Newscast (Tech News Podcast) adalah program eksperimental baru dari Gizmologi, yang dirancang untuk menyampaikan berita teknologi terkini secara cepat dan ringkas dalam format audio.
Gizmo: Kali ini kita bicara soal jaringan yang sudah diluncurkan empat tahun lalu tapi masih terasa seperti tamu baru di rumah sendiri.
Diva: Hari ini kita bahas laporan GSMA soal 5G Indonesia, mulai dari angka adopsi, kesenjangan penggunaan, hingga posisi kita dibanding kawasan Asia Pasifik.
Gizmo: Mari kita mulai dengan angka-angkanya.
Baca juga: GSMA: 5G Indonesia Masih 4%, Diproyeksi Tembus 28% pada 2030
GSMA: 5G Indonesia Baru 4%, Menuju 28% pada 2030
Diva: Pertanyaan besarnya sederhana: seberapa jauh sebenarnya Indonesia sudah melangkah menuju 5G, dan apa yang masih menahan laju transisi itu?
Gizmo: GSMA punya jawabannya, dan Julian Gorman dari GSMA merangkumnya begini: “Ekonomi dan masyarakat di seluruh kawasan semakin digital, dengan jaringan mobile menjadi fondasi bagi adopsi AI, digital trust, dan infrastruktur digital yang tangguh.”
Diva: Artinya jaringan bukan sekadar soal kecepatan unduhan — ini soal fondasi seluruh ekosistem digital. Dan di atas fondasi itu, Indonesia baru meletakkan 4% koneksi 5G dari total koneksi seluler pada 2025, sementara 4G masih memegang 92%.
Gizmo: Empat persen. Padahal 5G resmi diluncurkan sejak 2021. Itu bukan peluncuran yang lambat, itu peluncuran yang sedang menikmati pemandangan.
Diva: Proyeksinya memang lebih menjanjikan — 28% koneksi 5G pada 2030, dengan cakupan populasi naik dari 10% menjadi 32%. Tapi penting dicatat: cakupan jaringan dan porsi koneksi adalah dua metrik berbeda, dan keduanya punya ceritanya sendiri.
Gizmo: Betul. Dan cerita yang lebih menarik justru ada di sisi penggunaan. GSMA mencatat mobile broadband sudah menjangkau 98% populasi Indonesia — hampir semua orang sudah tinggal di wilayah berjaringan.
Diva: Namun masih ada usage gap sebesar 21% di kalangan penduduk dewasa. Mereka tinggal di wilayah yang tercakup jaringan, tapi belum menggunakan internet mobile. Faktor seperti keterjangkauan perangkat, keterampilan digital, dan kepercayaan terhadap layanan digital disebut sebagai bagian dari penyebabnya.
Diva: Lalu ada soal perangkat. Penetrasi smartphone Indonesia berada di kisaran 59% dari total populasi — sekitar 4 dari 10 penduduk belum menggunakan smartphone, meski angka ini perlu dibaca hati-hati karena basis hitungnya mencakup seluruh populasi termasuk anak-anak.
Mara: Di sisi infrastruktur, GSMA juga menyoroti kebijakan spektrum. Indonesia masuk dalam kelompok negara yang mengadopsi reserve price lebih konservatif dalam lelang spektrum, bersama Pakistan dan Vietnam. Biaya spektrum bisa memengaruhi kapasitas investasi jaringan operator ke depan.
Gizmo: Dan jika dibandingkan kawasan, proyeksi 28% Indonesia pada 2030 masih jauh di bawah rata-rata Asia Tenggara yang diperkirakan mencapai 43%. Pasar matang seperti Australia, Jepang, dan Korea Selatan bahkan diproyeksikan menembus 91%.
Diva: Kesenjangan itu menunjukkan transisi 5G di Asia Pasifik berjalan dengan kecepatan yang sangat berbeda-beda. Indonesia masuk kelompok “Leading Nations” versi GSMA bersama India dan Bangladesh — tapi label itu lebih menggambarkan skala pasar daripada kecepatan adopsi.
Gizmo: Jadi tantangannya bukan hanya membangun lebih banyak menara — tapi memastikan jaringan yang sudah ada benar-benar digunakan.
Diva: Lima tahun ke depan, Indonesia akan membuktikan apakah proyeksi 28% itu realistis — atau sekadar angka di atas kertas.
Gizmo: Jaringannya sudah hampir di mana-mana. Tinggal memastikan orang-orangnya ikut masuk ke dalamnya. Sampai jumpa di episode berikutnya.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

