Jakarta, Gizmologi โ Sebuah upaya kolaboratif untuk mempercepat transformasi digital Indonesia diluncurkan hari ini dalam konferensi โIPv6 Enhanced Net5.5G Conference 2025โ di Jakarta (4/12). Konferensi ini mempertemukan pemerintah, asosiasi industri, operator, akademisi, serta penyedia teknologi dan pelaku sektor swasta lainnya untuk menyepakati sebuah strategi nasional dalam pengembangan konektivitas generasi berikutnya.
Di ajang tersebut, diluncurkan whitepaper โBuilding Indonesiaโs Connection Highway Based on IPv6 and Net5.5Gโ (Membangun Jalan Tol Konektivitas Indonesia Berbasis IPv6 dan Net5.5G). Whitepaper untuk mendorong perekonomian digital tersebut disusun bersama oleh BAPPENAS dan KOMDIGI.
Konferensi tersebut menyoroti bagaimana konektivitas gigabit berbasis IPv6 Enhanced dan Net5.5G menjadi katalis inovasi di tiga sektor utama. Pertama, Smart Home & Building untuk menciptakan lingkungan hidup dan kerja yang otomatis, efisien energi, dan nyaman. Kedua, Smart Office & Industry untuk meningkatkan produktivitas melalui kolaborasi cloud dan mengoptimalkan operasi dengan sistem manajemen cerdas. Ketiga, Smart Mobility & City untuk mengurangi kemacetan dan emisi melalui sistem transportasi cerdas dan terhubung.
Teguh Prasetya, Ketua Umum Asosiasi Internet of Things Indonesia (ASIOTI), dalam sambutannya menekankan bahwa dokumen ini merupakan cetak biru kolaboratif. โWhitepaper ini bukan sekadar dokumen teknis, melainkan fondasi bersama untuk masa depan konektivitas Indonesia. Kolaborasi erat antara pemerintah, asosiasi industri, dan penyedia teknologi adalah kunci membangun infrastruktur yang tangguh dan siap mendukung ledakan ekonomi digital berbasis IPv6 Enhanced Net5.5G,โ ujarnya.
Whitepaper Membangun Konektivitas Digital Indonesia

Dijelaskan lebih lanjut, whitepaper tersebut menguraikan urgensi strategis untuk mengadopsi teknologi IPv6 Enhanced Net5.5G guna mendorong perekonomian digital, memfasilitasi konektivitas Gigabit untuk mewujudkan Kota Cerdas, dan mendorong inovasi secara nasional. Di panggung global, industri tengah mengalami transisi untuk menetapkan IPv6 sebagai protokol internet utama pada 2030 guna mendukung ekosistem cloud-native dan berbasis AI.
Teguh melanjutkan, di Indonesia, saat ini penetrasi IPv6 telah mencapai 15.3% โ 16%. Pencapaian ini telah meletakkan dasar bagi pengalaman internet yang lebih stabil dan mendukung awal perkembangan ekosistem Internet of Things (IoT) di Tanah Air. Namun, untuk menghubungkan puluhan miliar perangkat cerdas di masa depan dan merevolusi layanan digital publik, percepatan adopsi harus terus dilakukan.
Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan Indonesia adalah mengakselerasi adopsi ini bersama teknologi pendukung dalam kerangka Enhanced IPv6 Net5.5G, seperti SRv6 Slicing, 400/800GE, dan Wi-Fi 7, serta memanfaatkan AI untuk mengelola jaringan yang otonom termasuk jaringan area luas (Wide Access Networks atau WAN), jaringan kampus (campus network), dan jaringan distribusi pusat data (Data Center Network atau DCN).
Menurut Teguh, transformasi digital Indonesia membutuhkan infrastruktur internet yang lebih cerdas, aman, dan efisien. Whitepaper yang disusun bersama berbagai pemangku kepentingan ini juga menetapkan timeline 2025โ2027 untuk akselerasi penerapan dual-stack dan strategi IPv6, serta 2027โ2030 untuk modernisasi jaringan menuju Net5.5G.
Ia juga mendorong regulator, operator, pelaku industri, dan pemerintah daerah untuk menerapkan rekomendasi tersebut secara nyata, karena yang dibutuhkan kini adalah eksekusi terkoordinasi agar Indonesia dapat menjadi bangsa digital yang kuat, inklusif, dan kompetitif secara global.
