Jakarta, Gizmologi – Video Game History Foundation (VGHF) angkat suara terkait hilangnya produksi game fisik di masa depan. Mengingat, Sony juga sudah terang-terangan mengonfirmasi hal tersebut, sehingga membuat publik cukup terkejut. Beberapa rumor juga mengatakan bahwa perusahaan seperti Xbox dan Nintendo juga akan ikut tren serupa
Melalui pernyataan resminya, organisasi yang fokus pada pelestarian sejarah video game tersebut menilai bahwa hilangnya media fisik bukan hanya persoalan distribusi, tetapi juga menyangkut masa depan preservasi game. Menurut mereka, industri saat ini belum memiliki solusi yang benar-benar efektif untuk memastikan game modern tetap dapat diakses puluhan tahun ke depan.

Meski demikian, VGHF juga mengakui bahwa tantangan preservasi game sebenarnya sudah muncul jauh sebelum media fisik mulai ditinggalkan. Dalam dua dekade terakhir, banyak game modern bergantung pada server online, pembaruan hari pertama, hingga layanan digital yang membuat kepingan disk bukan lagi representasi utuh dari pengalaman bermain yang sebenarnya.
Baca Juga: Sony Playstation Tidak Lagi Produksi Game Fisik, Bentuk Efisiensi?
Media Fisik Bukan Lagi Jaminan Pelestarian Game

Dalam pernyataannya, VGHF menjelaskan bahwa banyak game yang dirilis dalam format fisik tetap membutuhkan pembaruan digital sejak hari pertama peluncuran. Akibatnya, disk yang disimpan oleh kolektor maupun museum belum tentu berisi versi permainan yang sama dengan yang dimainkan oleh mayoritas pengguna.
Organisasi tersebut bahkan menyebut bahwa sebagian besar game yang dirilis dalam dua dekade terakhir tidak dirancang khusus untuk konsol rumahan dengan distribusi fisik. Kondisi ini membuat proses pelestarian game semakin kompleks karena bergantung pada infrastruktur digital yang sewaktu-waktu dapat dihentikan oleh pemilik platform.
Dari sudut pandang industri, distribusi digital memang menawarkan efisiensi yang lebih tinggi. Publisher dapat memangkas biaya produksi, distribusi, hingga logistik. Selain itu, pembaruan konten juga bisa dilakukan lebih cepat tanpa perlu mencetak ulang media fisik.
Desak Industri Cari Solusi Jangka Panjang

VGHF menilai masalah terbesar bukan sekadar hilangnya cakram fisik, melainkan belum adanya mekanisme yang jelas untuk melestarikan game digital secara legal. Mereka meminta perusahaan game, pemilik platform, hingga asosiasi industri untuk duduk bersama mencari solusi yang dapat digunakan oleh museum, arsip, dan peneliti di masa depan.
Organisasi tersebut juga menyoroti bahwa berbagai upaya reformasi hukum terkait preservasi game digital selama ini sering mendapat penolakan dari kelompok industri. Salah satu yang disorot adalah Entertainment Software Association (ESA), yang disebut beberapa kali menentang perubahan regulasi yang dapat mempermudah proses pelestarian konten digital.
Perdebatan ini menunjukkan bahwa masa depan game tidak hanya soal bagaimana pemain membeli sebuah judul, tetapi juga bagaimana industri memastikan karya-karya tersebut tetap dapat diakses dan dipelajari puluhan tahun mendatang. Seiring semakin dominannya distribusi digital, isu preservasi kemungkinan akan menjadi salah satu topik yang semakin sering dibahas dalam beberapa tahun ke depan.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

