Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Kebanjiran Pengguna Baru, Ini Pendapat CEO Telegram Terkait Aturan WhatsApp

1 957

Baru-baru ini, pengguna aplikasi kirim pesan atau messenger diramaikan dengan berita baru terkait aturan data pengguna WhatsApp yang baru saja diganti oleh Facebook. Aturan tersebut bisa dinilai cukup meresahkan, terutama bagi mereka yang mengutamakan privasi. Alhasil, tak sedikit yang memutuskan untuk beralih ke Telegram.

Telegram adalah sebuah platform messenger milik Pavel Durov, berasal dari Rusia dan selalu mengutamakan data para penggunanya. Ia mengatakan bahwa data pengguna tidak akan dibagikan ke siapapun, hanya saja Telegram berencana untuk memberikan iklan agar bisa membiayai beban server. Namun begitu, iklannya diklaim bakal tak ganggu penggunaan, serta tidak muncul di kolom chat pribadi.

Tentunya masyarakat yang inginkan data lebih aman bakal langsung bermigrasi. Pasalnya, mulai 8 Februari 2021 nanti, pengguna WhatsApp tidak ada pilihan untuk membagikan sebagian informasinya untuk diolah Facebook maupun perusahaan lain dalam satu induk. Informasi yang diambil termasuk kode IP, jenis perangkat, nomor IMEI sampai kapan penggunanya online.

Baca juga: Duh! Mulai 8 Februari WhatsApp Bakal Bagikan Data Pengguna

Jumlah Unduhan Telegram Naik Pesat

Otomatis, tingkat unduhan aplikasi Telegram langsung meroket. Dilansir dari sebuah firma analisis data, Sensor Tower, dalam kurun waktu dua hari, terdapat dua aplikasi yang jumlah unduhannya naik drastis, yaitu Signal dan Telegram. Kalau Signal mencapai lebih dari 100 ribu pengguna, Telegram kini sudah mencapai 2,2 juta unduhan.

Meski nama Signal sempat viral (terutama sejak penemu Tesla, Elon Musk menyebutkannya dalam sebuah cuitan), pengguna mungkin lebih terasa familiar dengan Telegram. Lebih banyak teman atau kolega yang sudah menggunakannya, daripada Signal yang kemungkinannya jauh lebih sedikit, meski diklaim keamanan datanya lebih ketat lagi.

Sementara untuk WhatsApp, dalam minggu pertama 2021, jumlah unduhannya menurun hingga 11%, atau estimasi sekitar 10,5 juta unduhan secara global. Maka jangan kaget bila dalam beberapa hari atau pekan mendatang, bakal banyak muncul nama kontak lama yang berinformasikan bila mereka baru saja bergabung ke Telegram.

Founder Telegram: “Hormati Pengguna Anda”

Pavel Durov Telegram
Pavel Durov, CEO & founder Telegram. (Sumber: Bloomberg)

Sang penemu Telegram, Pavel Durov bisa dikatakan sedang dalam masa keemasannya. Selain terus mengirim meme lewat akun resmi di Twitter, ia juga baru saja mengunggah pendapatnya mengenai aturan baru WhatsApp yang membuat penggunanya berpindah platform ke yang lebih aman.

“Saya dengar Facebook memiliki seluruh departemen yang dikhususkan untuk mencari tahu mengapa Telegram begitu populer,” ujar Durov yang sepertinya memang gemar untuk beri tanggapan satir. “Saya dengan senang hati menghemat puluhan juta dollar untuk Facebook dan berikan rahasia kami secara gratis: hormati pengguna Anda.”

Durov menambahkan, kini WhatsApp bahkan bermain curang ketika mereka tak bisa menyaingi kualitas dan keamanan yang ditawarkan oleh Telegram. Salah satunya dengan gunakan bot berbayar untuk tambahkan informasi bias ke dalam artikel WhatsApp di Wikipedia.

Telegram Lebih Aman Dari WhatsApp?

Telegram video call

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana Telegram bisa dianggap lebih aman dari WhatsApp yang jauh lebih dulu populer. Durov menyebutkan, Telegram sudah berbentuk open source sejak tahun 2013, dan sistem enkripsi serta API-nya sudah diulas oleh mereka yang ahli dalam bidang keamanan beberapa kali.

Ketika ditanya asal Telegram, Durov tidak menanggapi klaim masyarakat bila asalnya dari Rusia. Namun ia menyebutkan bila Telegram tidak punya server maupun kantor di sana. Setiap pesan yang dikirim penggunanya selalu terenkripsi, dan penyimpanan cloud-nya di-handle sendiri. Berbeda dengan WhatsApp yang bekerja sama dengan pihak ketiga.

Telegram juga tidak mengiklankan aplikasinya di mana pun. Durov percaya bila masyarakat sudah cukup pintar dan bakal memilih yang terbaik untuk mereka. Dengan hampir tercapainya 500 juta pengguna, sepertinya pernyataan tersebut bisa dibilang valid.

Ke depannya, Telegram akan lakukan monetisasi dengan berikan iklan di grup besar atau channels, sementara obrolan pribadi maupun grup pribadi akan tetap bebas iklan. Serta menambahkan fitur-fitur premium berbayar yang mungkin bakal diminati oleh pengguna bisnis atau yang memang inginkan fitur lebih banyak.