Jakarta, Gizmologi – Platform media sosial Instagram dilaporkan akan menghentikan dukungan end-to-end encryption (E2EE) pada fitur percakapan mereka. Keputusan ini cukup mengejutkan mengingat beberapa tahun terakhir perusahaan teknologi justru berlomba memperkuat keamanan komunikasi pengguna.
Perubahan tersebut tidak diumumkan melalui siaran pers resmi maupun blog perusahaan. Sebaliknya, informasi ini muncul melalui pembaruan pada halaman bantuan Instagram yang menyebut bahwa fitur E2EE tidak lagi didukung mulai 8 Mei mendatang.
Langkah ini juga menarik perhatian karena Instagram berada di bawah naungan Meta, perusahaan yang sebelumnya cukup vokal mempromosikan enkripsi end-to-end di berbagai layanannya, termasuk WhatsApp. Kini, salah satu platform milik Meta justru bergerak ke arah sebaliknya.
Baca Juga: vivo Pamer Hasil Kamera X300 Ultra, Sensor 200MP dan Zoom 400mm Jadi Primadona
E2EE Dihentikan Mulai Mei

Berdasarkan informasi di halaman bantuan Instagram, percakapan yang sebelumnya menggunakan end-to-end encryption akan berhenti berfungsi setelah 8 Mei. Pengguna yang memiliki chat terenkripsi juga akan mendapatkan instruksi untuk mengunduh pesan atau media yang ingin disimpan sebelum perubahan berlaku.
End-to-end encryption sendiri merupakan teknologi keamanan yang memastikan hanya pengirim dan penerima pesan yang dapat membaca isi percakapan. Bahkan penyedia layanan seperti Meta secara teori tidak dapat mengakses konten tersebut.
Dengan dihentikannya dukungan ini, pesan yang dikirim melalui Instagram tidak lagi memiliki perlindungan enkripsi yang sama seperti sebelumnya. Artinya, data percakapan secara teknis dapat diakses oleh perusahaan, setidaknya pada level sistem internal.
Di satu sisi, keputusan seperti ini sering dikaitkan dengan kebutuhan moderasi konten atau upaya menangani penyalahgunaan platform. Tanpa enkripsi penuh, perusahaan bisa memiliki kemampuan lebih besar untuk mendeteksi aktivitas ilegal atau pelanggaran kebijakan.
Dampak ke Privasi Pengguna
Namun dari sudut pandang privasi, perubahan ini tentu memunculkan pertanyaan baru. Tanpa end-to-end encryption, percakapan pengguna berpotensi lebih mudah diakses oleh pihak penyedia layanan jika diperlukan, termasuk dalam permintaan data oleh otoritas pemerintah.
Isu ini bukan hal baru dalam industri teknologi. Banyak perusahaan teknologi menghadapi dilema antara menjaga privasi pengguna dan memenuhi tuntutan regulasi atau keamanan digital.
Sebagai perbandingan, layanan seperti WhatsApp masih mempertahankan enkripsi end-to-end secara default untuk seluruh percakapan. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa aplikasi tersebut sering diposisikan sebagai platform komunikasi yang lebih berfokus pada privasi.
Belum jelas apakah penghentian fitur E2EE di Instagram bersifat permanen atau hanya perubahan sementara pada strategi keamanan platform. Namun yang pasti, keputusan ini berpotensi memicu diskusi baru tentang keseimbangan antara keamanan platform, moderasi konten, dan perlindungan privasi pengguna di media sosial.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