Transformasi digital mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia

Para pemangku kebijakan nasional menegaskan keselarasan inisiatif ini dengan sasaran yang ingin dicapai Indonesia. Dr. Vivi Yulaswati, Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ BAPPENAS, menyatakan, โTransformasi digital adalah mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju Visi 2045. Net5.5G dan IPv6 Enhanced adalah infrastruktur strategis yang akan mengakselerasi produktivitas nasional dan menciptakan lapangan kerja bernilai tinggi.โ
Saat ini, Indonesia merupakan pasar digital terbesar di Asia Tenggara, dengan proyeksi Gross Merchandise Value (GMV) mencapai 360 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp6 kuadriliun. Meski peluang di masa depan begitu besar, tantangan yang dihadapi juga signifikan.ย Salah satunya, adalah tingkat literasi digital Indonesia yang masih menduduki paling rendah di ASEAN, yaitu sekitar 62% dari rata-rata di kawasan adalah 70%. Selain itu, masih tingginya risiko kebocoran data, juga masih menjadi tantangan tersendiri.
Dari sisi regulasi, Raden Wijaya Kusumawardhana, Staf Ahli Bidang Sosial Ekonomi dan Budaya Kementerianย Komunikasi dan Digital (Komdigi), mengatakan, โMigrasi ke IPv6 Enhanced dan Net5.5G memberikan landasan untuk membangun arsitektur jaringan yang lebih aman secara native, yang krusial bagi kedaulatan data dan keamanan siber nasional.โ
Menurutnya, kehadiran teknologi Enhanced IPv6 dan Net 5.5G memiliki kemampuan untuk memperluas kapasitas jaringan lewat ruang alamat yang jauh lebih besar, peningkatan keandalan, serta kemampuan untuk mendukung aplikasi digital tingkat lanjut. Kombinasi keduanya juga membuka peluang besar bagi IoT dan ekonomi digital, terutama dalam hal pengelolaan data dan pertumbuhan layanan berbasis konektivitas.
โIndonesia menunjukkan perkembangan positif, dimana adopsi IPv6 naik dari 6% pada 2022 menjadi 16% pada 2024. Pemerintah menargetkan 31% adopsi pada 2030, namun masih menghadapi tantangan seperti rendahnya penetrasi 5G yang baru 4,4% populasi mengakses 5G/Net5.5G, serta kurangnya infrastruktur pemancar, keterbatasan perangkat, dan masalah alokasi spektrum,โ jelas Raden.
Di sisi lain, pemanfaatan 5G juga masih tertinggal secara regional, dengan kecepatan rata-rata 58,3 Mbps dan waktu penggunaan yang rendah. Namun potensi masa depannya tetap besar, dimana Net5.5G menawarkan latensi ultra rendah, jaringan lebih cerdas, dan dukungan penuh untuk smart city hingga kendaraan otonom. Wijaya pun menegaskan kehadiran teknologi IPv6 mampu membawa manfaat pada ekspansi IoT, keamanan jaringan, efisiensi routing, dan masa depan digital Indonesia.
Dukungan Pelaku Industri
Asosiasi Internet of Things Indonesia (ASIOTI) sebagai penyelenggara acara mendapat dengan dukungan penuh dari Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL), Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Universitas Indonesia, dan Telkom University (Tel-U).
Selaras dengan peta jalan nasional tersebut, Telkomsel, XLSMART dan Huawei mengumumkan peluncuran whitepaper bersama berjudul โNET5.5G AI WAN: Jaringan Transportasi IPโ, yang menguraikan kasus penggunaan praktis dan evolusi dari Net5.5G R1 ke R2 dengan integrasi AI.
Direktur Network Telkomsel, Indra Mardiatna menjelaskan, bagi para operator, adopsi IPv6 membawa peningkatan keamanan signifikan karena IPsec menjadi komponen wajib dalam arsitektur IPv6, dan memungkinkan enkripsi end-to-end. IPv6 juga menawarkan efisiensi performa dan biaya, salah satunya melalui pengurangan ketergantungan pada CGNAT yang sebelumnya menjadi bottleneck. โTelkomsel menegaskan, telah membangun fondasi IPv6 sebagai default yang kuat pada core, transport, dan layanan untuk mendukung Net5.5G dan teknologi masa depan,โ ujarnya.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



