alexa

Huawei Resmikan Pusat Transparansi Keamanan Siber di Tiongkok

Sejak dua tahun silam, pemerintah Amerika Serikat (AS) saat itu dipimpin Trump memblokir Huawei sehingga tidak bisa memasarkan produknya di negeri Paman Sam tersebut serta tidak bisa memakai layanan Google.

AS menuduh perangkat Huawei bisa disusupi oleh intelijen China untuk memata-matai negara lain. Rezim Trump berpendapat penetrasi Huawei harus dibatasi bahkan diblokir. Teknologi dianggap sebagai senjata paling kuat saat ini. Dan siapa yang kuasai teknologi 5G akan mendapat keuntungan ekonomi, intelijen dan militer.

Huawei telah menepis tuduhan tersebut. Namun rupanya masih belum terlalu berdampak. Kini, raksasa teknologi asal Tiongkok tersebut melakukan langkah baru dengan membuka pusat transparansi keamanan siber global dan perlindungan privasi. Ini merupakan Global Cyber Security and Privacy Protection Transparency Center terbesarnya di Tiongkok.

“Keamanan siber menjadi salah satu hal yang sangat penting saat ini,” kata Ken Hu, Rotating Chairman Huawei, di acara pembukaan di Dongguan Center (9/6).
Baca juga: Microsoft Bentuk Dewan Eksekutif Keamanan Siber Sektor Publik Asia Pasifik 

Alasan Huawei Buka Pusat Keamanan Siber

security 265130 1280
Foto: Pixabay

Selama beberapa tahun terakhir, digitalisasi industri, teknologi-teknologi mutakhir seperti 5G dan AI telah membuat ruang siber semakin kompleks. Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa kebanyakan orang saat ini telah menghabiskan sebagian besar hidup mereka secara online selama pandemi COVID-19 masih berlangsung. Tren ini semakin memicu kenaikan resiko baru keamanan siber.

Huawei membuka Global Cyber Security and Privacy Protection Transparency Center baru di Dongguan untuk mengatasi masalah ini. Mereka menyediakan platform bagi pemangku kepentingan industri untuk berbagi keahlian dalam tata kelola dunia maya dan bekerja sama dalam solusi teknis.

Global Cyber Security and Privacy Protection Transparency Center ini dirancang untuk mendemonstrasikan solusi dan berbagi pengalaman, memfasilitasi komunikasi dan inovasi bersama, serta mendukung pengujian dan verifikasi keamanan. Pusat keamanan ini akan terbuka untuk regulator, organisasi pengujian pihak ketiga independen, dan organisasi standar, serta untuk para pelanggan, mitra, dan pemasok Huawei.

Untuk memenuhi pendekatan terpadu terhadap keamanan siber di industri telekomunikasi dan organisasi, seperti GSMA dan 3GPP telah bekerja sama dengan pemangku kepentingan industri lainnya untuk mempromosikan NESAS sebagai spesifikasi jaminan keamanan dan sertifikasi independen. Hal mendasar ini telah diterima secara luas di industri dan akan memainkan peran penting dalam pengembangan dan verifikasi jaringan yang aman.

Bekerja sama dengan pemangku kepentingan

Ken Hu Huaweis Rotating Chairman
Ken Hu, Rotating Chairman Huawei

Pembukaan sarana tersebut dihadiri oleh perwakilan dari GSMA, SUSE, British Standards Institution, serta pemerintah yang memiliki hubungan dengan erat dengan China seperti Uni Emirat Arab dan Indonesia. Mereka masing-masing juga menyampaikan pandangan serta gagasan dalam acara pembukaan yang digelar secara virtual.

Menurut Ken Hu, sebuah industri harus saling bekerjasama, berbagi praktik-praktik terbaik, dan membangun kemampuan kolektif dengan pemerintahan, pemangku standar, teknologi dan verifikasi. Risiko keamanan siber adalah tanggung jawab bersama dan harus menjadi upaya internasional. Pemerintah, badan standar dan penyedia teknologi perlu bekerja lebih erat untuk mengembangkan pemahaman terpadu tentang tantangan keamanan siber.

“Kita perlu meningkatkan kepercayaan regulator dan bahkan kepada publik secara umum terhadap keamanan siber pada sebuah produk dan jasa layanan yang mereka gunakan setiap harinya. Bersama-sama, kami akan mencari cara untuk menyeimbangkan keamanan dan pembangunan di era digital yang semakin terus berkembang,” kata Ken.

Sementara itu Letnan Jenderal (Purn) Hinsa Siburian, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dalam sambutannya berharap pusat keamanan Huawei ini akan memfasilitasi dan mewujudkan strategi, praktik-praktik dan komunikasi yang diperlukan untuk ekosistem keamanan siber.

Ia mengatakan, keamanan siber telah menjadi prioritas bagi sebagian besar negara-negara di dunia, karena ruang siber memberikan peluang yang lebih luas, khususnya bagi perekonomian, untuk mendorong kemakmuran dan kemajuan, serta mempererat hubungan lintas batas dan melengkapi operasi kekuatan di darat, laut, udara, dan angkasa.

“Ruang siber telah menjadi domain yang sangat strategis sebagai center of gravity, yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan. Tantangannya adalah bagaimana kita mampu menjaga dan memanfaatkan ruang siber untuk meningkatkan kesejahteraan nasional dan menjaga perdamaian di kawasan regional dan global,” ujar Hinsa.

Selama acara peluncuran, Huawei juga merilis Product Cyber Security Baselines yang dikembangkan berdasarkan pengalaman mereka sendiri selama satu dekade dalam manajemen keamanan produk bersama dengan peraturan eksternal, standar teknis, dan persyaratan regulasi. Baseline ini, bersama dengan mekanisme tata kelola Huawei lainnya, telah membantu memastikan kualitas, keamanan, dan kepercayaan produk Huawei.

Tinggalkan komen