Jakarta, Gizmologi – Apple kembali jadi sorotan, kali ini bukan soal inovasi fitur, tapi strategi harga. Di tengah krisis RAM global yang mulai berdampak ke berbagai industri, laporan terbaru menyebut Apple justru tidak akan terlalu terpengaruh, setidaknya dari sisi harga awal produknya.
Menurut analis Jeff Pu, Apple disebut tengah menyiapkan strategi “aggressive pricing” untuk iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max. Menariknya, istilah agresif di sini bukan berarti murah, melainkan lebih ke pendekatan yang cerdas dalam menjaga persepsi harga di mata konsumen.
Ini jadi cukup kontras dengan kondisi pasar saat ini. Banyak vendor diprediksi akan menaikkan harga perangkat karena biaya komponen terutama RAM yang semakin tinggi. Apple tampaknya memilih pendekatan berbeda.
Baca Juga: Apple Hentikan Mac Mini M4 256GB, Basis Storage Kini Naik Jadi 512GB
Harga Dasar Tetap, Tapi Ada “Catch”-nya

Jika rumor sebelumnya akurat, kemungkinan akan mempertahankan harga awal iPhone 18 Pro di kisaran yang sama dengan generasi sebelumnya. Di pasar AS, angka tersebut berada di $1.099 untuk model Pro dan $1.199 untuk Pro Max.
Di atas kertas, ini terdengar seperti kabar baik. Konsumen melihat harga “mulai dari” yang tidak berubah, memberi kesan bahwa Apple tidak menaikkan harga di tengah kondisi pasar yang sulit.
Namun, ada sisi lain yang perlu diperhatikan. Strategi ini kemungkinan besar hanya berlaku untuk varian dasar. Untuk konfigurasi dengan kapasitas RAM atau storage lebih tinggi, kenaikan harga tetap berpotensi terjadi. Dengan kata lain, Apple bisa saja “menyembunyikan” kenaikan biaya di varian yang lebih premium.
Efektif atau Justru Berisiko?
Pendekatan ini bukan hal baru bagi perusahaan yang bermarkas di Cupertino, Amerika Serikat. Menjaga harga entry tetap stabil sambil menaikkan harga opsi upgrade sudah sering dilakukan, terutama saat biaya produksi meningkat.
Di satu sisi, strategi ini efektif secara marketing. Banyak konsumen hanya melihat harga awal tanpa terlalu memperhatikan konfigurasi lebih tinggi. Ini membantu Apple menjaga daya tarik produknya di headline.
Namun di sisi lain, pengguna yang benar-benar membutuhkan spesifikasi lebih tinggi—misalnya untuk kebutuhan profesional, akan tetap merasakan dampak kenaikan harga. Ditambah lagi, jika krisis RAM terus berlanjut, selisih harga antar varian bisa semakin jauh.
Pada akhirnya, strategi ini bisa jadi solusi jangka pendek yang cerdas. Tapi keberhasilannya tetap bergantung pada bagaimana Apple menyeimbangkan antara persepsi harga dan value yang benar-benar diterima pengguna.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



