alexa

AwanTunai Raih Pendanaan US$56.2 Juta, Perkuat Pembiayaan Pedagang Grosir dan Eceran

Jakarta, Gizmologi – Startup fintech AwanTunai baru memperoleh dana US$56.2 Juta atau sebesar Rp804 miliar dalam Series A2 Funding Round. Pendanaan kepada perusahaan rintisan penyedia solusi bisnis untuk pedagang grosir dan eceran tradisional tersebut dibagi dalam dua jenis. Aksi korporasi ini dimaksud untuk mendukung bisnis fintech ini di Indonesia.

Rincian pendanaannya, pertama, pendanaan ekuitas segar senilai US$11.2 juta dari investor baru BRI Ventures dan OCBC NISP Ventura, serta partisipasi pendanaan dari investor yang telah ada, antara lain Insignia Ventures dan Global Brains. Kedua, Accial Capital dan Bank OCBC NISPmenyalurkan fasilitas pinjaman senilai lebih dari US$45 juta.

Keberhasilan penggalangan dana investasi di tengah pandemi Covid-19 ini dianggap bukti kepercayaan investor terhadap bisnis AwanTunai. Menurut Nicko Widjaja, CEO BRI Ventures, AwanTunai memiliki profil pelanggan yang serupa dengan Bank BRI. Dengan memberdayakan pedagang mikro, yang merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia, AwanTunai telah membantu usaha kecil mempertahankan dan mengembangkan usaha mereka dalam masa-masa yang sulit ini. “Kami berharap dapat berkolaborasi lebih lanjut dengan AwanTunai untuk menjangkau UMKM yang selama ini kurang dilayani,” ujar Nicko.

Baca juga: Valuasi Rp36 triliun, Kredivo Siap Melantai di Bursa AS Lewat Skema SPAC

Apa itu AwanTunai?

AwanTunaiAwanTunai adalah sebuah platform solusi bisnis bagi pedagang grosir dan eceran offline tradisional. Startup ini menyediakan digitalisasi pemesanan persediaan, pembayaran manajemen konsumen, dan dengan platform fintech berlisensi yang menyediakan pembiayaan pembelian persediaan bagi supplier FMCG dan pedagang mikro bahan pangan sehari-hari.

Aplikasi mobile pedagang mikro AwanToko memesan dan membiayai pembelian persediaan secara digital. Platform tersebut memungkinkan UMKM mikro Indonesia yang tidak memiliki akses perbankan untuk mengakses modal kerja institusional, dengan memfasilitasi bank mitra untuk mendanai UMKM mikro.

Pada awalnya, mereka menyediakan aplikasi cicilan tanpa kartu kredit yang bisa menjadi solusi bagi siapa saja yang membutuhkan pinjaman dana. Namun kemudian menjadi lebih fokus pada pembiayaan bagi pedagang grosir dan eceran offline tradisional. Salah satu produknya, yaitu AwanTempo saat ini telah memiliki ratusan pedagang kelontong dan puluhan supplier yang sudah bekerja sama di wilayah Jabodetabek, Bandung, Surabaya dan Bali.

Startup ini dirikan pada Mei 2017 oleh Dino Setiawan, Rama Notowigdo, dan Windy Natriavi.

Kinerja AwanTunai

AwanTunai
kiri-ka: Co-Founder Rama Notowidigdo, Chief Product Officer, Windy Natriavi dan Chief Executive Officer Dino Setiawan

Melalui platform fintech berlisensi, AwanTunai selain menyediakan layanan digitalisasi pemesanan persediaan pembayaraan dan manajemen konsumen untuk pedagang grosir dan eceran tradisional. Mereka juga menyediakan pembiayaan pembelian persediaan kepada supplier fast moving consumer goods (FMCG) dan pedagang mikro bahan pangan sehari-hari.

Pendanaan dalam series A2 akan digunakan untuk membiayai ekspansi dalam negeri. Tujuannya untuk meneruskan komitmen perusahaan dalam memajukan dan memberdayakan UMKM mikro Indonesia dengan menyediakan akses terjangkau dan cepat terhadap pembiayaan.

Dino Setiawan, Chief Executive Officer AwanTunai, mengatakan perusahaan sedang membangun infrastruktur data untuk digitalisasi transaksi pembelian persediaan offline. “Data tersebut efektif untuk manajemen risiko kredit dan membuka kesempatan bagi UMKM mikro yang sebelumnya minim akses agar dapat mengakses modal kerja yang berasal dari institusi perbankan mitra kami. Kami berharap AwanTunai menjadi platform yang membuat industri perbankan dapat menjangkau jutaan UMKM tradisional yang sebelumnya sulit memperoleh layanan,” ujar Dino Setiawan, dalam siaran pers yang diterima Gizmologi di Jakarta (27/8).

Hingga bulan Juni 2021, AwanTunai telah bekerja sama dengan lebih dari 160 mitra supplier untuk membantu pedagang grosir tradisional melakukan digitalisasi dan pembiayaan usaha mereka, serta menyediakan pembiayaan pembelian persediaan dan pemesanan online terintegrasi bagi konsumen warung UMKM mikro melalui aplikasi mobile AwanToko. Mereka telah melayani lebih dari 8.000 pedagang mikro sebagai pengguna, dengan peningkatan jumlah pengguna yang berasal dari kota tier 2 dan 3 di Indonesia.

UMKM mikro dapat membeli inventaris mereka secara online melalui aplikasi mobile AwanToko yang dapat mengakses pembiayaan terjangkau melalui proses sederhana mendaftar dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Tinggalkan komen