Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Tutup Usia, HOOQ Hentikan Layanan Streaming Video 30 April 2020

0 531

Apakah kamu termasuk salah satu pengguna aplikasi streaming video HOOQ? Kalau iya, maka kamu harus segera mencari alternatif penyedia layanan serupa lainnya. Karena aplikasi HOOQ dipastikan bakal tutup usia dan berhenti beroperasi pada tanggal 30 April mendatang. Ya, mereka secara resmi mundur dari persaingan layanan streaming video.

Kabar mengenai ditutupnya layanan dari Hooq ini telah dikonfirmasi oleh Guntur Subroto, Country Head dari Hooq Indonesia. Keputusan ini diambil setelah pada akhir bulan Maret lalu, para pemegang saham Hooq telah memutuskan untuk likuidasi perusahaan. Salah satunya adalah Singtel, perusahaan komunikasi yang merupakan pemegang saham terbesar Hooq dengan persentasi 76,5%.

“Ya, layanan akan berhenti pada 30 April. Pada 27 Maret yang lalu pemegang saham HOOQ sudah memutuskan untuk likuidasi Hooq,” kata Guntur seperti dilansir dari Kumparan (26/4). Bila kamu masih menjadi pelanggan Hooq, Guntur menyebutkan bahwa pelanggan tidak akan dikenakan biaya apa-apa lagi, dan pihak mereka sudah tidak menerima pelanggan baru sejak likuidasi pada 27 Maret lalu.

Disokong oleh para investor yang merupakan nama besar di industri rupanya tak menjamin startup bisa bertahan, tumbuh dan berkembang. HOOQDigital merupakan perusahaan yang dibangun bersama beberapa pihak (joint venture) yaitu Singapore Telecommunication Ltd (Singtel), Sony Pictures Television serta Warner Bros Entertainment. Layanan ini resmi berdiri sejak tahun 2015, beroperasi di Singapura, Filipina, India dan juga Indonesia. Layanan milik Hooq diklaim telah digunakan lebih dari 80 juta pengguna, digadang menjadi pesaing utama Netflix.

Baca juga: 10 Film dan Serial Dokumenter Netflix Bisa Ditonton Gratis di YouTube

Strategi Hooq Sebelum Memutuskan Tutup Layanan

Hooq Indonesia
Tampilan halaman web Hooq Indonesia.

Banyaknya jumlah pengguna Hooq terjadi berkat kerjasama mereka dengan pihak operator lokal. Di Indonesia, misalnya, Hooq bekerja sama dengan Telkomsel dan Smartfren, sehingga penggunanya dapat mengakses layanan tersebut secara gratis maupun dengan kuota yang lebih murah. Hal tersebut tentu dapat menjangkau pengguna dengan mudah, mengingat metode pembayaran Netflix sedikit lebih susah, dan tidak bisa diakses lewat koneksi data dari Telkomsel alias harus menggunakan VPN khusus.

Dikutip dari medcom.id, Hooq juga telah menegaskan fokus mereka pada pasar Asia, sehingga tidak merambah konten Hollywood untuk dipasarkan pada layanan mereka. Alhasil, Hooq lebih banyak menampilkan konten-konten film maupun serial lokal Asia, termasuk film Indonesia yang banyak tersedia di sana, menjadi pilihan menarik bagi penggemar film lokal. Hooq telah berencana untuk menambahkan hingga 100 konten lokal dan 100 judul orisinil sepanjang tahun 2020.

Namun ternyata hal tersebut tak dapat membuat Hooq bertahan. Setelah proses likuidasi akhir Maret lalu, mereka mengaku kesulitan bersaing di tengah kompetisi, dan menyebutkan jika perusahaan tidak mampu tumbuh secara memadai serta kesulitan menutup biaya konten dan operasi platform secara berkelanjutan.

Selain Hooq, nasib yang kurang begitu bagus sebenarnya dialami juga oleh kompetitornya iFlix. Platform Video on Demand yang sama-sama membidik pasar Asia Tenggara ini dilansir dari DealStreetAsia baru saja melakukan PHK terhadap kurang dari 65 karyawannya. CEO iFlix Marc Barnett mengatakan, keputusan untuk mengurangi jumlah karyawan perusahaan diambil setelah pertimbangan yang cermat dan dalam hubungannya dengan langkah-langkah memangkas biaya lainnya. Sementara dua layanan video streaming asal Indonesia, GoPlay dan Vidio, terlihat masih agresif memasarkan produknya.