Jakarta, Gizmologi – Sejak awal tahun 2026, produsen smartphone berlomba untuk hadirkan flagship dengan kualitas kamera terbaik, termasuk menggunakan sensor kamera kustom demi mencapai hasil yang sempurna. Sony sebagai salah satu produsen utama sensor kamera smartphone, baru saja mengumumkan kehadiran seri LYTIA L910. Di mana huruf “L” di belakang angka, menyatakan teknologi yang akhirnya disematkan pertama kali pada sebuah sensor Sony, yakni LOFIC.
LOFIC sendiri merupakan singkatan dari Lateral Overfllow Integration Capacitor. Dan di Indonesia sendiri, flagship resmi satu-satunya yang sudah mengusung sensor dengan teknologi tersebut, hanya Xiaomi 17 Ultra yang berkolaborasi bersama Leica dan mengusung sensor kustom rilisan Omnivision. Di mana teknologi tersebut mampu menjawab sejumlah tantangan yang umumnya kerap ditemukan pada kamera smartphone, yakni skenario pencahayaan yang menantang.
Sebelum Xiaomi sendiri, HONOR juga sempat merilis smartphone bersensor LOFIC, lewat seri Magic6 Ultimate rilisan 2024 silam. Sementara itu, setelah Xiaomi, Motorola juga hadirkan sebuah smartphone lipat dengan teknologi LOFIC pertama. Menandakan bila ke depannya penyematan teknologi satu ini bakal lebih masif, demi hasil foto dan video lebih akurat serta konsisten dari berbagai kondisi pencahayaan.
Baca juga: Sony Alpha 7R VI Resmi Hadir, Kamera Resolusi Tinggi yang Kini Semakin Serius untuk Hybrid Creator
Dua Teknologi Andalan Sony LYTIA L910

Sensor Sony LYTIA L910 sendiri tetap berukuran 1/1,28 inci seperti generasi sensor kelas flagship sebelumnya, beresolusi 50MP, dan menggunakan filter berjenis Quad Bayer—memberikan ukuran piksel individu sebesar 1,22 mikron piksel. Meski dimensinya masih sama, sejumlah teknologi baru termasuk LOFIC membuat sensor Sony terbaru satu ini bisa lebih diandalkan dalam menangkap momen baik dalam bentuk foto maupun video.
Berkat penyematan LOFIC, Sony LYTIA L910 mampu menangkap momen dengan dynamic range hingga 100dB dalam satu bingkai atau eksposur. Angka tersebut bisa dibilang impresif, mengingat sensor Sony sebelumnya seperti LYTIA 901 maupun LYTIA 828 memerlukan pemrosesan multi-frame untuk mendapatkan dynamic range dalam nilai yang sama. Dampaknya? Karena bisa diraih dalam proses yang jauh lebih singkat, efek seperti motion artifacts dapat teratasi—umumnya muncul pada gambar dengan multi-frame HDR.

Salah satu hal yang memungkinkan sensor LYTIA L910 bisa menangkap rentang dinamis superior dalam waktu singkat, yakni berkat dukungan Triple Conversion Gain (TCG), di mana masing-masing piksel melakukan proses read tiga kali, dengan conversion gain pada tingkat low, mid, dan high. Semua inovasi pada sensor ini, diklaim meningkatkan noise reduction lebih dari 30% dibandingkan sensor standar tanpa teknologi LOFIC maupun TCG.
Sony juga menjelaskan benefit dari penggunaan sejumlah teknologi baru tersebut pada sensor LYTIA L910 terbarunya. Selain bisa menangkap eksposur yang pas pada pencahayaan menantang seperti sunset hingga backlit, juga mengurangi efek motion blur saat menangkap obyek gerak cepat. Dan berkat tidak diperlukannya pemrosesan multi-frame, konsumsi daya bisa dibuat lebih efisien. Yang tentunya bakal berdampak positif pada daya tahan baterai smartphone.
Flagship vivo Siap Integrasikan Lebih Dulu?
Sensor Sony LYTIA L910 juga disebut mampu menangkap foto beresolusi 12.5MP hingga 120fps pada mode burst, atau dalam resolusi 50MP hingga 30fps. Bagaimana dengan video? Smartphone yang mengusung sensor satu ini bakal mendukung mode perekaman 4K HDR dalam 60fps.
Lantas kapan Gizmo friends dapat menjajal secara langsung kebolehan sensor LYTIA L910? Disebutkan bila Sony siap mengintegrasikan sensor terbarunya ke smartphone mulai musim panas mendatang. Sementara itu, sejumlah rumor mulai sebutkan bila vivo X500 Series siap mengusung sensor tersebut.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



