Meta Muse, agen kecerdasan buatan (AI) personal buatan Meta sedang menjadi sorotan publik setelah seorang pengguna Facebook Marketplace mengaku alamat rumahnya dibagikan kepada calon pembeli tanpa sepengetahuannya.
Laporan tersebut datang dari kreator teknologi Matt Robb yang membagikan pengalamannya lewat Threads. Dalam unggahannya, Matt mengatakan seorang pembeli datang langsung ke rumahnya meski dirinya tidak mengetahui proses transaksi telah disepakati.
Tidak hanya bernegosiasi dengan calon pembeli, Meta Muse juga menyetujui harga lebih rendah dari yang diharapkan dan memberikan alamat rumahnya untuk mengambil barang.
Baca Juga: Nothing Headphone (1) Pro Meluncur! Bawa 3 Driver dan ANC 10 Mikrofon
“Agen AI memang mengesankan, sampai pada titik di mana mereka dengan penuh percaya diri memberikan alamat Anda kepada orang asing,” tulis Matt, sebagaimana dikutip dari akun Threads miliknya, Selasa (29/9/2026).
Meta Muse Atur Proses Pikup di Rumah Tanpa Sepengetahuan Pengguna
Berdasarkan tangkapan layar yang dibagikan Robb, Muse kemudian mengirimkan pesan yang mengakui adanya masalah dalam proses pickup tersebut. Agen AI itu menjelaskan, calon pembeli telah beberapa kali menghubungi saat menunggu di lokasi.
Meta Muse juga meminta maaf karena tidak memberi tahu pemilik akun bahwa ada seseorang yang datang untuk mengambil barang. Dalam percakapan yang sama, Muse disebut telah mengirimkan permintaan maaf kepada calon pembeli menggunakan akun pengguna.
AI tersebut juga mengusulkan perubahan pada sistem balasan otomatis agar tidak lagi mengasumsikan pemilik akun berada di rumah ketika informasi tersebut tidak dapat diverifikasi.
Dari Mana Meta Muse Dapatkan Alamat

Salah satu pertanyaan terbesar dalam kasus ini adalah bagaimana Muse memperoleh alamat rumah pengguna tersebut. Hingga saat ini belum ada penjelasan resmi yang menjelaskan apakah alamat berasal dari data Marketplace, informasi akun pengguna, atau sumber lain yang dapat diakses oleh AI agent tersebut.
Meta juga belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut saat berbagai media mulai memberitakannya. Karena itu, belum dapat dipastikan apakah kasus ini merupakan bug, konsekuensi dari konfigurasi tertentu, atau masalah yang lebih luas dalam sistem agen AI milik Meta.
Sorotan Baru untuk AI Agent

Kasus ini muncul tidak lama setelah Muse mendapat perhatian terkait isu privasi lainnya. Pekan lalu, laporan terpisah menyoroti dugaan bahwa Muse memiliki akses ke pesan pribadi pengguna lebih luas daripada yang diperkirakan sebagian pengguna.
Temuan tersebut memicu pertanyaan mengenai transparansi akses data yang dimiliki AI agent. Saat memperkenalkan Muse, Meta menyebut layanan tersebut dirancang sebagai AI agent yang aman, privat, dan dapat digunakan secara luas.
Meski begitu, kasus terbaru ini menunjukkan tantangan yang dihadapi pengembang AI agent ketika sistem tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga mengambil tindakan atas nama pengguna.
Bagi pengguna, insiden seperti ini menjadi pengingat bahwa AI agent tidak hanya membawa potensi otomatisasi yang lebih besar, tetapi juga risiko baru ketika diberi akses untuk berinteraksi dengan orang lain dan membuat keputusan di dunia nyata.
Apa Itu Muse, Personal AI Agent yang Diciptakan oleh Meta

Meta resmi memperkenalkan Muse, personal AI agent yang dirancang bukan sekadar untuk menjawab pertanyaan, tetapi juga mengerjakan berbagai tugas atas arahan pengguna. Berbeda dari chatbot konvensional, Muse dapat menyusun rencana, menjalankan tugas secara mandiri, serta kembali meminta persetujuan ketika membutuhkan keputusan pengguna. Untuk tahap awal, Muse tersedia di Amerika Serikat melalui aplikasi khusus dan WhatsApp.
Muse dapat menangani berbagai pekerjaan digital, mulai dari mengirim email, mengisi formulir, memesan perjalanan atau janji temu, hingga melakukan pembelian. Sistem ini juga dapat terus bekerja setelah pengguna menutup aplikasi dan kembali ketika terjadi perubahan atau ketika persetujuan diperlukan. Kemampuan tersebut ditopang Muse Spark, model AI yang dikembangkan Meta untuk menangani pekerjaan agentic dan penggunaan berbagai tools.
Di balik kemampuan tersebut, Meta menempatkan keamanan sebagai salah satu fondasi Muse. Sistem berjalan melalui Muse Secure VM, yaitu komputer virtual khusus dengan browser sendiri dan lingkungan yang terisolasi. Meta juga menggunakan agen keamanan bernama Sentinel untuk mengawasi akses Muse ke internet. Meski begitu, memberikan AI akses ke email, kalender, belanja, dan berbagai data pribadi tetap menghadirkan risiko baru, terutama ketika agen diberi kemampuan untuk mengambil tindakan secara mandiri.
Bukan Sekadar Chatbot

Salah satu perbedaan utama Muse terletak pada cara kerjanya. Pengguna cukup memberikan tujuan melalui percakapan, kemudian Muse dapat memecahnya menjadi sejumlah langkah dan menjalankannya. Pengguna juga dapat menghubungkan layanan seperti email, kalender, dan Instagram sehingga agen memiliki konteks yang lebih luas untuk menyelesaikan tugas.
Muse bahkan dirancang untuk bersikap proaktif. Jika mengetahui tujuan dan kebiasaan pengguna, sistem dapat memberikan saran atau menyusun langkah berikutnya tanpa harus selalu menunggu perintah baru. Konsep ini membuat AI bergeser dari sekadar alat untuk mencari informasi menjadi semacam asisten digital yang terus bekerja di belakang layar.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

