Jakarta, Gizmologi – Piala Dunia 2026 akan menghadirkan berbagai inovasi teknologi, tidak hanya dari sisi siaran maupun sistem perwasitan, tetapi juga melalui bola resmi Adidas Trionda yang digunakan di lapangan. Ini merupakan bola resmi yang digunakan oleh FIFA untuk semua pertandingan di Piala Dunia 2026 yang kini sedang bergulir.
Sekilas, Adidas Trionda mungkin terlihat seperti bola sepak biasa. Namun di balik lapisan luarnya, terdapat sistem elektronik yang mampu merekam berbagai data pergerakan bola secara real-time. Teknologi ini menjadi bagian dari upaya FIFA untuk meningkatkan akurasi keputusan wasit, khususnya dalam situasi yang melibatkan offside maupun gol kontroversial.
Menariknya, kehadiran sensor tersebut membuat Trionda menjadi salah satu bola sepak pertama yang memerlukan proses pengisian daya secara rutin sebelum digunakan. Sebelum kick-off, bola harus ditempatkan di docking station khusus agar seluruh sistem di dalamnya dapat beroperasi dengan optimal selama pertandingan berlangsung.
Baca Juga: Cara Nonton Piala Dunia 2026 di Indonesia, dari TV Gratis hingga Streaming Online
Sensor di Dalam Bola Rekam Data 500 Kali per Detik

Jantung utama Adidas Trionda terletak pada sensor Inertial Measurement Unit (IMU) seberat sekitar 14 gram yang ditempatkan tepat di bagian tengah bola. Sensor ini mampu merekam berbagai informasi seperti kecepatan, arah gerakan, putaran, hingga lintasan bola sebanyak 500 kali per detik.
Data tersebut kemudian dikirim secara real-time dan dipadukan dengan jaringan kamera pelacak yang terpasang di stadion. Kombinasi kedua sistem ini memungkinkan teknologi semi-automated offside bekerja lebih cepat dan akurat. Wasit VAR dapat mengetahui momen tepat ketika bola disentuh pemain, sehingga proses pengecekan offside tidak lagi hanya mengandalkan visual dari tayangan ulang.
Tetap Terasa Seperti Bola Sepak Biasa

Meski mengusung teknologi canggih, Adidas menegaskan bahwa karakteristik permainan Trionda tetap dirancang agar terasa natural bagi para pemain. Sensor ditempatkan menggunakan sistem suspensi khusus sehingga tidak memengaruhi distribusi berat, pantulan, maupun aerodinamika bola saat digunakan di lapangan.
Namun di sisi lain, kehadiran komponen elektronik juga membawa konsekuensi baru. Bola harus diisi daya selama sekitar 90 menit sebelum pertandingan untuk menghasilkan daya tahan baterai hingga enam jam penggunaan aktif. Ketergantungan pada sistem elektronik ini tentu menambah aspek operasional yang sebelumnya tidak ditemukan pada bola sepak konvensional. Meski demikian, jika teknologi tersebut mampu membantu menghasilkan keputusan yang lebih cepat dan akurat, Adidas Trionda berpotensi menjadi salah satu inovasi paling menarik yang hadir di Piala Dunia 2026.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

