Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Satu-satunya dari Asia Tenggara, Halodoc Kembali Masuk Daftar Digital Health 150

0 95

Tidak dapat dipungkiri bahwa aplikasi penyedia layanan kesehatan semakin sering digunakan, terutama di masa sekarang ketika kita lebih memilih untuk memesan obat secara daring, daripada harus berkunjung ke apotek yang berisiko terpapar virus dalam perjalanan. Selain membeli obat, konsultasi dengan dokter pun bisa dilakukan secara daring.

Salah satu aplikasi lokal yang memungkinkan terjadinya kedua hal tersebut adalah Halodoc, dirancang dengan tujuan untuk memudahkan kita mendapatkan pelayanan kesehatan. Maka tak heran jika pada 13 Agustus lalu, CB Insights menobatkan Halodoc sebagai salah satu startup yang masuk ke dalam daftar Digital Health 150, bersaing dengan startup lain di seluruh dunia.

Sesuai dengan namanya, Digital Health 150 menampilkan 150 perusahaan kesehatan digital yang paling menjanjikan secara global, untuk hadirkan terobosan ke dalam layanan kesehatan tradisional. Dan ini adalah kali kedua untuk Halodoc secara berturut-turut, masuk ke dalam kategori Virtual Care Delivery pada ajang ini, dari total 12 kategori yang disediakan.

Halodoc Terpilih dalam Kategori Virtual Care Delivery

CB Insights Digital Health 150 2020
Daftar nama perusahaan kesehatan yang masuk ke dalam Digital Health 150 2020.

Kategori lainnya terdiri dari Clinical Trials hingga Drug Discovery dan Specialty Care. Sementara perusahaan-perusahaan startup yang tergabung atau masuk ke dalam daftar berasal dari berbagai macam negara, termasuk Kanada, Tiongkok, Israel, Perancis, Inggris dan Amerika Serikat. Tahun ini merupakan edisi dengan cakupan global paling luas yang mereka adakan.

Dari siaran pers yang Gizmologi terima di Jakarta (26/8), Anand Sanwal, CEO dari CB Insights memaparkan jika selain keberagaman lokasi, perusahaan-perusahaan yang ada di dalam daftar telah melahirkan inovasi di seluruh value chain layanan kesehatan. Mulai dari teknologi yang bermanfaat bagi perusahaan farmasi dan bioteknologi, sampai payers, rumah sakit, asuransi dan lainnya.

“Pemenang Digital Health 150 tahun lalu mendapat pengakuan dan berhasil mendapatkan total pendanaan hingga mencapai hampir USD 5 miliar. Kami tentu tak sabar ingin melihat pencapaian yang mungkin akan diraih oleh para pemenang di tahun ini,” tambah Anand.

Sementara itu, Jonathan Sudharta, CEO dan co-founder Halodoc menyampaikan rasa hormatnya karena telah Kembali masuk ke daftar Digital Health 150 dari CB Insights. “Pengakuan ini tentu menjadi motivasi bagi kami sebagai perusahaan rintisan karya anak bangksa, untuk terus berinovasi dalam memberikan kenyamanan akses kesehatan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Baca juga: Tangani Kesehatan Mental Anak, Halodoc Tambah 200 Psikolog Klinis

Menjadi Pembuktian Daya Saing Halodoc Secara Global

Halodoc

Ia menambahkan, lewat pencapaian ini, Halodoc berharap bisa menjadi inspirasi bagi ekosistem perusahaan rintisan lokal dalam meningkatkan daya saing, serta membuktikan bahwa Indonesia mampu berada di level yang sama dengan perusahaan global.

Halodoc menjadi satu-satunya perusahaan asal Asia Tenggara yang masuk dalam daftar Digital Health 150 untuk kategori Virtual Care Delivery pada tahun ini. Tim riset CB Insights sendiri menyeleksi perusahaan dari ratusan aplikasi yang masuk, mempertimbangkan banyak faktor seperti aktivitas paten, kualitas investor, analisis sentiment pemberitaan media, potensi pasar dan lainnya.

Selama empat tahun berkiprah, Halodoc terus konsisten berikan layanan telekonsultasi daring, pembelian dan pengantaran obat ke rumah, hingga pembuatan janji untuk rumah sakit dan layanan tes kesehatan. Halodoc juga telah dipercaya oleh Kementerian Kesehatan sebagai aplikasi kesehatan digital, khususnya untuk fitur Buat Janji Rapid Test, telah fasilitasi lebih dari 150 ribu tes Covid-19 hingga Juni 2020 lalu.