Jakarta, Gizmologi – Rey, startup yang mengembangkan insurance technology mengumumkan mendapatkan tambahan pendanaan sebesar 3,5 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp54,8 miliar untuk kurs saat ini. Pendanaan ini dimotori oleh beberapa investor baru, yaitu CyberAgent Capital, Arthazen Capital, dan PT Gametraco Tunggal. Hal ini disampaikan oleh CEO & Co-founder Rey, Evan Tanotogono.
Pendanaan yang diperoleh Rey ini, selain dari investor baru, juga diikuti kembali oleh semua investor Rey dari tahap sebelumnya. Para investor tersebut adalah Trans Pacific Technology Fund (TPTF), Genesia Ventures, dan Reycom Document Solusi (RDS).
Sebelumnya, setahun yang lalu mereka juga mendapatkan gelontoran dana, namun dengan angka yang sedikit lebih besar yaitu USD4,2 juta. Baca juga: Raih Pendanaan Rp62,3 Miliar, Startup Insurtech Rey Rilis Membership Kesehatan
Rey merupakan platform insurtech kesehatan yang bervisi mentransformasi proteksi kesehatan menjadi layanan kesehatan ujung ke ujung (Prevention to Protection Integrated). Visi ini diwujudkan Rey dengan meluncurkan Membership kesehatan untuk individu dan kumpulan yang diklaim mendisrupsi proteksi kesehatan dari berbagai aspek: holistik, terjangkau, serta pengalaman yang serba digital dan mudah. Hingga saat ini, layanan Rey telah digunakan oleh lebih dari 50 ribu orang dan di lebih dari 100 organisasi
Platform insurtech kesehatan Rey Siap lebarkan sayap

Rey juga berhasil menjaga Rasio klaim (claim loss ratio) produk asuransi yang diintegrasikan dengan Rey tercatat masih berada di sekitar 50%. Angka ini lebih rendah dari rasio klaim asuransi kesehatan konvensional yang pada semester 1-2024 dari data AAJI mencapai 105,7%. Sesifikasi produknya yang kompetitif serta premi belum pernah mengalami kenaikan sejak tahun 2022.
Rey juga tercatat sebagai salah satu perusahaan penyelenggara Inovasi Digital Kesehatan (IDK) dalam Regulatory Sandbox Kementerian Kesehatan 2024 pada September 2024. Sebelumnya, Rey yang adalah anggota kluster Insurtech dalam Asosiasi Fintech Indonesia juga telah menyelesaikan program Regulatory Sandbox Inovasi Keuangan Digital (IKD) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada paruh pertama tahun ini.
Kini, mereka melebarkan sayap guna turut mendukung transformasi industri asuransi kesehatan secara menyeluruh. Rey membantu perusahaan asuransi konvensional dari menghadirkan proteksi kesehatan yang sebelumnya sekadar sebuah polis menjadi sebuah end-to-end health solution dengan memanfaatkan teknologi, pendekatan, dan ekosistem yang telah dikembangkan serta diuji oleh Rey.
Inovasi yang dihadirkan Rey ini membawa angin segar bagi model administrasi pihak ketiga (TPA). Layanan TPA selama ini masih konvensional, cenderung administratif, dan transaksional hanya saat ada klaim kesehatan saja. Kini, dengan bantuan teknologi, ekosistem Rey menawarkan proposisi baru yang mengungguli model bisnis TPA konvensional. Melalui active health management, Rey menyediakan tidak sebatas layanan administrasi klaim, tetapi juga berfokus pada keterlibatan layanan kesehatan yang berkelanjutan baik secara preventif maupun kuratif.
Inovasi ekosistem Rey juga menjadi tawaran solusi untuk kondisi industri asuransi kesehatan yang saat ini tengah menghadapi tantangan serius karena memburuknya performa klaim.
“Di Rey, kami membangun ekosistem kesehatan holistik, dari telekesehatan sebagai primary care, ajudikasi klaim, dan care management hingga fitur kebugaran yang berfokus pada wellbeing pengguna sekaligus optimalisasi klaim. Kedua hal ini belum pernah menjadi prioritas bagi model TPA konvensional,” sebut Evan.
Menurut Evan, Rey melakukan inovasi di bidang kesehatan dengan memosisikan diri dari mindset dan perspektif penanggung/asuransi untuk membuktikan bahwa pendekatan integrasi kesehatan ujung ke ujung mampu mengoptimalkan rasio klaim (claim loss ratio). Pemanfaatan teknologi layanan kesehatan dari mindset yang tepat dapat memberikan dampak positif.
“Kami percaya bahwa penyediaan proteksi kesehatan dapat sustainable jika penanggungnya tidak dirugikan. Kami pun percaya tidak mungkin memecahkan masalah yang dihadapi penanggung kesehatan tanpa melakukan inovasi di bidang teknologi layanan kesehatan itu sendiri,“ imbuh Evan.
Rey terus berkomitmen menjadi pelopor inovasi di bidang kesehatan yang utamanya ditujukan bagi keberlanjutan asuransi dan pembiayaan kesehatan (health financing).
Kembangkan sistem pakar berbasis Generative AI
Salah satu terobosan yang sedang dikembangkan adalah pengembangan sistem pakar berbasis generative AI dan rekam medis elektronik (RME) untuk klaim dan underwriting kesehatan. Terobosan ini telah menjadikan Rey sebagai pionir di industri ini.
Teknologi generative AI dari Rey ini telah dipaparkan juga oleh Evan saat Indonesia Underwriting Summit 2024 yang diadakan oleh Perkumpulan Underwriting Jiwa Indonesia (PERUJI) pada bulan Agustus 2024. Teknologi tersebut mendapat respon positif dan telah diadopsi oleh beberapa perusahaan asuransi di Indonesia.
Tahun 2024 menjadi tahun yang sibuk bagi Rey. Selain mendapatkan pendanaan dan menjadi penyelenggara IDK Kemenkes dan menyelesaikan program Regulatory Sandbox IKD OJK, Rey juga meraih prestasi internasional dengan masuk sebagai Top 4 di ajang Fintech Elevator Pitch Competition di Hong Kong pada April 2024, dari lebih dari 600 startup dari 70 negara, setelah sebelumnya mewakili Indonesia di ajang Startup World Cup 2023.
“Kami bangga dengan sejumlah pencapaian yang sudah kami raih pada tahun 2024. Keberhasilan ini menjadi penyemangat bagi kami untuk lebih berinovasi pada tahun depan, yakni inovasi yang mengedepankan sustainabilitas proteksi kesehatan secara menyeluruh,” tutup Evan.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




