Jakarta, Gizmologi – Meta mengungkapkan keseriusannya terhadap kecerdasan buatan atau Artificial intelligence (AI). Apalagi AI memiliki peranan penting untuk memberantas hoaks hingga memitigasi konten misinformasi yang beredar di platform media sosial, khususnya Facebook.
Kepala Kebijakan Misinformasi APAC, Meta, Alice Budisatrijo menjelaskan bahwa kehadiran AI dapat membantu untuk mendeteksi potensi misinformasi dan disinformasi dengan melatih machine learning yang mempelajari konten-konten yang dilaporkan oleh pengguna.
“Penting sekali, ya, saya rasa AI itu karena, again skala kami yang sangat besar dengan pengguna lebih dari 2 miliar, ratusan juta konten di-posting setiap hari, tidak mungkin kami cuma mengandalkan reviewers ataupun pemeriksa fakta yang tentunya manusia,” kata Alice saat diskusi media beberapa waktu lalu, Minggu (26/3/2023).
Menurutnya, saat ini konten dan pengguna sudah ada di Facebook, sehingga sekarang yang jadi pekerjaan adalah bagaimana caranya menyajikan konten yang sesuai kebutuhan di platform, dengan AI. “Kalau pengguna melaporkan konten, itu sangat berguna untuk melatih AI kami. Tapi itu bukan satu-satunya signal yang kami punya.”
Namun, proses pendeteksian tidak berhenti pada titik itu saja. Diperlukan pula peran pihak ketiga yaitu pemeriksa fakta untuk mengecek lebih jauh mengenai konten yang diduga mengandung misinformasi dan disinformasi tersebut.
Baca Juga: Facebook Optimalkan Kinerja AI Buat Konten Kreator dan Messaging
Upaya Facebook Berantas Hoaks

Terkait pemeriksa fakta, Meta telah bekerja sama dengan 90 mitra di seluruh dunia dan enam di antaranya di Indonesia seperti dari Kompas, Liputan6.com, Tirto, Mafindo, dan seterusnya. Mitra pemeriksa fakta ini telah disertifikasi melalui Jaringan Pemeriksa Fakta Internasional yang independen dan tidak memihak.
“Jadi benar kami terus mengimbau semua pengguna Facebook untuk melaporkan konten kalau mereka melihat apa yang melanggar kebijakan Facebook ataupun misinformasi. Tapi ada cara-cara lain juga. Artikel cek fakta dari pemeriksa fakta itu melatih AI kami untuk bisa lebih mengenali disinformasi,” jelas dia.
Alice menekankan bahwa Meta memiliki komitmen untuk memberantas disinformasi. Upaya ini dilakukan demi menjaga platform-platform milik Meta agar lebih aman untuk para penggunanya.
Oleh sebab itu, Meta juga mengedepankan tiga strategi untuk mengatasi misinformasi yang membahayakan yaitu “hapus, kurangi, dan informasikan”. Beberapa bagian dari strategi ini menjadi program pemeriksaan fakta oleh mitra pihak ketiga yang bekerja sama dengan Meta.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




