Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Desa Kemuning dan Pangandaran Jadi Pilot Project Smart Village Nusantara

0 47

Demi mengembangkan potensi desa, digitalisasi dilakukan untuk percepatan akses, pelayanan publik dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Inilah yang dilakukan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi dengan meresmikan proyek Smart Village Nusantara yang berlokasi di Desa Kemuning, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Desa Kemuning merupakan salah satu pilot project (percontohan pengembangan) untuk Smart Village Nusantara. Desa lainnya adalah Pangandaran di Jawa Barat (Jabar). Proyek ini pada pelaksanaannya didukung oleh Telkom Indonesia bersinergi dengan perusahaan milik BUMN lainnya seperti LinkAja.

Dua desa tersebut terpilih setelah Telkom melakukan banyak eksplorasi dan analisis, social mapping, survey serta validasi. Kemudian menentukan desa mana yang tepat digunakan untuk pertama kalinya sebagai piloting Smart Village Nusantara dengan mempertimbangkan aspek Actor, Asset dan Arena.
Baca juga: Paket Bundling Smartphone Samsung dan Telkomsel Dukung Semangat Tetap Sekolah

Proyek Smart Village Nusantara

Smart Village Nusantara
Smart Village Nusantara (Foto: dok. Telkom)

Smart Village Nusantara merupakan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan kenyamanan, keamanan, efisiensi dan kemampuan kerja dalam memberikan pelayanan yang berkelanjutan di desa. Serta dapat meningkatkan kehidupan masyarakat desa khususnya pada aspek Tata Kelola, Tata Niaga dan Tata Sosial desa.

Berdasarkan informasi yang tercantum di laman smartvillagenusantara.id, ada sebanyak 1,6 juta usaha kecil mikro, koperasi dan bumdes yang berpotensi masuk ekonomi digital dengan nilai Rp2.200 Triliun Rupiah.
Keperluan e-commerce dari potensi tersebut bisa meningkatkan pendapatan hingga 4 kali lipat. Di sisi lain,  masih ada 13.577 desa dari 74.957 desa belum terjangkau sinyal internet.

Setidaknya ada empat solusi yang ditawarkan pada proyek Smart Village Nusantara ini, yaitu aspek tata sosial, aspek tata kelola, aspek tata niaga, dan aspek aspek pendukung. Secara teknis, ada beberapa program bantuan pada inkubasi ini.

Pertama, eWarga yaitu layanan sistem data warga pada lingkup desa yang terintegrasi dengan layanan lain pada Smart Village Nusantara. Kedua UCM, layanan akun yang dapat saling menghubungkan dan mengintegrasikan pada layanan lain. Ketiga, dasbor desa yang menampilkan grafik dan data dari profil desa dan kelurahan yang menerapkan Smart Village Nusantara. Keempat, eMonev, layanan monitoring dan evaluasi guna melaporkan perkembangan kegiatan suatu instansi. Kelima, sistem eLok yaitu digitalisasi proses karcis dan tiket wisata pada masing-masing area wisata. Selanjutnya portal utama, portal desa, dan elearning.

Edi Witjara, Direktur Enterprise & Business Telkom mengatakan Smart Village Nusantara merupakan dukungan Telkom terhadap pemerintah dalam membangun Indonesia dari potensi di desa. Menurutnya, pengembangan smart village di Indonesia dinilai dapat mendorong peningkatan aktivitas dan produktivitas ekonomi di desa-desa.

“Melalui Smart Village Nusantara, Telkom hadir mendukung pengembangan ekosistem desa digital demi ekonomi desa yang berkelanjutan. Diharapkan ke depannya masyarakat di desa memiliki adopsi digital yang semakin baik dan akrab dalam menggunakan teknologi digital dalam mendukung berbagai aktivitasnya,” ujar Edi, dalam keterangan tertulis (1/10).

Transaksi Digital dengan QRIS

Foto 1 - Budi Arie Setiadi (Wakil Menteri Desa PDTT) bertransaksi menggunakan LinkAja
Budi Arie Setiadi (Wakil Menteri Desa PDTT)

Pada kesempatan ini, LinkAja turut berpartisipasi dalam memberikan kemudahan, keamanan dan kenyamanan dalam bertransaksi warga Desa Kemunin. LinkAja dapat digunakan sebagai sumber dana di aplikasi Simpeldesa untuk berbagai pembayaran tagihan, pembayaran menggunakan QRIS di 74 merchant dan Pasar tradisional Mbatok, hingga pembayaran masuk tiket wisata Desa Kemuning.

Metode pembayaran yang digunakan pada ekosistem di Desa Kemuning telah menggunakan teknologi QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Sehingga memungkinkan para warga Desa Kemuning maupun para wisatawan untuk bertransaksi secara nontunai menggunakan beragam operator pembayaran digital.

Terdapat cashback menarik selama bulan Oktober 2020 bagi para pengunjung yakni sebesar 20% dengan maksimal nominal Rp 5,000 untuk melakukan transaksi masuk Desa Wisata, Pasar Mbatok, dan pembelanjaan di 74 merchant lokal menggunakan LinkAja.

Haryati Lawidjaja, Direktur Utama LinkAja mengatakan, pihaknya mengapresiasi inisiatif Telkom untuk memberdayakan dan meningkatkan ekonomi Desa yang berkelanjutan melalui upaya digitalisasi. “Kami harap kenyamanan dalam menggunakan LinkAja dapat menjadi pendorong kebiasaan masyarakat Desa Kemuning untuk semakin terbiasa bertransaksi secara nontunai, yang sangat diperlukan pada era pandemi saat ini,” ujarnya.

Hingga saat ini, Link Aja telah memiliki lebih dari 57.000.000 pengguna terdaftar dan telah dapat digunakan di lebih dari 600,000 merchant lokal dan lebih dari 280,000 merchant nasional di seluruh Indonesia, 134 moda transportasi, lebih dari 500 pasar tradisional, lebih dari 14,000 partner donasi digital, dan 1.600 e-commerce.