atau sekitar Rp10,6 juta justru mencatat kontribusi tertinggi terhadap pengiriman smartphone Indonesia, yakni 8,3%, setelah tumbuh 30% YoY. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan pasar tidak otomatis berarti seluruh kelas smartphone mengalami nasib yang sama.
Shilpi Jain, Senior Analyst di Counterpoint Research, mengatakan konsumen entry-level cenderung menunda pembelian atau memilih smartphone bekas. “Segmen entry-level paling terpukul. Konsumen di segmen ini memilih menunda pembelian atau beralih ke ponsel bekas.”
Jika tren tersebut berlanjut, konsumen Indonesia dengan anggaran terbatas berpotensi menghadapi pilihan smartphone baru yang semakin terbatas, sekaligus memiliki alasan lebih kuat untuk mempertahankan perangkat lama lebih lama.
Krisis Memori Membuat Angka RAM Tidak Lagi Cukup
Selama bertahun-tahun, RAM menjadi salah satu angka paling mudah digunakan untuk membandingkan smartphone. 8GB dianggap lebih baik daripada 6GB. 12GB lebih tinggi daripada 8GB. Bahkan ketika kebutuhan pengguna sebenarnya tidak berubah secara signifikan, kapasitas memori yang lebih besar tetap menjadi bagian dari siklus pemasaran smartphone.
Krisis memori berpotensi mengubah pola tersebut. IDC mencatat sejumlah flagship 2026 masih menggunakan konfigurasi RAM 12GB dan tidak semuanya meningkat menjadi 16GB. Pada saat biaya memori meningkat, produsen memiliki alasan lebih besar untuk mengalokasikan anggaran rekayasa ke aspek lain daripada sekadar menambah kapasitas RAM.
Ini bukan berarti RAM tidak penting. Namun, angka RAM sebaiknya tidak lagi menjadi satu-satunya indikator kualitas smartphone. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh sistem bekerja bersama: kapasitas memori, optimisasi software, chipset, sistem operasi, aplikasi, dan pola penggunaan. Dua smartphone dengan kapasitas RAM sama juga tidak otomatis memberikan pengalaman yang identik.
Baterai dan Durability Jadi Investasi Jangka Panjang
Perubahan struktur biaya tersebut akhirnya membawa konsumen kembali pada pertanyaan yang lebih mendasar: berapa lama smartphone ini bisa digunakan dengan nyaman? Untuk pembelian smartphone pada kondisi harga yang semakin tinggi, daya tahan baterai menjadi salah satu faktor penting. Namun, kapasitas baterai dalam mAh juga tidak boleh diterjemahkan langsung sebagai daya tahan penggunaan.
Baterai 5.000mAh, misalnya, tidak otomatis bertahan lebih lama dibandingkan baterai dengan kapasitas lebih besar. Efisiensi chipset, layar, software, konektivitas, dan pola penggunaan ikut menentukan battery life. Karena itu, yang perlu dilihat bukan sekadar angka kapasitas, tetapi daya tahan aktual dan bagaimana kondisi baterai setelah digunakan dalam jangka panjang.
Faktor kedua adalah durability. Ketahanan terhadap air dan debu, kualitas material, perlindungan layar, serta kemudahan memperoleh komponen pengganti menjadi semakin relevan ketika harga smartphone meningkat.
Smartphone yang dapat bertahan tiga atau empat tahun berpotensi memberikan nilai lebih baik dibandingkan perangkat yang harus diganti setelah dua tahun, meskipun spesifikasi awalnya terlihat lebih tinggi. Tentu, umur pakai tersebut juga sangat dipengaruhi oleh dukungan software.
Karena itu, calon pembeli sebaiknya melihat berapa lama produsen memberikan pembaruan sistem operasi dan keamanan, bukan hanya chipset yang digunakan ketika perangkat pertama kali diluncurkan.
Tiga Hal yang Sebaiknya Jadi Patokan Membeli HP
Krisis memori tidak berarti konsumen harus berhenti memperhatikan spesifikasi. Yang berubah adalah bobot penilaiannya. Ada setidaknya tiga aspek yang semakin penting.
Pertama, daya tahan baterai. Jangan hanya melihat kapasitas dalam mAh. Perhatikan hasil pengujian, efisiensi perangkat, kecepatan pengisian, serta potensi kesehatan baterai dalam penggunaan jangka panjang.
Kedua, konsistensi performa. Smartphone yang responsif saat baru dibeli belum tentu memberikan pengalaman yang sama setelah digunakan selama satu atau dua tahun. Optimisasi software dan manajemen memori menjadi sama pentingnya dengan spesifikasi chipset.
Ketiga, umur pakai. Perhatikan kombinasi ketahanan fisik, kebijakan pembaruan software, ketersediaan suku cadang, dan kemungkinan perangkat diperbaiki ketika mengalami kerusakan.
Dengan pendekatan tersebut, konsumen tidak sekadar membeli smartphone dengan spesifikasi paling tinggi, tetapi perangkat yang memiliki kemungkinan lebih besar untuk tetap berguna dalam jangka panjang.
Harga Smartphone Bisa Berubah, Cara Memilihnya Juga Perlu Berubah
Krisis memori global menunjukkan bahwa siklus peningkatan spesifikasi smartphone tidak selalu berjalan lurus. Ketika biaya komponen meningkat dan kapasitas produksi memori semakin banyak terserap oleh AI data center, produsen harus menentukan kembali bagian mana yang paling layak mendapatkan anggaran.
Dampaknya sudah terlihat melalui kenaikan harga, perubahan konfigurasi memori, hingga penyesuaian komponen lain pada sejumlah perangkat. Bagi konsumen, perubahan ini berarti satu hal: smartphone dengan RAM terbesar belum tentu menjadi pembelian paling masuk akal.
Ketika harga perangkat meningkat, nilai jangka panjang menjadi semakin penting. Baterai yang awet, performa yang konsisten, ketahanan fisik, dukungan software panjang, dan ketersediaan suku cadang bisa menjadi pembeda yang lebih berarti daripada sekadar tambahan beberapa gigabyte RAM.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

